Ilustrasi: Chen-Pan Liao, 2011 (CC-BY-SA)
Ilustrasi: Chen-Pan Liao, 2011 (CC-BY-SA)
30/08/2017
Gerakan Sosial dalam Konektivitas Digital
Bagaimanakah media baru mengubah pola partisipasi politik warga? Sebuah ulasan atas buku The Logic of Connective Action (2013) karya Alexandra Segerberg dan Lance Bennet
30/08/2017
Gerakan Sosial dalam Konektivitas Digital
Bagaimanakah media baru mengubah pola partisipasi politik warga? Sebuah ulasan atas buku The Logic of Connective Action (2013) karya Alexandra Segerberg dan Lance Bennet

Judul
The Logic of Connective Action: Digital Media and the Personalization of Contentious Politics

Penulis
W. Lance Bennet dan Alexandra Segerberg

Tahun
2013

Penerbit
Cambridge University Press

Tebal Buku
240 halaman + xiii

Dalam satu dekade terakhir, gerakan sosial politik meluas dan meningkat di berbagai belahan dunia.  Arab Spring yang menyapu Tunia, Mesir, hingga Syria; Revolusi Payung di Hongkong, hingga aksi radikal yang dikomando ISIS di berbagai belahan dunia adalah beberapa contohnya. Bentuk mobilisasi juga makin beragam. Mulai dari aksi spontan tanpa komando seperti Occupy Wall Street, jejaring transnasional yang terdesentralisasi layaknya Women’s March, hingga aksi yang diorganisasi oleh aktivis dan NGO seperti Earth Hour dan kampanye perubahan iklim.

Fenomena-fenomena ini menunjukkan bahwa media digital punya peran dalam gerakan sosial hari ini. Hal ini berkebalikan dari keyakinan bahwa era digital melemahkan gerakan kolektif, karena ia membuat manusia jadi semakin individual. Menurunnya jumlah serikat pekerja serta minimnya minat pada parpol/ormas pada era digital tidak bisa serta merta dianggap menunjukkan bahwa masyarakat apolitis. Hal ini juga bisa mengindikasikan bahwa partisipasi masyarakat dilakukan dalam bentuk yang berbeda.

Bagaimana media digital membentuk perubahan partisipasi dan aktivisme politik? Sejauh apa perbedaannya dengan pola organisasi tradisional? Bennet dan Segerberg menawarkan jawabannya dalam The Logic of Connective Action. Melangkah lebih jauh dari perdebatan antara media sosial sebagai agen perubahan vis-a-vis kritisisme terhadap clicktivism atau slacktivism, Bennet dan Segerberg merumuskan kerangka konsep baru untuk memahami dinamika aktivisme dalam ruang digital. Konsep ini disebut “connective action,” atau pola partisipasi individual berdasarkan konektivitas media digital.

Ada tiga poin utama yang menjadi karakteristik connective action. Pertama, partisipasi politik dalam ruang maya berjalan dalam logika connective action yang berbeda dari logika klasik collective action ala Mancur Olson (1965). Dalam perspektif Olsonian, individu akan ikut dalam upaya kolektif jika ia punya insentif lebih dibanding sumber daya yang harus ia keluarkan. Karena itu, agar efektif, tindakan kolektif harus terkoordinasi, punya hierarki kepemimpinan dan strategi organisasi, ada ikatan keanggotaan, dan menanamkan identitas kolektif atau ideologi. Artinya, individu terlibat dalam aksi kolektif demi kepentingan kelompok.

Sebaliknya, dalam connective action, individu tidak perlu punya komitmen terhadap kelompok tertentu. Partisipasi bisa dilakukan tanpa perlu repot menjadi anggota. Secara ekonomi, insentifnya adalah kepuasan ketika ia mengekspresikan dirinya dalam arus jejaring sosial. Secara politik, yang menjadi ikatan adalah kesamaan preferensi personal. Dalam ruang maya, aktivisme politik bersifat cair, fleksibel, dan tidak mengikat karena dilakukan secara personal, tetapi terkoneksi satu sama lain oleh kepedulian bersama akan isu tertentu. Contohnya, mulai dari petisi daring, gerakan #KamiTidakTakut, kampanye perlindungan satwa, hingga wacana vaksin/anti-vaksin. Aksi-aksi ini umumnya hanya disatukan oleh kegelisahan dan keberpihakan terhadap figur atau isu tertentu, yang tersebar lewat jejaring sosial. Partisipasi menyebar secara getok tular, atau viral dari akun media satu ke lainnya, bukan lewat jalur koordinasi terpusat.

Kedua, dalam media digital, partisipasi politik lebih menyerupai ekspresi personal individu dibanding aksi kelompok. Beredarnya tagar (hashtag) menjadi bingkai bersama sebagai penanda akan suatu isu, tetapi pemaknaannya bisa berbeda bagi setiap orang. Melalui bingkai ini, kita dapat terkoneksi, walaupun narasi, pandangan, dan makna yang diberikan bisa sangat personal, sesuai dengan aspirasi, harapan, keluhan, keyakinan, dan gaya hidup masing-masing.

Bennet dan Segerberg mengajukan konsep personal action frame (berkebalikan dengan collective action frame) sebagai fitur sentral mobilisasi di ruang digital. Contoh personal action frame yang mereka jabarkan seperti “We Are the 99%” dalam Occupy Wall Street untuk mengedepankan isu ketimpangan global. Contoh di Indonesia yang relevan adalah gerakan #SaveKPK yang selalu mengemuka setiap adanya indikasi kriminalisasi KPK. Narasi tersebut memungkinkan setiap orang dilibatkan sebagai orang yang dirugikan oleh status quo dan menginginkan perubahan. Selain itu, bingkai yang inklusif memungkinkan orang untuk membuat aksi yang berbeda, dalam bentuk meme, slogan, video, tweet, blog.

Ketiga, jejaring komunikasi menjadi inti pengorganisasian dalam ruang digital, menggantikan peran hierarki pimpinan dan keanggotaan. Media tidak hanya sebagai kanal, tetapi juga menyediakan struktur (dalam bentuk algoritma) untuk membentuk persepsi dan mengkoordinasi aksi. Mulai dari pertarungan wacana, debat kusir, penyebaran propaganda, pembuatan petisi, rekrutmen anggota, iuran dana, rapat dan koordinasi aksi dilakukan via bermacam aplikasi dan media sosial.

Orang tidak perlu bertemu, tidak perlu saling kenal untuk bisa berpartisipasi. Partisipasi tak eksklusif pada anggota inti organisasi, tapi juga menarik simpatisan dan orang luar yang membantu menyebarkan gagasan, menyumbang dana, atau ikut turun ke jalan. Tidak seperti long march atau revolusi tahun 1960-1980an yang umumnya dikomando serikat pekerja, mahasiswa, atau elit parpol, gerakan sosial kontemporer lebih cair, tidak terbatas ideologi, dan beragam level partisipasinya.

Tipologi Jejaring Aksi dalam Ruang Digital

Meski inti pembahasan buku ini adalah mengenai pola baru aktivisme digital, Bennet dan Segerberg tidak serta merta menganggap pola organisasi aksi kolektif tradisional sudah tergerus zaman. Bagi mereka, logika connective action adalah adendum yang melengkapi (bukan menggantikan) logika collective action. Bennet dan Segerberg merumuskan tiga tipologi aksi berdasarkan bentuk organisasi dan jejaring yang dihasilkan.

Pertama, crowd-enabled action yang dihasilkan murni dari ekspresi personal individu yang saling menarik berbagai aksi personal lainnya. Dalam tipe ini, media digital menjadi struktur sekaligus agen organisasi. Contoh yang diberikan Bennet dan Segerberg adalah pola organisasi protes Los Indignados (15M Movement) di Spanyol (2012) atau Occupy Wall Street di Amerika Serikat (2011). Perang wacana yang menjadi santapan sehari-hari di linimasa, seperti kontroversi penistaan agama atau penutupan patung dewa, juga bisa disebut sebagai crowd-enabled action karena ia berawal dari aksi personal yang kemudian bergulir dan dikritisi. Aksi sumbangan yang diinisiasi dan viral lewat media sosial juga bisa disebut sebagai crowd-enabled action—koin untuk Prita, contohnya.

Kedua, organizationally-enabled action, paling sering dijumpai saat ini, di mana logika hibrid collective dan connective action berjalan berdampingan. Tetap ada struktur formal yang dikoordinasi oleh suatu badan organisasi, tetapi lewat media digital, organisasi membuka partisipasi individu lewat berbagai kampanye. Misalnya, Aksi Kamisan yang digawangi oleh Kontras tetapi individu bisa berpartisipasi dalam berbagai aksi, offline maupun online.

Terakhir yaitu organizationally-brokered action yang berarti aksi yang terpusat oleh kontrol organisasi tertentu. Dalam jenis aksi ini, media digital hanya digunakan sebagai perangkat atau corong untuk menyebarkan gagasan. Anggota dan personel organisasi tetap menjadi aktor inti dalam mobilisasi. Mereka merumuskan collective action frame untuk menarik orang berpatisipasi. Misalnya adalah berbagai aksi yang dikoordinasi Greenpeace.

Aplikasi dan Relevansi

Setelah memaparkan rumusan konseptual di bab pertama, Bennet dan Segerberg selanjutnya menguji teori mereka dengan pijakan empiris studi perbandingan berbagai kasus. Di bab ketiga, contohnya, Bennet dan Segerberg membandingkan protes enviromentalis “Put People First” (dengan tipe organizationally-enabled) dan “Meltdown Movement” (contoh  organizationally-brokered) di Inggris, serta #COP15 di Kopenhagen (crowd-enabled networks) untuk memberikan gambaran riil perbedaan pola mobilisasi dan organisasi dalam logika connective/collective action.

Pada bab keempat dan kelima mereka memberikan perbandingan inter-regional dengan memetakan dan menganalisis gerakan berbasis jaringan digital di Inggris (kampanye “Robin Hood Tax”) dan di AS (protes “Occupy Wall Street”). Melalui kasus tersebut, mereka menunjukkan bahwa isu sentral yang diusung dalam berbagai aktivisme boleh jadi serupa, tetapi pengorganisasian dan mobilisasi jaringan menempuh nalar yang berbeda.

