07/06/2016
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Surat terbuka Remotivi atas sinetron “Anak Jalanan” . Sinetron tersebut penuh dengan kekerasan fisik maupun verbal. Dua kali sanksi KPI tak juga menimbulkan efek jera.
07/06/2016
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Surat terbuka Remotivi atas sinetron “Anak Jalanan” . Sinetron tersebut penuh dengan kekerasan fisik maupun verbal. Dua kali sanksi KPI tak juga menimbulkan efek jera.

“Anak Jalanan” (AJ) merupakan sinetron dengan klasifikasi “R-BO” (remaja-bimbingan orang tua) yang ditayangkan di RCTI. Akhir-akhir ini, “AJ” menjadi perbincangan panas di media sosial. Secara garis besar, ada dua hal yang menjadikan sinetron besutan SinemArt ini menarik perhatian khalayak. Pertama, sejak ditayangkan perdana pada 12 Oktober 2015, berbagai media melansir bahwa “AJ” berada di jajaran tayangan yang mendapat rating tertinggi dalam waktu yang cukup lama. Namun, tingginya rating dan share yang didapat tayangan ini ternyata berbanding lurus dengan tingginya kritik dan aduan dari masyarakat. 

Sebuah petisi online yang diinisiasi oleh Gerakan Peduli Generasi Muda Indonesia menuntut penghentian tayangan ini. Petisi yang telah ditandatangani oleh 27.016 akun tersebut menilai “AJ” tidak mendidik dan menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda. Selain kepada KPI dan Menkominfo, petisi ini juga dialamatkan kepada Presiden RI Joko Widodo. Bukan hanya itu, aduan yang masuk melalui Rapotivi, sebagai aplikasi pengaduan tayangan televisi tak sehat pun cukup tinggi untuk tayangan ini. Dari total aduan yang masuk lewat Rapotivi selama bulan Februari hingga April, 37 atau 41% aduan di antaranya diarahkan pada sinetron “AJ”.

Pemantauan Remotivi atas tayangan “AJ” pada episode 300-306 yang tayang pada 1 April-4 April 2016 mengkonfirmasi kekhawatiran publik tersebut. Hasil kajian kami menunjukkan hal-hal berikut:

  1. Masalah dapat selesai dengan kekerasan

    Menurut Perse (2001), terpaan muatan kekerasan lewat tayangan televisi pada akhirnya bisa membuat orang menerima kekerasan sebagai norma sosial dan solusi wajar untuk memecahkan masalah. Kekerasan memang bukan hal tabu dan harus dilarang sama sekali dalam tayangan televisi, khususnya sinetron yang memang ber-genre fiksi. Namun, tingginya intensitas kekerasan dalam tayangan ini, yang bisa menjadi justifikasi bagi normaliasi kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, tentu patut menjadi perhatian. 

    Menurut pantauan kami dalam episode 300-3006, terdapat 11 adegan perkelahian fisik yang rata-rata berdurasi 1-3 menit. Di dalamnya, terdapat 1 adegan pemukulan dengan benda tumpul yang dipertontonkan secara eksplisit. Adegan ini terdapat dalam episode 300-301, yang tayang pada 1 April 2016, pada di menit 44 hingga menit 49 serta menit ke 101. Dalam adegan tersebut, ditampilkan perkelahian antar geng yang berujung pada adegan dipukulnya kepala salah satu anggota geng dengan tongkat.

    Terlepas dari 7 episode yang kami amati, pada 1 Juni 2016 kami masih melihat adanya kekerasan fisik yang digambarkan secara eksplisit. Misalnya, pada menit 92, terlihat adegan perkelahian yang bercerita tentang pelatihan bela diri anggota suatu geng untuk berkelahi dengan geng lawan.

    Selain intesitas kekerasan fisik yang tinggi dalam tayangan sinetron remaja ini, justifikasi kekerasan sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah juga perlu untuk diwaspadai. Bandura (1994) mengingatkan bahwa tindakan kekerasan cenderung ditiru jika ditampilkan dengan justifikasi. Dalam tayangan ini, setiap masalah yang dihadapi para pemainnya, selalu diselesaikan dengan kekerasan fisik, pemukulan, ancaman, pengeroyokan, tanpa disertai dengan konsekuensi atas tindak kekerasan tersebut. Tayangan ini gagal menunjukkan bahwa ada solusi yang lebih baik dalam memecahkan masalah ketimbang kekerasan, dan bahwa kekerasan itu sendiri merupakan hal yang keliru.
     
  2. Balap liar dan geng motor adalah bukti eksistensi remaja

    Sinetron ini menceritakan bagaimana anak-anak remaja menjadikan “jalanan” sebagai pelampiasan dari masalah-masalah yang mereka hadapi di keluarganya. Dalam sinetron ini, aksi balap dan aksi kejar-kejaran dengan kecepatan tinggi lebih sering dilakukan di jalan raya. Adegan-adegan tersebut mencitrakan aksi menentang aturan penggunaan jalan, seperti menggunakan alat pengaman, sebagai sesuatu yang positif. Selain itu, geng motor yang digambarkan dalam sinetron ini kerap melakukan pencegatan di jalan dan perkelahian antar anggota geng menjadi sesuatu yang lumrah, baik sebagai solidaritas kelompok atau pun balas dendam. Pencitraan positif tentang solidaritas dengan cara kekerasan ini tentu patut diwaspadai. Televisi adalah industri citra yang mempromosikan tindakan tertentu dengan menyematkan citra padanya. Terlebih, penonton remaja yang disasar oleh tayangan ini umumnya masih mencari jati diri melalui figur-figur yang bisa diidentifikasi. Terdapat sejumlah kasus yang menunjukkan bahwa adegan-adegan ini ditiru oleh anak dan remaja
     
  3. Narasi yang mewajarkan kebohongan dan manipulasi

    “AJ” kerap memperlihatkan adegan yang menempatkan kebohongan sebagai sesuatu hal yang wajar. Kebohongan juga dijustifikasi sebagai cara menghindari masalah, merencanakan sebuah aksi kejahatan, serta kepentingan pribadi. Dalam tayangan 1 Juni 2016 pada menit ke-23, seorang ibu menyuruh anaknya bermain petasan di halaman rumah dengan tujuan agar menantunya terkena serangan jantung. Setelah kakak dan tantenya memarahi si anak yang bermain petasan, si ibu berkata, “Dio… mulai deh”. Lalu si anak menjawab, “Kan tadi mama yang ngajarin.” Dan mamanya menyahut, “Tuhkan malah nyalahin mama.”

Remaja merupakan kelompok yang secara psikologis mencari mencari panutan dalam dirinya. Berdasarkan hasil pemantauan yang kami lakukan terhadap sinetron AJ, kami merekomendasikan:

  1. KPI memberikan sanksi yang tegas terhadap tayangan ini

    KPI telah mengeluarkan dua surat teguran tertulis untuk tayangan ini. Teguran tertulis pertama dilayangkan KPI pada 11 Januari 2016 karena penampilan kekerasan secara eksplisit dan kata-kata kasar dalam episode yang tayang pada 26-31 Desember 2015. Dalam surat teguran ini KPI menilai “AJ” melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Pasal 14, Pasal 21 Ayat (1), serta Standar Program Siaran (SPS) Pasal 15 Ayat (1) terkait perlindungan anak dan remaja dengan menyiarkan program siaran yang pada waktu yang tepat dan sesuai dengan penggolongan program siaran. Selain itu, tayangan ini juga dinilai melanggar Pasal 37 Ayat (4) huruf a, di mana program siaran berklasifikasi R dilarang menampilkan perilaku yang tidak pantas atau membenarkan perilaku yang tidak pantas sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

    Setelah mengeluarkan surat teguran pertama, tertanggal 12 Februari 2016 KPI mengeluarkan surat teguran kedua untuk episode 22 Januari 2016. Penilaian dan pasal-pasal yang dipakai KPI sama persis dengan surat teguran pertama.

    Berdasarkan hasil pengamatan, kami menilai bahwa sanksi KPI tidak menimbulkan efek jera bagi stasiun televisi yang menayangkan “AJ”. Sinetron ini tidak melakukan perubahan yang berarti setelah mendapatkan 2 sanksi teguran tertulis dari KPI. Oleh sebab itu, kami merekomendasikan agar KPI memberikan sanksi yang lebih keras. Kami merekomendasikan agar KPI memberikan sanksi penghentian sementara, mengingat tayangan ini telah mendapat sanksi teguran tertulis kedua.
     
  2. RCTI dan SinemArt lebih mengedepankan aspek perlindungan anak dan remaja

    RCTI sebagai stasiun televisi yang menayangkan, dan SinemArt yang memproduksi tayangan ini, seharusnya lebih memperhatikan aspek perlindungan anak dan remaja. Kekerasan yang ditayangkan secara eksplisit dan dengan intensitas yang tinggi, serta justifikasi atas tindak kekerasan dalam kehidupan sehari-hari tidak layak untuk dipertontonkan dengan klasifikasi tayangan R-BO. Apalagi, tayangan ini mengudara pada jam anak rentan menonton televisi. Sesuai ketentuan P3SPS Pasal 25, kekerasan secara eksplisit dengan intensitas yang tinggi hanya dapat ditayangkan di jam dewasa dari pukul 22.00-03.00 waktu setempat. Kami merekomendasikan tayangan ini untuk ditayangkan pada jam dewasa, pukul 22.00-03.00 waktu setempat, serta mengubah formula penayangan kekerasan secara berbeda: bahwa kekerasan perlu ditampilkan sebagai sesuatu yang keliru dan bukan solusi dalam memecahkan masalah. []

 

Bacaan Terkait
Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media