REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
26/01/2018
Selamat Jalan, Bung Amir!
Sebuah obituari untuk Amir Effendi Siregar (1950-2018), tokoh penting dalam upaya demokratisasi penyiaran Indonesia.
26/01/2018
Selamat Jalan, Bung Amir!
Sebuah obituari untuk Amir Effendi Siregar (1950-2018), tokoh penting dalam upaya demokratisasi penyiaran Indonesia.

Kabar duka datang dari Jogjakarta, pagi kemarin (25/01/18). Amir Affendi Siregar, tokoh Pers dan penyiaran yang dikenal gigih membela kepentingan publik dalam regulasi penyiaran, tutup usia pukul 04.00 WIB. Kepergian Bung Amir, sapaan akrabnya, adalah kehilangan besar bagi perjuangan demokratisasi penyiaran. Semoga ingatan dan semangat juangnya akan terus menginsprasi mereka yang ia tinggalkan.

Bung Amir meninggal setelah kurang lebih dua tahun berjuang melawan tumor otak yang dideritanya. Semasa hidup, Bung Amir adalah pribadi yang telah menorehkan banyak karya dalam upaya memperjuangkan demokratisasi penyiaran. Melalui organisasi yang dibentuknya, PR2Media (Pemantau Regulasi dan Regulator Media), Bung Amir adalah motor utama advokasi Undang-Undang Penyiaran sekaligus pakar yang membidani lahirnya banyak penelitian yang jadi bekal advokasi bagi aktivis penyiaran,  seperti, “Dominasi TV Swasta Nasional”, “Membangun Sistem Komunikasi Indonesia”, “Kinerja Regulator Penyiaran Indonesia” dan banyak lainnya.  

Karena keahlian dan komitmennya dalam memperjuangkan demokratisasi media, pada 2011-2013 ia bersama beberapa tokoh lainnya diminta oleh DPR untuk menjadi tim ahli pendamping dalam revisi UU Penyiaran.  Kala itu, lazim diketahui bahwa terdapat dua kubu dalam tim ahli. Kubu pertama dikenal sebagai kubu pro-publik dan kubu kedua disebut kubu pro-industri. Bersama Ade Armando dan Paulus Widyanto, Bung Amir berada di kubu pro-publik yang dengan lantang  mendorong diadopsinya agenda publik dalam penyiaran, seperti pelarangan monopoli kepemilikan media penyiaran, penguatan kewenangan regulator penyiaran, keadilan informasi daerah dan pusat, serta banyak hal lainnya. Sayangnya, proses politik di DPR membuat pembahasan tersebut buntu dan UU Penyiaran pun urung direvisi.

Geliat dosen komunikasi di Universitas Islam Indonesia ini tidak berhenti seiring selesainya masa jabatan sebagai tim Ahli DPR. Bersama puluhan Lembaga Swadaya Masyarakat, Remotivi di antaranya, ia menjadi motor dari KIDP (Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran), SIKA (Sahabat Untuk Informasi dan  Komunikasi yang Adil) dan kemudian KNRP (Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran).Bung Amir terus mengawal dan memperjuangkan lahirnya UU Penyiaran pro-publik.

Terlepas dari rekam jejaknya dalam berbagai organisasi, kami mengenalnya sebagai pribadi yang hangat dan santun. Salah satu yang kami ingat dari pribadi Bung Amir adalah keengganannya untuk dipanggil dengan panggilan yang “menuakan”.Ia lebih senang dipanggil “bung”, bahkan oleh kami yang jauh lebih junior darinya. Pada salah satu dari kami, ia pernah bercerita bahwa ia meminta cucunya sendiri untuk memanggilnya “bung”. Suatu hal yang tentu tak lazim bagi banyak dari kita, namun itulah Amir Effendi yang kami kenal. Kesetaraan baginya bukan cuma cita-cita, melainkan praktik keseharian.

Dalam nada yang setengah bercanda,  tanpa ia ketahui, kami memanggilnya “ayah”. Sebutan ini kami pakai karena kami menilai bahwa dalam berbagai gerakan masyarakat sipil menuntut demokratisasi penyiaran, ia adalah figur yang sangat dihormati, pandangan-pandangannya didengar dan idenya di adopsi. Ia serupa “ayah ideologis” dalam gerakan kami. 

Beberapa tahun terakhir, sebelum mulai sakit pada 2016, Bung Amir yang berdomisili di Jogja tidak segan untuk pulang pergi Jogjakarta-Jakarta untuk mengisi diskusi atau menghadiri rapat-rapat koalisi. Tentu beratnya agenda tersebut membuatnya kelelahan. Suatu hari Direktur kami, Muhamad Heychael pernah bertanya padanya, “Bung, apa kagak cape’? Bung kan lagi sakit.”Ia pun menjawab, “Justru kalau ga begini aku sakit, Kal.” Kini Bung Amir telah istirahat sepenuhnya.

Selamat jalan, Bung! Istirahatlah yang tenang, kini giliran kami melanjutkan apa yang sudah Bung mulai. []

 

Bacaan Terkait
Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Amplop untuk Jurnalis
LGBT dalam Media Indonesia