24/10/2017
Apakah Kita Membutuhkan Superhero untuk Mengganyang Kekerasan Seksual?
Ketika serial televisi berpihak kepada para penyintas kekerasan seksual. Tanda terjadinya “kebangkitan sosial” dalam industri hiburan di Amerika Serikat.
24/10/2017
Apakah Kita Membutuhkan Superhero untuk Mengganyang Kekerasan Seksual?
Ketika serial televisi berpihak kepada para penyintas kekerasan seksual. Tanda terjadinya “kebangkitan sosial” dalam industri hiburan di Amerika Serikat.

Judul
Sweet/Vicious

Stasiun
MTV

Kreator
Jennifer Kaytin Robinson

Jumlah Musim
1 (selesai)

Jumlah Episode
10

Durasi
38 menit

Kalau ada serial drama vigilante yang bakal membikin “social justice warrior” berjoged girang sekaligus membuat orang progresif “selo” mengangguk hormat, barangkali itu adalah Sweet/Vicious. Jennifer Kaytin Robinson, sang kreator, membesut Sweet/Vicious dalam latar tingginya angka kekerasan seksual di kampus Amerika Serikat. Dalam setiap episodenya, Sweet/Vicious dengan cerdik mengemas adegan laga, humor, dan kampanye anti kekerasan seksual. Serial ini seolah ingin membuktikan bahwa televisi tidak selalu menjadi masalah, melainkan juga bisa menjadi bagian dari upaya menghapus stereotipe dan penghakiman terhadap penyintas kekerasan seksual.

Serial ini memakai formula jagoan super ala Batman, meski tokoh utama serial ini bukan begundal yang keliling kota dengan celana dalam di atas spandeks dan jubah yang bikin sulit kelahi, untuk menghajar begundal lain yang punya fashion statement yang sama buruknya—yang sebenarnya adalah esensi dari Batman itu sendiri.

Oke, serial ini sama sekali tidak seperti Batman.

Sweet/Vicious merenik perjalanan Jules Thomas, seorang penyintas pemerkosaan yang punya keahlian beladiri layaknya ninja. Bersama dengan peretas cum pengedar ganja ketengan Ophelia Mayers, Jules mengenakan hoodie dan masker sambil menggerayangi kampus di malam hari, menendang bokong—dan terkadang, biji—pelaku kekerasan seksual yang lolos dari jerat hukum. Namun ini bukan cerita tentang pembalasan dendam. Ini cerita tentang proses penyembuhan. Ini bukan pula kisah tentang keadilan bakal ditegakkan pada akhir cerita, melainkan bahwa keadilan—baik di jalanan ataupun meja hijau—adalah pertarungan dengan konsekuensi yang serius.

Jaringan MTV berhenti menayangkan serial ini setelah 10 episode musim pertama berakhir. Meski mendapat review positif dari banyak kritikus, penggemar setia, dan ramai diperbincangkan di media sosial, rating serial ini buruk. Namun demikian, Sweet/Vicious tidak hanya menjadi standar baru dalam representasi kekerasan seksual yang ramah terhadap penyintas, ia juga bisa menjalani fungsi pendidikan publik, terutama remaja dan dewasa muda yang jadi target audiens MTV. Serial ini menjelaskan tentang apa itu “seks konsensual”, apa yang harus dilakukan ketika orang dekat Anda mengalami kekerasan seksual, serta stigma dan stereotipe apa yang mesti dihindari. Ditambah lagi, serial ini tidak berkesan menggurui; ia punya banyak momen jenaka dan, ketika tone cerita berubah serius, digarap dengan sangat baik dan memiliki realisme tinggi.

Saya merasa serial ini akan tetap menarik meski Anda sudah mengetahui plot cerita sebelum menontonnya, tapi saya tetap berusaha tidak membeberkan terlalu banyak narasi serial ini. Jadi, hati-hati: ada bocoran setelah kalimat ini.

Perkenalkan: Para Begundal

Sebagaimana cerita vigilante pada umumnya, Sweet/Vicious juga punya kisah asal-usul, peristiwa yang membuat seseorang mesti menegakkan hukum dengan tangannya sendiri. Pemerkosaan yang dialami oleh Jules adalah asal-usul serial ini. Peristiwa itu memang sudah ditunjukkan pada episode pertama, tapi tak seperti kisah superhero pada umumnya yang dimulai dari awal mula, kisah ini baru benar-benar diceritakan dalam berbagai kilas balik pada pertengahan musim pertama.

Strategi narasi ini memungkinkan trauma yang dialami Jules dikupas lapis demi lapis dengan lebih hati-hati. Lima episode pertama serial ini menggunakan formula “musuh minggu ini”, di mana Jules dan Ophelia menemukan kasus kekerasan seksual, mencari siapa pelakunya, dan memberi pelajaran melalui baku hantam. Episode keempat sedikit menyeleweng dari premis ini karena tidak melibatkan kekerasan seksual, tapi membawa pesan tajam bahwa tindak kekerasan terhadap perempuan tidak hanya dimonopoli oleh laki-laki melainkan juga bisa dilakukan oleh sesama perempuan.

Sweet/Vicious mulanya mengajak kita menyaksikan kemalangan macam apa yang mesti dihadapi penyintas kekerasan seksual, terutama ketika hendak menuntut keadilan. Memasuki pertengahan musim, setelah kita sudah cukup akrab dan bersimpati dengan dua jagoan ini, kita diajak lebih jauh untuk merasakannya lewat kilas balik kekerasan seksual yang dialami oleh Jules. Dengan demikian perlu dicatat: adegan-adegan di dalamnya berpotensi memperburuk trauma apabila Anda adalah penyintas yang baru mengalami kekerasan seksual.

Sweet/Vicious merajut pengungkapan ini dengan sangat baik sehingga kita tidak hanya bersimpati pada Jules, melainkan juga memahami bahwa ada alasan kenapa kita harus mengganti kata “korban” kekerasan seksual menjadi “penyintas”. Robinson, penggagas cerita ini, dengan sengaja menarasikan dua kisah sacara paralel, dalam penataan scene yang saling bersahutan. Narasi pertama adalah narasi trauma: Jules diperkosa dan diminta tidak melaporkannya oleh pihak kampus karena si pelaku adalah bintang olahraga yang akan membuatnya “dikejar dan dicaci semua orang”. Dari sini kita mengetahui bahwa kiprah Jules sebagai vigilante adalah karir yang “terpaksa” ia ambil, sebagai cara ia menghadapi—atau merepresi—trauma yang ia alami. Jules si vigilante adalah gejala, pelampiasan segala macam perasaan yang mesti ia pendam. Narasi kedua adalah narasi tentang penemuan diri: Jules bertengkar dengan sahabat karibnya, Kennedy—yang juga pacar dari si pemerkosa—karena alasan yang berhubungan dengan kekerasan yang ia alami; merasa berantakan dan mengurung diri di kamar; tapi berhasil memaksa dirinya untuk terlibat dalam interaksi sosial yang bermakna—dan menyenangkan—bersama teman-temannya yang lain.

Hidup Jules memang tidak jadi mulus setelah episode itu—bahkan mungkin malah tambah kompleks—tapi ia menerangkan pesan penting dari serial ini: “kekerasan seksual tidak mendefinisikan dirimu.” Sweet/Vicious menolak mengulangi kesalahan media arus utama umumnya, yang menggambarkan penyintas sebagai objek kekerasan, yang lemah, mengenaskan, dan mengundang kemalangan itu pada dirinya sendiri. Serial ini adalah upaya yang cukup komprehensif dalam mengangkat representasi yang berbeda, bahwa penyintas adalah subjek yang berdaulat atas dirinya sendiri, yang berdaya untuk bergulat dalam kehidupan sehari-hari meski terus dihantui trauma yang menempel pada tubuhnya.

