14/01/2015
Alay di Balik Layar
Penonton 'alay' kerap dijumpai di layar kaca, khususnya acara musik. Menonton Penonton berusaha memotret keseharian yang tak tertangkap kamera televisi.
14/01/2015
Alay di Balik Layar
Penonton 'alay' kerap dijumpai di layar kaca, khususnya acara musik. Menonton Penonton berusaha memotret keseharian yang tak tertangkap kamera televisi.

“Pagi-pagi makan cabe itu enak, bikin teriakannya lebih keras lagi,”ujar Ali, seorang “penonton alay” ketika membeli gorengan, sebelum beranjak ke studio RCTI.

Potongan dialog di atas muncul di tengah-tengah Menonton Penonton (selanjutnya disingkat MP), sebuah dokumenter karya Ardi Wilda tentang profesi “penonton alay”, atau penonton bayaran.

Gorengan dan “penonton alay”—dua-duanya ihwal ringan. Makanan ringan dan pekerjaan ringan; orang mengkonsumsi gorengan sekadar untuk mengganjal perut, sementara orang menjadi penonton alay untuk mengisi waktu luang sambil curi-curi kesempatan ketemu artis. Kira-kira demikian kesan pertama yang didapat dari Menonton Penonton (selanjutnya disingkat MP).

Disclaimer: jangan berharap lompatan estetis dari MP. Yang istimewa dari dokumenter ini adalah pilihan subjeknya. Barangkali, inilah film pertama—dan satu-satunya—tentang “penonton alay” di Indonesia. Tak hanya itu, MP mengulik aspek keseharian yang tidak banyak diketahui dalam salah satu industri hiburan di indonesia terlaris, tanpa harus vulgar mengecam watak dari industri itu sendiri, tanpa harus berpretensi moral membela siapapun yang dianggap “korban” industri ini—sebagaimana yang banyak terjadi pada dokumenter Indonesia.

Ketika menonton MP, saya teringat film Jalanan. Profesi pengamen dalam film Daniel Ziv memang bermula dari keterpaksaan—seperti halnya semua pekerjaan berawal dari tuntutan bertahan hidup. Namun, lambat laun ia menampakkan pula sebuah pola pekerjaan yang khas. Lengkap dengan narasi seputar durasi dan proses kreatif bekerja, produk yang dihasilkan, serta kehidupan sosial di dalam maupun luar pekerjaan yang terkait dengan “kepengamenan” itu sendiri.

MP pun tidak berawal dari keluh-kesah basi tentang sama ratap sama tangis dalam dunia hiburan televisi. Ia tak hendak meributkan apakah “penonton alay” merupakan gejala hancurnya peradaban, ancaman bagi ketahanan nasional, laku kebudayaan urban yang dianggap inferior dan kerap diidentifikasi lekat dengan kalangan menengah-bawah yang gagal jadi hipster, dan segala tetek-bengek moralisasi elitis lainnya. MP membicarakan penonton alay dalam konteks kerja—dan persis di titik itulah Ardi Wilda mengambil jalur yang sama dengan Jalanan.

“Biar aja dikatain penonton alay. MBL (masalah buat lo)?” tukas Pendi, seorang bekas penonton alay yang menanjak statusnya dari penonton bayaran menjadi “penonton tetap” dan akhirnya asisten pribadi artis.

Celetukan Pendi tidak saja menjelaskan alay sebagai corak identitas kelas sosial yang hadir dalam kosakata sehari-hari kurang dari lima tahun terakhir. Julukan alay ini lahir dari persepsi kelas menengah kota untuk menyebut selera kultural kelas bawah yang dipandang hendak meniru kelas menengah. Barangkali, sebagaimana tidak ada hipster yang ingin disebut hipster, tak ada alay yang sudi dipanggil alay. Namun agaknya Pendi, alih-alih  kesal menyandang julukan derogatif “alay”, justru membanggakannya.

Demikianlah industri hiburan yang—sadar atau tidak—sukses mengkapitalisasi “alay” dan berkontribusi memperkenalkannya ke hadirin yang lebih luas. Lewat “Dahsyat”, program variety show RCTI yang digelar selama 2-3 jam dari Senin hingga Jumat, kata “penonton” dan “alay” pun berjodoh.

Dahsyat berulangkali ditegur KPI, dicibir intelektual ibukota, dikafirkan situs sektarian macam nahimunkar.com, namun dicintai ibu rumah tangga dan menginspirasi kaum muda dari strata kelas menengah-bawah. Sejumlah ibu rumah tangga, seperti yang digambarkan MP, bahkan bekerja mengorganisir penonton, menghimpun anak-anak usia SMA dari pinggiran Jakarta untuk tampil di “Dahsyat”. 

Di balik panggung “Dahsyat”, yang senior bekerja dengan orientasi uang, sementara yang junior ingin sekadar bisa dekat-dekat artis—meskipun tidak menolak bayaran. Yang tua beralasan “anak-anak muda ini lebih baik mengisi waktu luangnya dengan manggung di ‘Dahsyat’”, sementara yang muda mengharapkan ketenaran di layar kaca, sebuah currency yang penting di kalangan rekan-rekan seusianya. Beberapa seperti Pendi, konsisten di jalur ini sampai-sampai, ketika ketenaran tak lagi diincar, bisnis yang sama memberikan mereka jalan untuk naik kelas secara finansial, dengan menjadi koordinator penonton.

Membidik “Dahsyat”, Ardi Wilda dkk sebetulnya sedang menelisik praktik yang telah mapan dalam industri variety show televisi. Penonton didatangkan ke studio, penonton dibayar, penonton diarahkan untuk tertawa, penonton di rumah ikut senang. Program semacam “Dahsyat” sudah eksis sejak dulu, namun baru pada “Dahsyat” dan acara-acara sejenislah penonton memperoleh derajat penampakan yang lebih besar, tidak sekadar jadi ilustrasi atau tukang yel-yel yang hanya diperhitungkan suaranya (bukan tampilannya!). Dengan kata lain, Dahsyat adalah bentuk yang manifestasi yang paling ekstrem dan vulgar dari tayangan 1990-an seperti “Pesta” (Pentas Sejuta Aksi) di Indosiar atau “Impresario 008” di RCTI. 

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa di acara “Dahsyat”penonton tidak lagi diletakkan sebagai konsumen yang pasif di depan televisi. Alih-alih, ia diajak berpartisipasi membentuk kenyataan yang sehari-hari ia nikmati dan imani, kira-kira persis seperti yang dikatakan Ali, koordinator penonton Dahsyat: “penonton alay itu setengah public figure.” Penonton layar kaca hari ini, bisa saja tiba-tiba joget di “Dahsyat” keesokan harinya, dan kembali jadi pelajar SMA di Jakarta coret—intinya, 15 menit ketenaran.

Namun tak berhenti di situ, MP memperlihatkan proses jual-beli tenaga yang khas di balik partisipasi tersebut. Menelusuri sosok-sosok yang bekerja di dalam maupun luar studio, MP menunjukkan bahwa keterlibatan penonton dalam Dahsyat mengandaikan kombinasi bisnis padat modal dan padat karya, kerja profesional dan kerja freelance, industri gedongan dan industri rumahan, kerja yang teregulasi dan yang tidak.

Dengan derajat penampakan yang lebih tinggi serta kesadaran diri akan pentingnya muncul di televisi, seorang penonton alay pun harus memiliki sarana produksi minimal yang melekat pada laku dan tubuhnya, mulai dari ketrampilan mengemas diri hingga kecakapan dansa-dansi. Karena, seperti yang dikatakan Ony Johassan, seorang koordinator penonton, “Dahsyat” tidak menerima sembarang penonton. Jadi penonton bayaran di “Dahsyat” minimal harus tahu cara berpakaian yang “Dahsyat” - Friendly, rapi dan pantas, tidak harus necis dan gedongan. 

Dalam gambaran yang disuguhkan MP, penonton alay bisa saja bekerja sukarela tanpa dibayar karena niat mereka adalah ketemu artis dan nongol di televisi. Uang mungkin bukan pertimbangan utama, tapi akan lebih disyukuri jika ada bayaran dan mendapat akses untuk ke dunia showbiz yang lebih luas di masa depan.

Kerja-kerja sebagai penonton alay ini agak mirip industri bulu mata di Purbalingga dimana pemilik pabrik mengalihdayakan mesin-mesin produksinya ke rumahtangga-rumahtangga, dengan pekerja-pekerja ad hoc, rumahan. Pekerja-pekerja ini tidak harus merasa dipekerjakan, karena boleh jadi mereka sekadar ingin berbakti pada orangtua, atau, bagi yang sudah melek duit, ingin mendapat uang dengan cepat. Tidak berbeda jauh pula dengan promosi gadget di media sosial, dimana konsumen kelas menengah ikut mengiklankan produk lewat like dan retweet. Hal ini dikerjakan tanpa perlu merasa berpromosi, karena tujuannya adalah mendapat update informasi terbaru tentang gadget yang dimiliki atau diidam-idamkan.

Keberhasilan menguak moda terbaru partisipasi publik dalam industri hiburan masa kini itulah yang membuat dokumenter berdurasi 20 menit ini menjadi penting. []

Bacaan Terkait
Windu W. Jusuf

Redaktur Cinemapoetica.com dan Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS. Tinggal di Jakarta, kadang di Jogja.

 

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan