15/12/2014
Menyoal Jurnalisme Islam
Jurnalisme Islam: jurnalisme atau sekadar pamflet propaganda semata?
15/12/2014
Menyoal Jurnalisme Islam
Jurnalisme Islam: jurnalisme atau sekadar pamflet propaganda semata?

Bagi para pegiat buku, buku ini barangkali tergolong lawas. Sebab, buku ini telah terbit sekitar sepuluh tahun yang silam. Statusnya sebagai “buku lama”—dalam penilaian pada umumnya—membuat buku ini kiranya tak cukup layak untuk diresensi.

Tapi saya tetap tertarik untuk meresensi buku ini karena beberapa alasan. Pertama, gagasan pokok yang disampaikan dan dibicarakan dalam buku ini masih cukup relevan sampai saat ini. Kedua, di salah satu stasiun televisi swasta nasional belakangan ini muncul program berita yang mendaku sebagai “Program Berita Islami Masa Kini”. Program ini tayang setiap sore di Trans TV dari hari Senin sampai Jum’at. Dari banyaknya waktu tayang itu, bisa diasumsikan bahwa program ini digemari publik sebagai pasar media di Indonesia. Bukan tidak mungkin, gejala ini akan ditangkap dan diikuti oleh media-media lain untuk membuat program serupa.

Menyaksikan tayangan tersebut segera membuat saya teringat dengan buku ini. Saya bergegas mencari buku ini di deretan rak buku saya dan membacanya lagi. Ingatan akan buku ini tentu disebabkan karena berita islami dalam program TV swasta nasional tersebut sangat terkait dengan gagasan dalam buku ini, yakni tentang jurnalisme Islam. Dengan kata lain, berita islami adalah produk dari jurnalisme islam itu sendiri. Selain itu, yang menjadi alasan ketiga, tentu hadirnya media-media islam (baik majalah, koran, portal online) yang belakangan ini semakin marak bermunculan. Fenomena tersebut membuat pembahasan tentang apa yang disebut sebagai jurnalisme Islam menjadi kian penting dibicarakan.

Hanya saja, pertanyaannya, benar-benar adakah apa yang disebut sebagai jurnalisme Islam itu?

Konsep Jurnalisme Islam

Buku ini menyediakan bangunan konseptual paradigmatik yang dirujuk dari teks-teks Islam, terutama Al-Qur’an, Sunnah dan sejarah para nabi. Pada dasarnya, buku ini ingin mengatakan dan sekaligus membuktikan bahwa Islam menyumbangkan dasar-dasar yang penting dalam jurnalisme. Suf Kazman melacak teks-teks normatif dalam Islam—terutama Al-Qur’an—yang dianggap dapat dijadikan sandaran legitimasi akan pentingnya baca-tulis dan jurnalistik yang dibingkai dalam kegiatan dakwah dengan pena (da’wah bi al-qalam).

Selain itu, risalah-risalah nabi juga dipaparkan sebagai bukti kegiatan baca-tulis dan jurnalistik dalam Islam. Sudah tentu dengan pengertian jurnalistik yang masih sangat dan amat sederhana. Misalnya surat-menyurat antara Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis. Pelacakan tersebut dilakukan untuk—sekali lagi—menegaskan pentingnya praktik baca-tulis dan jurnalistik di dalam Islam. Bahkan, seorang jurnalis dalam kacamata Islam, dipandang sebagai seorang pendakwah yang selalu menuntun dan membimbing banyak orang pada kebenaran Islam (hal. 2).

Setelah melakukan pelacakan atas teks-teks normatif dalam Islam, Suf Kazman memunculkan—atau mungkin lebih tepat menebalkan—sebuah klaim besar tentang apa yang selama ini disebut sebagai jurnalisme Islam. Meski buku ini diberikan judul “jurnalisme universal”, tapi gagasan pokok di dalamnya bisa dikatakan mengenai jurnalisme Islam. Barangkali, Suf Kazman bermaksud mengatakan bahwa jurnalisme Islam adalah jurnalisme yang universal sebagaimana Islam yang dianggap sebagai agama yang membawa rahmat bagi semua.

Penulis mengutip kembali definisi-definisi tentang jurnalisme Islam yang pernah dikemukakan oleh orang lain sebelumnya dan kemudian mengembangkannya. Jika jurnalisme atau pers secara teknis selama ini dipahami sebagai proses meliput, mengolah dan menyebarluaskan peristiwa kepada masyarakat luas, maka jurnalisme Islam dipahami sebagai proses meliput, mengolah dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan berbagai muatan nilai-nilai dan pandangan Islam kepada khalayak. Singkat kata, jurnalisme Islam adalah jurnalisme yang bernafaskan Islam. Jurnalisme yang di setiap pemberitaannya membangun dan menyiarkan kebenaran dalam masyarakat, bukan obyektivitas yang selama ini didengung-dengungkan sebagai standar kualitas sebuah pemberitaan (hal. 49).

Jurnalisme Islam bukan sekadar berbau Islam an-sich, melainkan yang benar-benar menghayati risalah Islam. Jurnalisme Islam dalam buku ini dibebankan tugas rangkap yang dikategorikan sebagai “tugas ke dalam” dan “tugas ke luar”. Tugas ke dalam, maksudnya, jurnalisme Islam bertugas mempersatukan umat Islam dan berdiri di atas semua golongan. Sementara tugas ke luar, jurnalisme Islam memiliki tugas membentengi umat dan Islam dari segala upaya yang melemahkannya (hal. 51).

Jurnalisme Islam dianggap sudah semestinya dijadikan sebagai alat perjuangan yang strategis oleh umat untuk: menyampaikan nilai-nilai Islam, mempersatukan umat dan melawan upaya-upaya yang ingin melemahkan Islam dari berbagai kekuatan yang datang memojokkannya. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud berada dalam konteks di Indonesia maupun dalam hubungannya dengan Barat yang terus melancarkan perang pemikiran (ghazwul fikr) melalui media-media dengan menggambarkan Islam sebagai agama yang bar-bar dan mengerikan.

Media Islam Bukan Jurnalisme Islam

Ditilik dari bangunan konseptual jurnalisme Islam sebagaimana dibahas dan ditawarkan buku ini, nampaknya sampai hari ini nyaris belum ditemukan contoh konkretnya yang sempurna. Dalam kata lain, tidak ada media yang dapat ditunjuk sebagai role model dari praktik jurnalisme Islam. Apalagi jika mengingat begitu beragamnya proliferasi dan golongan dalam tubuh Islam. Media-media Islam belakangan ini memang begitu banyak bermunculan. Media-media Islam itu, tumbuh dan dibentuk sebagai alat perjuangan untuk menghadapai media-media arus utama yang dianggap tidak simpatik pada Islam. Katakanlah media-media Islam tadi berhasil dalam mengemban tugas tersebut. Tapi tugas untuk menyatukan umat islam, apakah ada di antara media-media Islam yang mampu melakukannya? Rasanya-rasanya tidak! Maka dengan sendirinya, media Islam tak bisa disamakan dengan jurnalisme Islam.

Dalam teropong historis, kalau kita melacak ke periode-periode awal kehidupan media di Indonesia pra-kemerdekaan, sejak itu Islam memang sudah memiliki jalinan yang sangat erat dengan media yang didudukkan sebagai alat perjuangan. Ini terbukti dari banyaknya aktivis-aktivis dan pimpinan pergerakan Islam yang menyadari pentingnya peranan media dan kemudian membentuknya untuk mendukung perjuangan, seperti H.O.S Cokroaminoto, H. Misbach, Ahmad Dahlan, dan banyak yang lainnya. Pada waktu ini, pergerakan dengan latar belakang ideologis yang berbeda (Islam, nasionalis, komunis) memang membuat medianya sendiri-sendiri. Pergerakan dan media berada dalam satu tangan (Gani, 1987: 42). Lihat misalnya, organisasi Sarekat Islam memiliki sejumlah surat kabar yang mengibarkan panji-panji Islam dan terbit di berbagai daerah: Bendera Islam yang terbit di Surabaya dan Medan Moeslimin yang terbit di Surakarta sebagai salah satu di antaranya (Gani, 1987: 39). Tetapi memang, sekalipun mengibarkan panji-panji yang berbeda, tujuannya tunggal: melawan dan mengakhiri kolonialisme, demi terwujudnya tatanan masyarakat yang merdeka. Dalam kondisi sosio-politik yang seperti itu, pers dalam masa ini dibebani tugas perjuangan.

Pasca-Revolusi, terutama pada masa-masa Soekarno berkuasa, media-media yang mengibarkan panji-panji islam masih tetap ditemukan dalam beragam macam partai dengan ideologi yang berbeda, yang muncul untuk mengisi kemerdekaan. Jika sebelumnya, media-media Islam berada dalam satu tangan dengan pergerakan. Di masa ini, media-media Islam berada dalam satu tangan dengan partai-partai Islam. Tentu dengan sejumlah pergeseran dan perubahan-perubahan karakteristik dan orientasi perjuangan dalam dirinya. Mengingat pers dan media, umumnya memang selalu mengambil bentuk dan warna struktur-struktur sosial-politik dimana media-media yang bersangkutan dioperasikan (Siebert, dkk, 1934). Tetapi yang ingin ditekankan di sini adalah, sekalipun Islam dan media memiliki jalinan yang sangat erat satu sama lain, tetapi nampaknya “jurnalisme Islam” secara terminologi dan konseptual belum muncul di dalam periode ini maupun sebelumnya. Jurnalisme Islam, saya kira, merupakan fenomena baru dalam hubungan islam dan media di Indonesia pasca-Orde Baru.

Di era Orde Baru, media-media Islam tumbuh diam-diam dalam sunyi: bekerja secara sembunyi-sembunyi di bawah tanah. Dalam iklim politik otoriter di mana pers kerap tersandung pembredelan, pers dan media masih tetap dibebankan tugas perjuangan. Meskipun tentu perjuangannya tak lagi seperti semula saat-saat periode pra-kemerdekaan. Musuh bersama pers adalah pemerintah sendiri yang berkuasa sewenang-wenang. Apalagi jika mengingat hubungan Islam dengan penguasa tidak harmonis. Penguasa menerapkan apa yang disebut dalam literatur sebagai political scape goating dengan penuh kebencian terhadap Islam. Dalam periode tersebut, nampaknya juga belum muncul dan terdengar apa yang disebut sebagai jurnalisme islam.

Tapi di periode-periode menjelang dan berakhirnya Orde Baru, hubungan Islam dan penguasa berubah menjadi semakin dekat dan intim. Islam semakin diakomodasi oleh penguasa. Inilah bulan madu keduanya. Sontak, gerakan politik Islam mulai bangkit dari tiarap panjang. Dari keterpinggiran dan pengucilan struktural yang dilakukan penguasa, lantas berani mengartikulasikan identitasnya dengan lebih leluasa di ranah publik. Diakui tidak, menjelang berakhirnya Orde Baru dan terlebih pasca Orde Baru arus kesadaran Islam baik kultural dan politik semakin meningkat (Latif, 2007). Islamisasi merebak di berbagai bidang (Rieklefs, 2012: 543). Embel-embel Islam ditempelkan sebagai term adjective untuk banyak hal. Ada “penghijauan” semua aspek dan bidang kehidupan di Indonesia. Tidak hanya di pemerintahan, dalam tubuh militer dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di masyarakat juga muncul sekolah-sekolah Islam, penerbitan Islam, bank-bank Islam, perumahan-perumahan Islam, dan sebagainya. Fenomena ini diikuti dengan semakin banyaknya kegiatan-kegiatan keislaman dan naiknya jilbab sebagai gaya hidup yang populer. Islam betul-betul sedang naik daun.

Menurut saya, terminologi dan konsep jurnalisme Islam itu sendiri harus dibaca dalam kerangka konteks historis dan sosio-politik seperti ini. Selain tentu kita nantinya juga perlu menimbang secara kritis “baik-buruknya” bangunan konsep jurnalisme Islam seperti dibahas dan ditawarkan dalam buku ini.

Jurnalisme atau Pamflet?

Angin perubahan pasca-Orde Baru membuat sistem politik di Indonesia semakin terbuka dan plural. Isu-isu soal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia dan demokrasi, sampai penguatan masyarakat sipil mencuat ke permukaan. Aktivis-aktivis media di tanah air mulai memikirkan kembali bagaimana bentuk dan peran media serta metode jurnalisme yang benar dan dianggap cocok.

Pers dan media sudah mulai didudukkan sebagai lembaga keempat dalam trias politica (eksekutif, yudikatif, legistalif) yang diharapkan mampu menjaga dan menguatkan demokrasi, menguatkan kewargaan (citizenship) dengan segala hak-haknya dan kepentingan publik. Pers partisan yang menekankan pada ikatan-ikatan primordial seperti agama dan kesukuan, sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Di masa ini juga, sudah mulai ada upaya yang serius untuk memisahkan secara tegas antara fakta dan opini dalam jurnalisme. Sesuatu yang sangat mustahil dilakukan oleh media dalam masa-masa sebelumnya. Bagaimana jurnalisme harus menyampaikan realitas empirik dengan metode yang benar, tanpa terlebih dahulu berpretensi  dengan dogma-dogma dan ide-ide baik dari agama dan pemikiran dan ideologi, menjadi tantangan serius jurnalisme pada masa ini.

Seorang wartawan senior di Amerika, Bill Kovach dan Tom Rosentiel, merumuskan sebuah panduan filosofis, moral dan metode teknis tentang jurnalisme dalam rumusan sembilan elemen jurnalismenya (Kovach & Rosentiel, 2001). Panduan ini dirujuk oleh banyak jurnalis di dunia dan juga di Indonesia karena dianggap cocok dalam konteks sosio-politik yang sudah demokratis dan terbuka. Pers tidak untuk memperjuangkan satu golongan, tetapi warga. Oleh sebab itu, Kovach dan Rosentiel, misalnya, tidak menyebut sembilan elemen jurnalismenya sebagai jurnalisme Kristen, jurnalisme Yahudi, dan lainnya.

Nah, di titik ini penting “memperkarakan” kembali jurnalisme Islam. Bukankah bangunan koseptual jurnalisme Islam sebagaimana dibahas dan ditawarkan buku ini dalam konteks sosio-politik di Indonesia sebagaimana ditegaskan di atas  akan menjatuhkan jurnalisme pada keadaan seperti semula: sekedar pamflet atau alat  propaganda semata untuk kepentingan golongan? Bukankah itu suatu gejala kemunduran dalam jurnalisme? Untuk membela jurnalisme Islam, barangkali sebagian orang akan menuding media-media di Barat juga dijadikan alat untuk mendiskreditkan Islam toh? Jawabnya: barangkali sebagian iya.

Tapi, harus tetap dipisahkan, antara “idealisme” atau “moral” jurnalisme dengan praktik media itu sendiri. Dua hal yang nampaknya dalam buku ini tak dibedakan dan ditempatkan secara tumpang tindih. Apa yang dirumuskan oleh Kovach dan Rosentiel (sekalipun orang Barat) itu, saya kira, merupakan seruan moral universal bagi jurnalisme yang sehat dalam konteks sosio-politik yang demokratis dan terbuka. Tapi sayang, Suf Kazman tak sama sekali mendialogkan konsep jurnalisme islam yang ditawarkan dengan rumusan elemen-elemen jurnalisme-nya Kovach dan Rosentiel. Inilah sejumlah persoalan mendasar yang bisa menjadi catatan kritis untuk jurnalisme Islam. []


Daftar Pustaka:

M. Gani. 1987. Surat Kabar Indonesia Pada Tiga Zaman. Departemen Penerangan RI, Jakarta

Fred. S. Siebert, dkk. 1934. Four Theories  of The Press. University of Illinois Press Urbana, Chicago dan London

Yudi Latif. 2007. “Dialektika Islam: Tafsir Sosiologis atas Sekularisasi dan Islamisasi di Indonesia”. Jalasutera, Bandung

M. Rieklefs. 2012. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Jakarta, Serambi

Bill Kovach dan Tom Rosentiel. 2001. Elemen-elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya yang Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik. ISAI, Jakarta

Bacaan Terkait
Kamil Alfi Arifin

Staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) dan bergiat di Pusham UII.

Populer
Insiden Media di Tolikara
Media dan Gelembung Citra Jokowi
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Fabrikasi Kepanikan: Liputan Media Mengenai “Susu” Kental Manis