Kita juga bisa menarik relevansi logika connective action untuk menelaah dinamika di Indonesia. Yang paling segar dalam memori adalah Aksi Bela Islam yang menggerakkan mobilisasi dengan jumlah terbesar di era post-Reformasi. Protes di tanggal-tanggal cantik dipicu oleh ekspresi personal individu (Ahok) yang dibingkai dalam pemaknaan personal orang lain (Buni Yani) yang kemudian mengundang massa (crowd) hingga muncul perang wacana dalam jejaring maya. Di titik ini, proses crowd-enabled networks telah terbentuk. Tetapi, untuk mentranslasikan kontroversi wacana menjadi mobilisasi massa, diperlukan mediasi dari organisasi yang punya struktur yang lebih mapan (mulai dari FPI, MUI, hingga elit partai).

Kita melihat persinggungan crowd-enabled networks dengan organizationally-enabled dan organizationally-brokered networks. Struktur jaringan yang terbentuk lewat algoritma di dunia maya diperkuat dengan identitas kolektif organisasi Islam dan kepentingan politik partai. Sebaliknya, perngorganisasian hingga akar rumput diperkuat dengan ekspresi dan aksi personal yang dilakukan lewat komen Facebook, pos di VOA Islam atau Ar-Rahmah, share artikel di Whatsapp, hingga ceramah di masjid-masjid. Massa yang bergabung tidak hanya mereka yang mengidentifikasi dengan FPI atau partai, tetapi juga individu yang secara personal meyakini demonstrasi adalah jalan untuk membela keyakinannya. Bingkai identitas kolektif ataupun aksi personal bersisian dan memberikan ruang bagi individu untuk berpartisipasi sebagai ekspresi preferensi politiknya.

Contoh dari Indonesia dapat menjadi kritik bagi tipologi jejaring aksi yang dirumuskan Bennet dan Segerberg. Pada praktiknya, ketiga jejaring aksi ini tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara rigid. Karena itu, tipologi ini lebih tepat jika dilihat sebagai sebuah spektrum.

Keterbatasan lain buku ini adalah tidak menjawab tentang efektivitas connective action dalam mendorong perubahan sosial. Jika memang connective action bekerja dalam logika yang berbeda, muncul pertanyaan kapan dan bagaimana aktivisme di ruang maya bisa sukses dan gagal? Bagaimana mengukur kegagalan dan kesuksesan aktivisme digital jika segala bentuk partisipasi politik dikembalikan pada relativisme individual (ekspresi personal)? Lalu, dalam tataran yang lebih luas, bagaimana implikasi sosial politik dari perubahan pola gerakan sosial ini?

Untuk mengisi kekosongan tersebut, saya merekomendasi untuk membaca buku ini beriringan dengan studi Merlyna Lim, Many Clicks but Little Sticks (2013). Kajian dalam konteks Indonesia ini bisa memberikan temuan yang kaya untuk membuat kita berpikir tentang narasi sebagai salah satu faktor penting menentukan efektivitas aktivisme digital. Dalam studi terbarunya, Freedom to Hate (2017), Lim menyajikan refleksi apa implikasi aktivisme digital, yang terbentuk dari interaksi mutual antara struktur algoritma dan agensi individu, pada dinamika politik elektoral.

Terlepas dari kritik tersebut, Bennet dan Segerberg memberikan tiga kontribusi penting bagi studi media. Pertama, kontribusi teoretik dengan memberikan kerangka berpikir mengenai pola aktivisme digital yang berbeda dari aksi kolektif tradisional. Kedua, kontribusi pada kajian interdisipliner yang menjembatani studi media dengan kajian mobilisasi dan gerakan sosial dalam studi politik. Yang tak kalah penting adalah kontribusi metodologis. Bennet dan Segerberg mencontohkan berbagai inovasi dalam metode analisis narasi, isi website, jejaring sosial, dan tagar Twitter. Mereka memanfaatkan internet sebagai sumber data terbesar sekaligus sebagai perangkat analisis untuk menelusuri bagaimana data tersebut diproduksi dan bergulir. Kekuatan buku ini membuatnya jadi referensi yang wajib ada di pustaka mahasiswa, akademisi maupun pegiat isu teknologi dan gerakan sosial. []


Referensi

Olson Jr., Mancur. 1965. The Logic of Collective Action: Public Goods and the Theory of Groups. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Lim, M., 2013. Many clicks but little sticks: Social media activism in Indonesia. Journal of Contemporary Asia43(4), pp.636-657.

Lim, M., 2017. Freedom to hate: social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia. Critical Asian Studies49(3), pp.411-427.

Bacaan Terkait
Aulia Nastiti
Sebagai Arryman Fellow 2016, kini Aulia sedang menjalani studi pre-doktoral di pusat riset Equality Development and Globalization Studies, Buffet Institute of Global Studies, Northwestern University. Tertarik pada kajian media dan ekonomi-politik teknologi digital.
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna