17/07/2017
Kekerasan dan Ideologi: Sebuah Tur bersama Slavoj Žižek
Bagi Žižek, kekerasan adalah medium komunikasi. Apa yang disampaikan oleh kekerasan?
17/07/2017
Kekerasan dan Ideologi: Sebuah Tur bersama Slavoj Žižek
Bagi Žižek, kekerasan adalah medium komunikasi. Apa yang disampaikan oleh kekerasan?

Judul 
Violence: Six Sideways Reflections

Penulis 
Slavoj Žižek

Tahun 
2008

Penerbit 
Picador

Tebal Buku 
262 halaman

Pengaruh konservatisme Islam dalam lanskap politik Indonesia mencapai titik baru ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dijatuhi vonis dua tahun penjara karena melakukan penistaan agama. Bagi publik, kejadian ini memiliki dua konsekuensi yang besar. Pertama, ia memberi preseden hukum yang dapat melegitimasi penggunaan pasal penistaan agama dengan lebih masif lagi di masa depan. Kedua, ia dapat membuat kelompok Islam konservatif merasa semakin leluasa melakukan tindakan diskriminatif.

Semua hal ini membuat publik semakin takut akan ancaman kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam intoleran, bahkan mengaitkannya dengan kemungkinan terulangnya kekerasan seperti pada kerusuhan 1998. Tapi perlukah kita semakin takut?

Dalam buku ini, Slavoj Žižek menunjukkan bahwa kita tidak pernah memaknai kekerasan sebagai fenomena yang objektif maupun netral. Sebaliknya, pemaknaan kita mengenai kekerasan selalu dipengaruhi oleh ideologi tertentu yang mengkondisikan bagaimana kita menganggap tindak kekerasan yang satu lebih penting untuk disorot ketimbang yang lain. Lebih dari itu, ideologi bahkan melegitimasi tindak kekerasan tertentu sembari mengutuk kekerasan lainnya.

Žižek memberi contoh bagaimana ideologi bekerja pada tulisan TIME berjudul “Perang yang Paling Mematikan di Dunia” (The Deadliest War in The World). Tulisan itu berisi kematian 4 juta orang akibat kekerasan politik di Kongo. Anehnya, pemberitaan ini tidak memantik respons yang masif dari publik selain sejumlah surat pembaca. Menurut Žižek, penyebab diamnya publik ini adalah karena TIME memilih “korban” yang sulit untuk diidentifikasi dengan masyarakat Barat (hal. 3). Sebaliknya, ia menduga bahwa publik barat tidak akan bergeming apabila yang disorot adalah sosok korban yang lebih populer, seperti perempuan Muslim yang mengalami kekerasan maupun keluarga korban terorisme 9/11.

Tujuan buku ini adalah untuk menunjukkan apa yang Žižek sebut dengan “kekerasan objektif” (objective violence), yakni kekerasan tak terlihat yang telah bekerja pada “kondisi normal” sebuah masyarakat yang harmonis (hal. 2). Ideologi membuat kita luput menyadari kekerasan objektif tersebut. Cara pandang bahwa kekerasan adalah gangguan pada kondisi normal masyarakat, adalah cara pandang ideologis, karena membayangkan masyarakat sebagai entitas yang harmonis dan damai.

Buku ini berharga bagi studi media karena membantu melihat bagaimana media dan khalayak dipengaruhi oleh sebuah ideologi dalam melihat kekerasan. Buku ini sendiri penuh dengan analisis Žižek mengenai bagaimana ideologi mengkonstruksi bingkai media dalam konflik Israel-Palestina, tragedi Holocaust, badai Katrina, hingga kedermawanan Bill Gates dan krisis ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2008. Melalui pembahasan fenomena-fenomena tersebut, kita dapat memahami dengan lebih baik berbagai bentuk kekerasan objektif yang menjadi bahasan utama ulasan ini. Untuk sementara, kita perlu mengingat dengan baik satu hal: kekerasan fisik, seperti aksi terorisme, hanyalah bentuk kekerasan yang paling mudah untuk disadari.

Medium adalah Pesan

Mengambil kasus kerusuhan oleh imigran Muslim di Prancis pada tahun 2005, Žižek mengidentifikasi adanya dua gagasan dominan dalam melihat kekerasan politik oleh kelompok Islam. Gagasan pertama menyatakan bahwa kekerasan tersebut merupakan perwujudan dari rasa terancam kelompok Muslim atas gaya hidup Prancis yang menggerus identitas dan tradisi mereka (hal. 77).  Pendeknya, alasan para teroris melakukan kekerasan adalah karena mereka berupaya untuk menjaga identitas agama yang mereka anggap luhur dan superior dari kebudayaan barat yang hedonistik dan banal (hal. 86).

Di sisi lain, gagasan kedua menganggap bahwa kerusuhan yang dilakukan imigran Muslim Prancis disebabkan buruknya kualitas hidup mereka. Maka, solusi kerusuhan tersebut adalah peningkatan kesejahteraan imigran, seperti memberikan lapangan kerja untuk mereka (hal.75). Gagasan serupa dapat kita temukan pada kasus pilgub DKI, dimana perlawanan terhadap Ahok sesungguhnya berhulu pada persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat kelas bawah ibukota.

Bagi Žižek sendiri, kedua pandangan ini keliru. Jika penyebab kekerasan adalah permasalahan kesenjangan ekonomi, maka mengapa pelakunya tidak menyatakan masalah ini secara gamblang? Kekerasan, bagi Žižek, tidak dapat diinterpretasikan, alias tidak ada ‘makna tersembunyi’ yang dapat dapat ditemukan di baliknya (hal. 76).

Žižek memandang kekerasan dalam terminologi ahli komunikasi Marshall McLuhan, bahwa medium merupakan pesan (The medium is the message). Pesan dari kekerasan dapat ditemukan pada kekerasan sebagai sebuah medium (hal. 78). Maksud dari pernyataan ini adalah kekerasan selalu menjadi sorotan publik, dan tujuan dari kekerasan itu sendiri bisa jadi hanyalah untuk memancing perhatian. Maka, menurut Žižek, pertanyaan yang tepat untuk diajukan adalah mengapa para pelaku kekerasan perlu memancing perhatian publik yang lebih luas.

Dalam kerusuhan imigran Muslim Prancis terdapat kesalahan cara pandang bahwa kelompok Islam memiliki sifat konservatif, menolak perubahan, dan ingin melestarikan tradisi agama mereka dari pengaruh kebudayaan barat yang kotor. Masalahnya kelompok Islam itu sendiri tidak diintegrasikan ke dalam nilai-nilai universal barat: dalam peradaban barat, mereka selalu menempati posisi liyan dan tidak mendapat tempat dalam imajinasi masyarakat barat modern (hal. 77). Teror tak lahir dari perasaan superior, melainkan perasaan inferior Islam intoleran yang tanpa sadar telah menggunakan kebudayaan Barat untuk mengukur nilai diri mereka sendiri (hal. 86).

Karena peliyanan, imigran muslim Prancis menggunakan kekerasan untuk menarik perhatian. Pesan dasar kerusuhan imigran Muslim Prancis adalah upaya membentuk kembali komunikasi antara kelompok Islam dan kebudayaan Barat, seperti pertanyaan, “Halo, kamu mendengarkan saya?” di telepon (hal. 79). Komunikasi ini tidak bertujuan membangun kesalingpahaman satu sama lain, melainkan memaksa kelompok Barat untuk mengakui eksistensi kelompok Muslim.

Maka bagi Žižek tindakan seperti terorisme lebih bertujuan untuk mengusik kenyamanan hidup masyarakat barat ketimbang meraih tujuan mulia untuk menciptakan masyarakat Islam (hal. 92). Penghancuran World Trade Center pada September 2001, misalnya, tentu tidak berarti menghancurkan seluruh Amerika Serikat. Namun ia bertujuan untuk membuat masyarakat Amerika Serikat hidup dalam ketakutan dan tidak dapat menikmati hidup mereka lagi.

Jalan Buntu Toleransi Liberal        

Mengapa kelompok Muslim merasa terliyankan dalam kebudayaan Barat yang mengusung liberalisme? Bukankah liberalisme justru memberikan kemungkinan bagi berbagai kelompok untuk hidup berdampingan dengan damai? Dari sudut pandang liberal ini, tentu saja tindakan kelompok Islam konservatif dinilai sebagai tindakan sewenang-wenang pada kehidupan kelompok lain. Justru perspektif inilah yang hendak digugat Žižek.

Žižek tidak menolak cita-cita masyarakat plural yang didambakan liberalisme. Masalahnya, menurut Žižek liberalisme itu sendiri tidak pernah netral. Meski liberalisme dianggap memungkinkan perlakuan yang adil untuk semua kelompok, nyatanya ia selalu menguntungkan kelompok yang mengusung kebudayaan modern barat (hal. 145).

Ambillah contoh penggunaan kerudung bagi perempuan Muslim. Dari sudut pandang liberalisme, penggunaan kerudung bukanlah sebuah bentuk diskriminasi asal sang perempuan melakukannya atas kehendak pribadi dan bukan karena doktrin agama maupun paksaan orang terdekat mereka. (hal. 146). Penggunaan kerudung, dalam liberalisme, dimaknai sebagai “keputusan pribadi”, dan bukan tanda keanggotaan dalam sebuah masyarakat Muslim.

Penggunaan kerudung tidak boleh lagi dimaknai sebagai sebuah tradisi kolektif. Artinya, masyarakat liberal yang “mempercayai dengan bebas” hanya dapat terwujud dengan mencerabut individu dari sebuah tradisi agar terintegrasi dalam masyarakat liberal. Inilah yang dianggap Žižek sebagai sebuah kekerasan objektif, dimana tanpa proses kekerasan ini masyarakat liberal tidak dapat tercipta.

Tak heran seorang Muslim menempati posisi liyan yang tidak terelakkan dalam masyarakat liberal Barat. Sebaliknya, seorang individu modern menempati posisi yang diunggulkan dalam masyarakat liberal karena mereka melakukan sesuatu atas nama kehendak pribadi dan tidak terikat pada tradisi apa pun (hal. 147).

Selain itu, Žižek mengemukakan “kebebasan memilih” dalam perspektif liberal merupakan hal yang problematik. Liberalisme tidak dapat menerima praktik-praktik yang membelenggu perempuan di negara dunia ketiga seperti sunat perempuan dan perkawinan anak, namun abai terhadap beban berat perempuan untuk mempercantik diri dengan operasi plastik, misalnya, untuk dapat menemukan pasangan dan hidup bahagia (hal. 145). Tentu saja, karena upaya-upaya tersebut dianggap dilakukan atas nama kebebasan individual.

Kapitalisme yang Tak Terlihat

Sebagai seorang Marxist, tentu saja sasaran Žižek adalah kapitalisme. Kita dapat melihat kaitan antara kapitalisme dan paham toleransi liberal sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Kapitalisme sendiri tidak mengharuskan anggotanya memiliki sebuah identitas ataupun kepercayaan yang spesifik, asalkan tidak menghambat jalannya roda perekonomian kapitalisme itu sendiri. Individu modern barat dikonstruksi melakukan sesuatu atas nama ‘kebebasan individual’ dan tidak terikat lagi pada tradisi tertentu, sehingga individu tampak ‘seakan-akan’ memiliki privilese dalam sistem kapitalisme.

Di atas segalanya, Žižek menempatkan konsep “kekerasan objektif” sebagai sebuah masalah yang mendesak dalam sistem kapitalisme global. Žižek tidak menafikan kekerasan luar biasa oleh rezim-rezim komunisme. Namun, ia menegaskan adalah lebih mudah mengidentifikasi kekerasan oleh ‘kelompok’ maupun ‘rezim’ komunisme ketimbang kekerasan sistem kapitalisme itu sendiri, seperti kemiskinan yang terjadi akibat krisis ekonomi. Pun, tidak ada “rezim” kapitalis ataupun “Manifesto Kapitalisme” yang dapat disalahkan sebagai sumber kekerasan di dunia, seperti kita dapat menyalahkan partai Nazi maupun “Manifesto Komunisme” (hal. 14).

Contoh kekerasan yang sulit diidentifikasi adalah tayangan kemiskinan yang hampir tidak pernah menyinggung penyebabnya. Di situ, kemiskinan ditempatkan sebagai kemalangan yang alamiah, layaknya bencana alam yang tidak diketahui dari mana datangnya. Dalam kemiskinan yang demikian, muncul sosok-sosok pengusaha seperti Bill Gates yang beramal sholeh mendonasikan harta mereka dengan murah hati. Ini ironis, ketika kemiskinan merupakan  buah kapitalisme dunia dimana para pengusaha itu memperoleh keuntungan paling besar (hal. 20).

Akhir kata, buku ini menggugah kita untuk menelaah dengan lebih cermat ragam kekerasan di media. Ada kalanya kekerasan objektif dinyatakan dengan sangat jelas media, namun kita semua luput menyadarinya. Sebagai contoh, menggelikan sekali—kalau tidak membuat kesal luar biasa—apabila Anda menemukan berita dimana Hary Tanoesoedibjo berkata bahwa “Indonesia belum makmur karena menganut sistem kapitalisme”. []

Bacaan Terkait
Eduard Lazarus Tjiadarma
Lahir di bulan April. Kini menulis dan meneliti media di Remotivi. Meminati studi ideologi, teori kritis, dan perubahan sosial.
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"