Tak Ada Pahlawan

Pemilihan genre superhero dalam serial ini adalah gimmick yang menyejarah. Sejak dimulai Buffy the Vampire Slayer di dekade 1990an, kekuatan fisik dan kekerasan telah menjadi bagian dalam penggambaran girl power oleh televisi Amerika. Misalnya saja, semua serial besutan Joss Wheddon—kreator Buffy yang sering dianggap sebagai salah satu jagoan feminisme di layar kaca—selalu memiliki karakter perempuan yang lebih mahir dalam perkelahian ketimbang karakter laki-laki. Kekerasan memang melekat erat dalam budaya sinema dan televisi Amerika—mungkin juga dunia—dan sebagai serial yang bicara sekaligus mengkritik kekerasan seksual, Sweet/Vicious juga menyadari dan mengeksplorasi problem dari genre ini.

Sedari episode pertama, Sweet/Vicious mengangkat dilema yang belakangan muncul dalam karya superhero “kritis” semacam Watchmen atau Captain America: Civil War. Kalau vigilante mengawasi dan membabat ketidakadilan, siapa yang mengawasi dan membabat ketidakadilan yang dilakukan vigilante? Dilema ini muncul dalam berbagai bentuk. Dari rasa bersalah dan trauma ketika mereka secara tidak sengaja membunuh salah seorang “target operasi”, hancurnya hubungan pribadi Jules-Ophelia dengan orang-orang terdekat mereka, hingga jadi buronan polisi.

Memasuki paruh kedua musim pertama, serial ini tidak lagi berfokus pada petualangan Jules-Ophelia berburu penjahat seks, melainkan pada konsekuensi-konsekuensi dari tindakan keduanya. Seiring dengan Jules yang menemukan dirinya kembali, serial ini berfokus pada bagaimana Jules berusaha untuk “memberi kesempatan pada proses hukum”. Jules tetap menempuh proses ini meski ia tahu penegakan hukum seputar kekerasan seksual sangat buruk—dan hasil dari proses yang ia tempuh pun mengonfirmasi teori ini—karena buatnya ini lebih dari sekadar sanksi pada pemerkosa. Proses hukum, betapapun buruknya, punya efek terapeutik bagi Jules, karena ia bisa berhenti melampiaskan perasaannya dalam bentuk kekerasan, dan mulai menghadapi trauma dengan lebih sehat. Baginya, proses hukum itu adalah kesempatan untuk, “mengatakan kebenaran. Dan itu sendiri sudah sangat membebaskan.”

Kekerasan diproblematisir lebih jauh lagi ketika pacar Jules menempeleng pelaku pemerkosaan di depan Jules. Adegan ini sangat memuaskan buat ditonton karena ia menyalurkan kejengkelan penonton pada si pelaku. Premis awal serial ini sendiri pun demikian, ia adalah katarsis bagi orang yang jengkel pada pelaku kekerasan seksual yang sering lolos dari hukum. Namun, alih-alih senang dibela pacar, Jules malah sebal. Si pacar akhirnya sadar bahwa Jules adalah subjek yang mandiri, yang tak perlu “orang lain untuk bertarung dalam pertempuranmu.”

Pernyataan ini sangat menohok, terutama buat kecenderungan kita untuk “menyelamatkan” penyintas. Saya sendiri beberapa kali mendengar atau mengetahui perempuan penyintas yang “diselamatkan” dari aib oleh temannya dengan cara dinikahi. Atau, teman atau saudara yang marah lalu memukuli si pelaku. Meski tindakan-tindakan ini sering dilandasi oleh empati dan rasa keadilan, apabila tidak berdasarkan persetujuan sadar oleh penyintas, justru menjadi bentuk kekerasan yang lain karena kembali menempatkan penyintas sebagai objek pasif yang tidak bisa membela diri dan tidak punya kehendak sendiri. Kejengkelan Jules pada si pacar yang “membela” dirinya juga merupakan petanda bahwa pada titik tertentu ia menyadari bahwa aksi vigilantisme yang ia lakukan bersama Ophelia juga merupakan pelanggaran yang serupa.

Kesadaran ini mengerucut pada episode finale yang digarap dengan sangat apik. Saya tidak bisa bicara terlalu banyak tentang apa yang terjadi, tapi operasi duo begundal Sweet/Vicious mengambil bentuk yang berbeda. Keduanya tak lagi vigilante yang membalaskan dendam tanpa sepengetahuan penyintas, melainkan berupaya menjadi wadah bagi penyintas untuk bersolidaritas dan saling membantu.

Kekerasan Seksual di Media

Anda mungkin mengira kalau ini adalah bagian klise ketika seorang penulis, setelah terkagum dengan produk kebudayaan “asing”, mesti kembali melihat keadaan runyam dalam negeri. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah.

Seperti apakah gambaran media atas penyintas di Indonesia? Riset Komnas Perempuan atas 9 media di sepanjang Januari-Juni 2015 menemukan 225 berita, atau 18% dari total pemberitaan media tersebut, mengangkat kekerasan seksual. Sebanyak 34% di antaranya, bicara soal pemerkosaan. Meski menempati poporsi yang cukup besar, pemberitaan-pemberitaan tersebut punya banyak masalah. Secara jurnalistik, banyak berita yang mencampurkan fakta dengan opini serta mengungkap identitas penyintas. Media pun gagap dalam memenuhi hak penyintas. Bias, stereotipe, dan penghakiman terhadap penyintas kerap menghiasi pemberitaan kekerasan seksual.

Representasi kekerasan seksual dalam produk kebudayaan populer seperti sinetron atau FTV pun jauh dari ideal. Konten-konten ini kerap memosisikan penyintas sebagai korban yang mesti “tabah” dan “nrimo” dalam menghadapi kekerasan, sambil berharap sikap itu secara magis “membuka hati” pelaku. Dalam penggambaran yang lebih besar, perempuan—pihak yang paling sering menderita kekerasan seksual—sering digambarkan sebagai objek seksual. Dalam berbagai argumen, tubuh perempuan adalah moralitas yang harus dijaga, sehingga kekerasan yang ia alami menjadi masalah moralitas, aib, yang tidak boleh disebar. Perempuan harus terlebih dahulu “introspeksi diri” apabila ia mengalami kekerasan, karena besar kemungkinan, ia telah menggoda pelaku sehingga “hilang kesadaran” dan melakukan kekerasan tersebut.

Tentu ini perbandingan yang tak setara. Indonesia punya konteks sosial yang sama sekali berbeda dari Amerika Serikat, negara kelahiran Sweet/Vicious. Beberapa tahun belakangan, industri hiburan Amerika memang tengah mengalami “kebangkitan sosial”, yang tidak hanya memberi produk yang menghibur tapi juga benar-benar bicara soal problem sosial. Selain Sweet/Vicious misalnya, terdapat juga 13 Reasons Why (Netflix) yang bicara soal bunuh diri di kalangan remaja, Black-ish (ABC) yang bicara soal rasisme pada kulit hitam, atau Shots Fired (Fox) yang bicara soal brutalitas polisi dan gerakan Black Lives Matter.

Fenomena ini muncul karena berbagai macam faktor. Tulisan ini tidak berusaha—dan tidak cukup—untuk menjabarkan bagaimana ekosistem ini terbentuk dan bekerja. Yang ingin ditekankan di sini adalah, industri penyiaran Amerika telah mengalami berbagai gejolak yang memungkinkan terciptanya ekosistem ini. Gerakan sosial pun menginvestasikan cukup banyak sumber daya untuk memastikan mereka direpresentasikan dengan baik dalam industri media, baik di atas maupun di balik layar. Meski layar Amerika tidak serta merta berubah menjadi industri kebudayaan progresif, perubahan itu ada dan cukup signifikan.

Indonesia memang masih jauh dari keadaan ini. Namun setidaknya Sweet/Vicious dan serial sejenis menyediakan horison imajinasi tentang bagaimana isu sosial dibicarakan. []

Bacaan Terkait
Yovantra Arief

Peneliti Remotivi. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar memasak dan merawat tiga ekor marmut.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna