30/01/2015
Kelisanan dan Keaksaraan, atau Bagaimana Kita Berpikir dan Mengingat
Tulisan seringkali dianggap sebagai titik mula sejarah. Namun, peradaban sudah dimulai jauh sebelum itu.
30/01/2015
Kelisanan dan Keaksaraan, atau Bagaimana Kita Berpikir dan Mengingat
Tulisan seringkali dianggap sebagai titik mula sejarah. Namun, peradaban sudah dimulai jauh sebelum itu.

Judul:
Kelisanan dan Keaksaraan

Penulis:
Walter J. Ong

Penerjemah:
Rifa Iffati

Penerbit:
Gading

Tahun:
2013

 

Apa beda manusia dan hewan? Banyak orang percaya beda keduanya adalah pada “akal” atau “pikiran”. Bisa jadi kepercayaan itu benar. Namun untuk memahami buku Walter J Ong ini, ijinkan saya menggunakan pembedaan Nietzsche yang sederhana; beda keduanya ada pada ingatan. [i] [Nietzsche, 1873] Manusia mampu mengenang, sementara hewan, sebagaimana bahasa anak muda sekarang, tak pernah kenal kata “mantan”. Peradaban adalah perihal ingatan.

Untuk mengingat, kita biasanya memanfaatkan jejak yang terlihat oleh mata; teks atau tulisan. Dari sini berkembang keyakinan bahwa peradaban dibuktikan dengan adanya jejak tulisan. Pada pengertian yang agak kebablasan, tinggi atau tidaknya peradaban adalah tergantung tua atau tidaknya usia prasasti kita.

Ong berpandangan lain. Ingatan manusia tak hanya disemaikan dengan bantuan tulisan. Ingatan juga dikembangkan ketika manusia hanya bisa menggunakan suara dan memanfaatkan telinga. Ia menyebut kebudayaan ini sebagai kebudayaan kelisanan primer (atau disebut “kebudayaan kelisanan” saja) yakni kebudayaan “yang sepenuhnya tak tersentuh pengetahuan apapun mengenai tulisan atau cetakan” (hal 15).

Kelisanan

Untuk membayangkan masyarakat yang sama sekali tak tersentuh oleh tulisan, Ong mengajak kita untuk memahami suara. Suara selalu bergerak hingga tak punya jejak, sementara masyarakat kebudayaan kelisanan hanya punya telinga sebagai alat mengingat.

Masyarakat kelisanan akhirnya mengembangkan pikiran dengan pola mnemonic; segala teknik yang bermaksud mengembalikan ingatan. Sesuatu, akhirnya, dikisahkan dengan “formula” tertentu; bisa jadi dengan penggunaan pola cerita yang sama, atau bahkan menceritakan sesuatu dengan rima yang indah di telinga. Misalnya sebuah kejadian diceritakan dengan menggunakan sebuah “cerita besar” menjadi dasarnya. Tujuannya, supaya gampang diingat. Kisah raja-raja Jawa yang selalu “meminjam” kisah Ramayana dan Mahabarata barangkali adalah salah satu contohnya.

Resitasi (menghapal lisan) menjadi penting. Kitab Weda misalnya, adalah contoh bagaimana resitasi dalam kebudayaan lisan ini bekerja dalam mengabadikan ingatan. Teks Weda sendiri diklasifikasi sebagai Sruti yang artinya “dipelajari melalui pendengaran”,[ii] yang meneguhkan ia adalah produk kebudayaan lisan.  Barangkali, penyusunan babad-babad di Jawa dengan pola tembang, disediakan untuk didendangkan dan bukan "pembacaan tulisan". (Lihat bagaimana ‘tembang’ dianggap berbeda dengan “membaca tulisan saya sebelumnya.)

Dalam kebudayaan lisan, untuk berfikir non-formulaic atau non-mnemonic, adalah suatu yang membuang-buang waktu. Cara masyarakat kelisanan ini tidak hanya berakibat pada pola ekspresi kebudayaan kelisanan, melainkan juga pada cara berpikir dan cara hidup.

Kebudayaan kelisanan selalu punya tradisi “heroik”; karena tokoh-tokoh selalu digambarkan dengan hiperbolik, monumental, mengesankan dan biasanya bersifat publik. Misalnya Prabu Dewatacengkar yang menguasai Jawa sebelum Ajisaka, akan disebut sebagai “raja yang suka daging manusia” sementara Ajisaka akan digambarkan sebagai pria mulia dan mungkin hampir setengah dewa. Selain itu masyarakat kelisanan mengedepankan kesakralan (ritualistik) ketimbang rasional. Ketiadaan “medium” menjadikan masyarakat kelisanan lebih berkelompok, karena mereka berkomunikasi dengan lisan dimana “ketika seorang pembicara berbicara pada hadirin, masing-masing orang yang hadir biasanya menjadi satu kesatuan” (hal 109).

Namun, kebudayaan kelisanan primer di jaman sekarang hampir tidak ada. Menurut Ong, setiap kebudayaan kini tak lagi buta pada aksara. Lalu buat apa Ong repot menuliskan kembali soal kebudayaan kelisanan? Pertama, Ong berkeyakinan bahwa pola pikir kelisanan masih berjejak dalam budaya dan subkultur hari ini dan bahkan dalam kehidupan teknologi (hal.15). Kedua, dengan mengenali kelisanan, keaksaraan—via tulisan dan cetakan—dapat ditinjau ulang.

Keaksaraan

Dengan menunjuk kelisanan sebagai salah satu “bentuk peradaban”, arah pendefinisian keaksaraan dalam pemikiran Ong barangkali bisa ditebak. Keaksaraan baginya adalah rekaman lisan yang merubah teknik ingatan, dan kemudian merubah pula bentuk peradaban. Jadi yang penting dalam keaksaraan adalah “penghentian suara” atau “pembuatan jejak suara”.

Keaksaraan dibangun awalnya dengan tulisan atau script. Tulisan bagi Ong terutama berarti teknologi yang sanggup merepresentasikan ujaran (hal 127). Tulisan adalah teknologi yang sanggup menggambarkan kata-kata yang diucapkan seseorang atau dibayangkan diucapkan seseorang. Tentu saja tulisan dapat sukses dengan menggunakan abjad, sebuah “pereduksi suara yang paling efisien ke dalam ruang” (hal 150), sebuah jembatan utama antara ingatan lisan pada arsip/dokumen tertulis sebagai “ingatan keaksaraan”.

Awalnya, tulisan tidak “dibaca” sebagaimana kita membaca sekarang. Ia kerap dianggap sebagai instrumen kekuatan magis dan rahasia, sebuah hal yang merupakan kebudayaan kelisanan. Dokumen tertulis tidaklah diakui sebagai pengganti “ingatan”, bahkan dalam bidang yuridis. Saksi lisan lebih menjamin kebenaran ketimbang bukti tertulis.

Keaksaraan kemudian secara massif membentuk cara berpikir baru ketika cetakan berangsur dipakai. Banyak hal yang berubah menurut Ong. Misalnya, cetakan mendorong hasrat untuk membuat aturan demi ketepatan bahasa, berbeda dengan kelisanan yang bahasanya bisa berpanjang-panjang, dan lebih melihat situasi ketimbang aturan. Cetakan juga mengembangkan rasa privasi yang menandai masyarakat modern. Hal ini berbeda dengan masyarakat kelisanan yang cenderung komunal atau berkelompok. Membaca manuskrip yang tadinya aktivitas sosial, berubah menjadi aktivitas privat begitu sebuah tulisan dicetak massif.  Selain itu, cetakan mengenalkan “rasa kesudahan”, dimana tulisan yang dicetak haruslah benar-benar definitif.

Lebih jauh, rezim keaksaraan ini kemudian diperkuat oleh komputer dan teknologi elektronik yang membawa manusia pada apa yang disebut Ong sebagai “kelisanan sekunder”. Kelisanan sekunder adalah peristiwa kelisanan (karena mempergunakan suara) tapi terjadi dalam alat-alat komunikasi (media modern). Ong tampaknya menganggap bahwa media modern/teknologi elektronik seperti telepon, televisi dan lain-lain, adalah perpanjangan “jejak” tulisan/cetakan, oleh karenanya peristiwa kelisanan di dalam teknologi tersebut berbeda dengan kelisanan primer.

Apa bedanya kelisanan sekunder dan kelisanan primer? Ong mengambil contoh debat presiden di televisi. Menurutnya, debat presiden di televisi masa kini benar-benar tidak seperti dunia lisan. Audiens tidak hadir, tidak terlihat dan tidak terdengar. Media elektronik tidak menoleransi pertunjukan antagonisme yang terbuka seperti dalam masyarakat kelisanan primer. Meskipun ada kesan spontan, “media-media ini sepenuhnya didominasi oleh rasa kesudahan yang merupakan warisan cetak” (hal 204).

Beberapa Catatan

Gagasan Ong tentang transformasi kelisanan ke keaksaraan ini memang penting. Foucault misalnya menandai bahwa perpindahan kelisanan pada tulisan dalam dunia medis, menjadikan medis yang tadinya merupakan teknik yang harus dikuasai perseorangan menjadi kuasa segelintir orang.[iii] Namun tampaknya gagasan Ong terlalu asyik mengagungkan determinasi teknologi. Ong memang banyak menggunakan asumsi Eric Alfred Havelock (1903 – 4 April 1988), ahli Yunani Klasik yang yakin bahwa keseluruhan pemikiran Barat mengalami pergeseran besar ketika filsafat Yunani dikonversi dari kelisanan ke keaksaraan. Gagasan Havelock sendiri cukup dekat—atau bahkan disebut—melengkapi ide Marshall Mcluhan, pentolan gagasan determinasi teknologi.

Meski demikian Paul Soukup berpandangan lain. Ia mengatakan bahwa ide Ong tentang “perubahan peradaban”, se-sekuler apapun tema yang dibicarakan, lebih dipengaruhi oleh aspek religiusitas Ong sebagai salah satu anggota Serikat Jesuit. Soukup melihat pembabakan bentuk komunikasi Ong (misalnya; kelisanan, tulisan, cetakan, kelisanan sekunder) cocok dengan skema kosmis dan evolusi manusia ala Pierre Teilhard de Chardin SJ, seorang ahli paleantologi dan geologi yang juga anggota serikat Jesuit. [Soskup, 2006: 175-188]

Lebih jauh, meski Ong berusaha mendekatkan fenomena lisan-tulisan pada kehidupan masyarakat, bagi gagasan kritis, Ong sama sekali tak peka akan dominasi. Sakralitas manuskrip misalnya hanya dilihat sebagai “efek” dari kebudayaan kelisanan, dan tidak dilihat sebagai “alat dominasi penguasa”. Karena toh, sakralitas manuskrip kadang terjadi karena adanya “penguasaan tulisan” oleh kelas penguasa.

Buku Ong yang aslinya berjudul Orality and Literacy : The Technologizing of The Word sebenarnya telah terbit sejak 1982, namun baru dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia tahun 2013. Sebagai buku terjemahan, buku Kelisanan dan Keaksaraan ini terbilang cukup rumit untuk dibaca. Barangkali dalam penerjemahannya reduksi atas pemikiran Ong berusaha dihindari sekerasnya. Namun demikian, upaya penerjemahan buku ini adalah usaha yang patut diteladani. Terlebih buku ini bisa saja berguna untuk melihat fenomena kelisanan dan keaksaraan di Indonesia. []


Daftar Pustaka

Nietzsche, Freidrich. (2010) On The Use and Abuse History for The Life. Arlington, VA: Richer Resources Publications

Stoud, Hindu Communication Theory, dalam Littlejohn & Foss. (2009) Encyclopedia of Communication Theory. Thousand Oaks, CA: Sage

Foucault, Michel (2003) The Birth of The Clinic. Abingdon: Taylor & Francis

Paul A. Soukup (2006) Contexts of Faith: The Religious Foundation of Walter Ong's Literacy and Orality, Journal of Media and Religion, 5:3, 175-188, DOI: 10.1207/s15328415jmr0503_4

Bacaan Terkait
Holy Rafika D

Mengajar di Program Studi Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Berminat pada kajian komunikasi geografi, kolonialisme, dan studi media pada umumnya.

Populer
Insiden Media di Tolikara
Media dan Gelembung Citra Jokowi
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Fabrikasi Kepanikan: Liputan Media Mengenai “Susu” Kental Manis