15/01/2013
Bekal Menyibak Belantara Hiburan
Menurut Burton, sejumlah “redefinisi” terkait makna televisi harus dilakukan. Televisi tidak bisa lagi dianggap sekadar kotak ajaib yang mencangkokkan pengaruh buruk dan karena itu harus ditinggalkan. Penelitian terhadap televisi harus melibatkan analisis
15/01/2013
Bekal Menyibak Belantara Hiburan
Menurut Burton, sejumlah “redefinisi” terkait makna televisi harus dilakukan. Televisi tidak bisa lagi dianggap sekadar kotak ajaib yang mencangkokkan pengaruh buruk dan karena itu harus ditinggalkan. Penelitian terhadap televisi harus melibatkan analisis

Judul Buku :
Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar Kajian Televisi

Penulis :
Graeme Burton

Penerbit :
Jalasutra

Cetakan :
2011

Kebanyakan kajian tentang televisi selama ini mendakwa kotak ajaib tersebut sebagai pihak yang bersalah. Televisi dituding sebagai kotak pandora yang menyebabkan kekerasan, aksi-aksi kejahatan terhadap perempuan, sampai manipulasi perang. Kehadirannya dianggap sebagai penyebab utama kelahiran generasi digital natives yang lebih mementingkan “citra” ketimbang “substansi”. 

Seolah belum cukup, dalam agenda akademik, televisi juga mendapatkan suara miring.George Gerbner dalam karyanya yang telah menjadi klasik Living with Television : The Violence Profil (1976) misalnya, menjelaskan tentang dampak dari menonton televisi. Menurut penelitian yang memunculkan teori kultivasi ini, televisi menjadi sarana bagi audiens untuk belajar tentang kondisi lingkungan dan kebudayaan masyarakat. 

Melalui interaksi dengan televisi, penonton memahami dunia dan orang-orang di dalamnya. Audiens yang sudah kecanduan televisi--Gerbner menyebutnya heavy viewers–akan menganggap bahwa apa yang terjadi dalam televisi sama dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Pun demikian dengan kekerasan yang dianggap wajar, karena televisi kerap menayangkan tayangan dengan unsur kekerasan. 

Suara miring lain tentang televisi datang dari Neil Postman. Dalam buku Amusing Ourselves to Death (1985), ilmuwan cum aktivis Amerika Serikat ini bahkan sampai pada satu kesimpulan radikal: televisi telah melahirkan budaya yang memperlemah rasionalitas manusia dalam menafsirkan dunia. Menurutnya, budaya televisi telah menghancurkan budaya baca yang sebelumnya dikembangkan oleh media cetak. Televisi hadir dengan hiburan sebagai supra-ideologi yang menumpulkan kesadaran kritis publik. 

Kekhawatiran Postman terutama diarahkan pada generasi muda yang lahir dan tumbuh besar di era televisi. Kekhawatiran postmodern yang ketakutan membayangkan kebudayaan ciptaan manusia-manusia praktis-pragmatis khas generasi digital. Deret kritik senada bisa kita perpanjang lagi dengan melibatkan beberapa karya kritikus televisi seperti Raymond Williams (1974), Quentin J. Schultze (1986), dan Martin Esslin (1982). 

Televisi menjadi anak kandung modernitas yang lamat-lamat mulai diletakkan dalam peri kehidupan. Namun, kondisi ini tidak bisa dihindari dan memunculkan sederet pertanyaan: benarkah televisi sedemikian jahatnya sehingga harus dimatikan? Mengapa televisi dituding menumpulkan nalar kritis generasi muda? Lantas, masihkah ada masa depan bagi televisi?

Nah, buku Grame Burton yang berjudul Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar Kajian Televisi (2011) mencoba menjawab deretan pertanyaan tersebut dengan objektif. Buku ini merupakan terjemahan dari karya asli yang berjudul Talking Television: An Introduction to the Study of Television yang terbit pertama kali di Inggris tahun 2000. Sebagaimana diakui Burton, dalam buku ini ia tidak menganggap bahwa televisi memiliki kekuatan yang dahsyat dalam mempengaruhi masyarakat. Pun ia menolak menempatkan televisi sebagai “sampah budaya rendah”. 

Dengan posisi ideologis penulis, kita bisa segera tahu arti pentingnya buku ini. Pertama, ia menyanggah berbagai kajian sebelumnya yang hantam krama menganggap televisi sebagai sumber malapetaka. Kedua, buku ini menajamkan kajian-kajian yang bisa digunakan untuk membaca fenomena televisi secara komprehensif. 

Kekuasaan dan Representasi 

Burton mengawali buku ini dengan memberikan peringatan kepada para pengkaji televisi. Menurutnya, perkembangan teknologi komunikasi telah membawa berbagai perubahan mendasar terhadap televisi. Oleh karena itu, sejumlah “redefinisi” terkait makna televisi harus dilakukan. Televisi tidak bisa lagi dianggap sekadar kotak ajaib yang mencangkokkan pengaruh buruk dan karena itu harus ditinggalkan. 

Hakikat televisi saat ini sudah bergeser. Ia merupakan produk relasi kuasa yang bertemu dengan praktik sosio-kultural di masyarakat. Artinya, penelitian terhadap televisi beserta turunan tayangan di dalamnya harus melibatkan analisis terhadap dua hal, kekuasaan dan representasi sosial (halaman x). Gagasan ihwal relasi kekuasaan dan televisi, kata Burton, harus diletakkan sesuai konteksnya. 

Kekuatan televisi yang membuatnya sering digunakan sebagai mekanisme pemilik kuasa (negara atau pemilik modal) untuk mempengaruhi masyarakat tidak boleh dilihat secara berlebihan. Terpaan media lain dan terlebih lingkungan sosial mesti juga diperhatikan agar tidak terburu-buru mengagungkan kekuatan televisi. Apa pun yang dilakukan audiens setelah menyaksikan tayangan televisi berlangsung dalam sebuah konteks, bukan isolasi.

Apalagi, audiens memiliki kuasa dan pengetahuan untuk menonton tayangan apa yang layak disaksikan. Meski hanya duduk saja, tidak berarti audiens berada dalam posisi pasif. Ketika proses menonton, audiens mengurai kode (decoding) pesan dan memaknai teks berdasarkan frame of reference dan field of experience yang dimiliki. Dalam proses ini mereka mencipta makna, budaya, kontrol, bahkan melakukan perlawanan ideologis (h. 305). Artinya pandangan klasik seperti dalam teori kultivasi harus dikaji ulang, mengingat relasi televisi dan audiens tak lagi satu arah.

Selanjutnya, analisis terhadap representasi sosial televisi juga tidak boleh diabaikan. Representasi merupakan proses seleksi atas realitas yang secara otomatis mereduksi fakta yang demikian kompleks. Reduksi fakta ini dilakukan dengan menonjolkan informasi tertentu, dan sebaliknya, melakukan marginalisasi atas informasi yang lain. Implikasinya, dunia yang dihadirkan oleh televisi jauh lebih ringkas dan tidak bisa menjelaskan realitas secara utuh. Bahkan ia kemudian menghadirkan apa yang disebut sebagai hiper-realitas karena pemaknaan atas realitas itu tidak pernah tunggal dan mutlak. 

Dengan mengutip Norman Fairclough, Burton menjelaskan bahwa representasi dalam televisi memiliki fungsi ideologis sepanjang representasi itu membantu mereproduksi hubungan sosial. Terutama dalam kaitannya dengan dominasi dan eksploitasi (h.241). Beberapa unsur yang membentuk representasi di antarnya stereotip, identitas, naturalisasi, dan ideologi. Yang mesti diingat, televisi mengonstruksi representasi atas realitas bersamaan dengan kehadirannya dalam realitas itu sendiri. Ini berarti bahwa jika representasi televisi berubah, sebenarnya tidak lain adalah refleksi dari perubahan sikap audiens atau publik. 

Pisau Bedah

Untuk sampai pada analisis terhadap kekuasaan dan representasi tersebut, Burton memberikan bekal awal dengan menampilkan sejarah singkat televisi. Bekal awal yang berguna untuk menyibak belantara televisi dengan berbagai problem di dalamnya. Tidak hanya sejarah tentang kemunculan industri televisi dan perkembangannya, melainkan juga sejarah gagasan dan kritik terhadap televisi. Kajian tentang televisi akan terus mengalami perkembangan yang berimplikasi pada perubahan pemaknaan atas televisi. Pembacaan terhadap sejarah diperlukan agar kita tidak terjebak dalam asumsi yang mengatakan bahwa gagasan lawas ihwal televisi telah ketinggalan zaman (passe) dan gagasan saat ini yang paling benar (h.5). 

Bekal lainnya adalah serangkaian "pisau bedah" yang lumayan lengkap. Sebagai pisau teoritis, ia mengajukan berbagai pendekatan kritis yang bisa digunakan, seperti analisis tekstual dan wacana; kajian genre, audiens, dan gender; serta kajian budaya dan postmodernisme. Beberapa pendekatan tadi bersifat partikular karena menempatkan televisi sebagai medium. Sedangkan, sebagai pisau operasional, Burton memberikan serangkaian contoh dan ilustrasi tayangan-tayangan televisi. 

Sayangnya, pada titik inilah kelemahan buku terlihat. Berbagai ilustrasi tentang tayangan televisi dan kepemilikan sangat spesifik kultural di Inggris. Artinya, pembahasan tentang relasi sosial-ekonomi-politik yang berkelindan melingkupi televisi mesti dilihat dalam konteks di Inggris. Burton memang sudah mengingatkan hal tersebut dalam kata pengantarnya. Dengan ilustrasi yang demikian spesifik, pembaca di Indonesia mesti sedikit berkerut untuk mencari contoh yang sesuai dengan fenomena televisi di tanah air.

Terlepas dari kekurangan tersebut, berbagai pendekatan kritis yang ada dalam buku ini tetap bisa digunakan untuk mengkaji kinerja sistem pertelevisian, interaksi audiens dengan televisi, sampai makna representasi televisi yang ada di Indonesia. Bab tentang "Masa Depan Televisi" juga bisa digunakan untuk melihat ke arah mana gerak televisi beserta gagasan tentangnya melaju. Bekal berharga bagi para pengamat dan praktisi televisi untuk membenahi silang sengkarut ihwal televisi di tanah air. Semoga. []

Bacaan Terkait
Wisnu Prasetya Utomo

Wisnu Prasetya Utomo. Penulis buku Suara Pers Suara Siapa? (2016), dan Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan (2013) yang diangkat dari skripsinya. Saat ini, peneliti Remotivi dan penyunting buku Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca Orde Baru (2015) ini sedang melanjutkan kuliah di jurusan Media and Communication di University of Leeds, Inggris.

Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Amplop untuk Jurnalis
LGBT dalam Media Indonesia