Pengurus Remotivi, Bogor, 17 Maret 2015. Foto: Willy Souw
Pengurus Remotivi, Bogor, 17 Maret 2015. Foto: Willy Souw
01/04/2015
Direktur Baru, Arah Baru
Muhamad Heychael terpilih sebagai Direktur Remotivi yang baru.
01/04/2015
Direktur Baru, Arah Baru
Muhamad Heychael terpilih sebagai Direktur Remotivi yang baru.

Ada perubahan yang signifikan dalam struktur organisasi kami hari ini. Roy Thaniago, Direktur Remotivi sejak 2010, mengakhiri masa jabatannya. Adalah Muhamad Heychael, yang sebelumnya berposisi sebagai Koordinator Divisi Penelitian, yang terpilih untuk menahkodai Remotivi. Heychael, yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Multimedia Nusantara, akan menjabat sampai 2018.

Pergantian ini adalah hasil dari rapat dan evaluasi kerja yang kami adakan 15-17 Maret lalu di Desa Tajur Halang, Bogor. Selama tiga hari kami “bertapa” di dataran tinggi Jawa Barat untuk merancang rencana kerja organisasi tiga tahun ke depan. Banyak yang jadi bahan pembicaraan—dari struktur, metode kerja, keanggotaan, hingga ketahanan finansial organisasi. Namun, luasnya pembicaraan itu mengerucut dalam satu tema: membangun sistem.

Setelah turun gunung, kami merasa seperti telah menjadi organisasi yang berbeda.

Sejak awal berdiri, kami memposisikan diri sebagai kelompok penekan terkait kebijakan media penyiaran. Dengan posisi demikian, riset-riset, tulisan-tulisan, dan berbagai kampanye yang kami lakukan selama ini berada dalam kerangka untuk melakukan proses advokasi.

Dalam perkembangannya, kami merasa proses advokasi semata tidak cukup. Untuk menjawab problem media di Indonesia dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan sistematis—apalagi di tengah minimnya studi-studi media di Indonesia yang digarap secara serius. Dalam ihwal konglomerasi kepemilikan media, misalnya, banyak riset yang sudah dikerjakan namun studi-studi yang lebih mendalam selalu perlu dikerjakan.

Karena itulah kami merasa perlu untuk sedikit menggeser fokus dengan lebih banyak memberikan perhatian pada studi media. Dengan pergeseran fokus ini, ke depan Remotivi akan lebih banyak melakukan riset-riset media secara umum, tidak terbatas pada televisi. Kecenderungan konsentrasi kepemilikan media serta konvergensi media yang multi-platform membutuhkan riset yang juga multi-platform untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam. Kerja-kerja advokasi tentu tetap kami lakukan, meski tidak akan seintens lima tahun belakangan.

Keputusan tersebut berimplikasi pada perampingan organisasi. Sebelumnya, Remotivi memiliki tiga divisi yaitu Media (remotivi.or.id), Penelitian, serta Advokasi dan Kampanye. Kami memutuskan untuk melebur Divisi Media dan Penelitian menjadi satu divisi, yakni DIvisi Riset dan Media. Tugas divisi ini bukan hanya memproduksi tulisan-tulisan di daringremotivi.or.id, melainkan juga melakukan riset-riset mengenai media di Indonesia. Peleburan ini dilakukan untuk membuat kerja lebih fokus dan sinergis. Dengan demikian saat ini Remotivi hanya terdiri dari dua divisi: “Riset dan Media” dan “Advokasi dan Kampanye”.

Sebagai langkah awal untuk mengarusutamakan ihwal studi media pada khalayak yang lebih luas, kami berencana menerbitkan buku kumpulan tulisan yang sudah diterbitkan di daringremotivi.or.id. Kami berharap buku ini bisa memperkaya wacana mengenai media dan menjadi awal untuk membincangkan studi media di Indonesia lebih jauh. Buku ini akan terbit dalam waktu dekat ini. 

Di luar masalah-masalah serius yang menjadi kerja utama, kami juga mendiskusikan masalah yang sebenarnya tak kalah penting: pendanaan. Selama ini, selain dari hasil bisnis organisasi dan “bantingan” dari anggota organisasi, mayoritas kegiatan kami dibiayai oleh sejumlah lembaga donor, yakni Yayasan Tifa, Hivos, dan Cipta Media Seluler. Namun kami berpendapat bahwa kami perlu menjadi lembaga yang lebih mandiri dan tidak hanya bergantung pada lembaga donor.\

Untuk itulah kami sedang mercancang beberapa opsi yang mungkin bagi pendanaan alternatif. Selain menyiapkan unit usaha yang keuntungannya untuk membiayai Remotivi, kami ingin melibatkan publik dalam mendukung kerja-kerja kami. Dengan pertimbangan inilah kami berencana untuk membuka donasi publik. Kami masih menyiapkan bagaimana teknis timbal balik, pengelolaan, serta pelaporan donasi tersebut.

Dengan segenap perubahan ini, kami berharap kerja-kerja kami dalam mengembangkan pemahaman serta wacana tentang media jadi lebih efektif dan bernapas panjang. Pada titik inilah kami membutuhkan Anda. []

Bacaan Terkait
Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Ketika Rosi Izinkan Gatot Nurmantyo Menyebar Disinformasi
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Peluit Anjing Anies Baswedan
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia