17/05/2017
Keajaiban dan Kehilangan di Era Digital
Selain mengubah dunia bisnis dan teknologi, internet juga berperan besar dalam membangun budaya manusia.
17/05/2017
Keajaiban dan Kehilangan di Era Digital
Selain mengubah dunia bisnis dan teknologi, internet juga berperan besar dalam membangun budaya manusia.

Judul
Magic and Loss: Internet as Art

Penulis
Virginia Heffernan

Tahun
2016

Penerbit
Simon & Schuster

Tebal
272 halaman

Jika kita dapat mengatakan bahwa ada satu benda yang telah “mengubah segalanya”, predikat itu layak diberikan kepada internet. Internet telah menjadi teknologi mutakhir yang—bila mengutip Arthur C. Clarke—tidak dapat dibedakan dari sihir. Namun, Virginia Heffernan tidak hanya melihat internet sebagai sebuah artefak teknologis yang memudahkan pekerjaan sehari-hari. Ia juga merupakan artefak kultural, atau internet sebagai sebuah artefak dan sebuah ide. Seberapa besar pengaruh internet dalam mengubah tatanan kehidupan?

Heffernan membahas kultur digital internet sebagai sebuah blok bangunan. Apabila kultur analog dibangun dari ragam hal seperti gambar, film, lukisan, busana, arsitektur, atau makanan, maka kultur digital (yang secara teknis merupakan bit dan pixel) dibangun oleh hal yang lebih sederhana: desain, teks, gambar, video, dan musik. Tiap building block ini dijadikan satu bab tersendiri, dengan sejarah dan filosofinya masing-masing.

Dimulai dari TV

Sebagai kritikus televisi di New York Times, Heffernan menyadari bahwa televisi adalah medium yang unik. Kritikus dan masyarakat biasanya menilai konten dari sebuah medium secara berimbang; baik atau buruk, namun tidak bagi televisi. Televisi sudah langsung dicap sebagai  alat pembodohan, racun bagi masyarakat. Menontonnya hanyalah membuang-buang waktu saja. Betapapun konyolnya buku, betapapun sadisnya film dan membosankannya teater, anda telah berpartisipasi dalam dunia seni jika menikmati mereka. Menatapi acara televisi? Anda akan dicap sedang tidak melakukan apa-apa! (hal.187)

Anehnya cap ini tidak dilayangkan pada video internet, misalnya Youtube, sebuah medium yang nyaris sama dengan televisi.

Asal Anda tahu, jumlah produksi konten televisi lebih sedikit dibandingkan dengan video internet, khususnya Youtube. Produksi tiga stasiun televisi terbesar Amerika (ABC, NBC, dan CBS) dalam enam puluh tahun sama dengan produksi Youtube dalam dua minggu. Youtube adalah tempat kelahiran sebuah genre seni baru bernama video internet. Columbia Journalist Review menyebutnya sebagai “bentuk komunikasi transparan, tanpa konteks kultural, kurasi, atau translasi”. Sementara oleh Ethan Zuckerman, Youtube diklaim sebagai kenyataan, rekaman sejarah—kebenaran.

Sebelum Youtube, situs internet lain pada tahun 1996-1999 seperti Amazon (didirikan tahun 1994) dan Craigslist (didirikan tahun 1995) hanyalah translasi digital dari bisnis luring. Benda fisik masih menjadi komoditas utamanya. Akses kepada file video di internet masih bersifat transaksional. Sebuah laman seperti College humor hanya berperan sebagai produsen yang mengunggah video dan pengguna internet sebagai konsumen sebab sebuah video harus diunduh terlebih dahulu sebelum dibuka oleh perangkat pemutar video di komputer Anda.

Youtube mengubah konsep menikmati video di internet dengan memilih menjadi tempat untuk berbagi video antar pengguna, sesuatu yang dapat memakan waktu dan biaya bila menggunakan email dengan koneksi dial-up. Youtube bukanlah produsen atau kurator video. Ia mengandalkan aktivitas pengguna dalam mengunggah dan memberi komentar sebagai sumber lalu lintas web yang utama.

 Pada 2005, awal kemunculan Youtube, kebanyakan format video yang diunggah masih mirip dengan tayangan di televisi; komedi sketsa, cuplikan klip video musik, dan tayangan video amatir yang bisa dilihat di America’s Funniest Videos. Kini Youtube menciptakan sebuah genre sendiri: video Youtube, vlog momen pribadi yang candid, binatang peliharaan, review produk, kegagalan aksi atraksi dan sebagainya. Untuk ini, Heffernan mengatakan bahwa video internet menghadirkan kepuasan dari hasrat yang dimunculkan ketika menontonnya. Rasa bersalah, malu, atau apapun yang muncul ketika kita melihat yang tidak pantas untuk dilihat. Perasaan ini justru tepat sasaran. Di tengah produksi Hollywood yang semakin basi dan klise, Youtube menghadirkan kegairahan intelektual and emosional (hal. 169).

Mudah untuk melihat internet sebagai ekstensi dari televisi sang perangkat amoral, tapi bedanya, “You” di Youtube menghadirkan demokratisasi konten. Di Youtube kita melihat pengguna lain, bukan taipan media yang penuh kepentingan ekonomi dan politik. Heffernan melihat bahwa kutukan kepada televisi (yang kini juga ditujukan pada video internet baik Youtube, Instagram, Vine, Snapchat) justru membawa anugrah.

Dengan dikungkung di bawah awan moralitas kelabu—dan mencoba mendobraknya—televisi Amerika Serikat akhirnya menghadirkan daftar tayangan drama berkualitas yang mampu menyaingi sinema. Ditambah dengan kehadiran Netflix yang mampu membawa marathon nonton televisi kemanapun, aktivitas menonton bukan lagi kemalasan. Dengan menonton di laptop sambil berkomentar di Twitter, semua orang diubah menjadi kritikus film yang menebak plot dan menganalisis penandaan dalam film sebagaimana ahli semiotika.

Sementara Youtube terus merangkul aura “keamatiran” dan memberi distingsi dengan budaya video tradisional yang akhirnya menciptakan microgenre baru yang unik. Dengan demikian, Youtube mengkokohkan reputasinya sebagai rumah bagi para kaum non-konvensional.

Membaca dan Dibaca di Internet

“Sejarah digitisasi adalah sejarah membaca”, tulis Heffernan (hal. 65). Maksudnya adalah komputer membaca bahasa biner (angka 0 dan 1) dalam menerjemahkan bahasa sederhana. Internet adalah sebuah medium yang dapat dibaca dan sangat penuh dengan teks. Judul berita penuh dengan click bait. Jutaan buku dikonversi dari analog menjadi bentuk pdf. Miliaran hasil pencarian Google adalah berupa teks.

Desain hanyalah masalah sekunder di awal kemunculan internet. Tampilan situs dan browser sama buruknya, penuh dengan iklan pop-up, toolbar, palet warna berantakan serta tulisan-tulisan serampangan sesak memenuhi layar. Hal ini sama bila dibandingkan dengan sejarah tampilan antarmuka komputer. Pada mulanya monitor komputer dipenuhi deretan kode berwarna hijau di atas latar belakang hitam.

Barulah di tahun 1970an antarmuka grafis dihadirkan oleh Macintosh (setelah mengambil ide dari Xerox). Tidak heran jika Apple, yang selalu mempedulikan desain, menghadirkan App Store, sebuah portal aplikasi, musik, podcast, film, buku terpisah dari web. Akses khusus ke App Store melalui aplikasi tersendiri atau iTunes bukanlah tanpa sebab. Pengkhususan akses ini adalah untuk menghadirkan keeksklusifan. Bila laman web adalah sebuah pasar, App Store adalah sebuah plaza. Situs yang ingin menghadirkan kemewahan akan mengikuti pola ini. Mereka memberikan distingsi yang jelas, sebuah ketenangan dan elegansi di tengah keramaian lalu lintas internet.

Walaupun makin banyak situs yang memperbaiki desain mereka, Heffernan menulis bahwa desain internet tetap menggunakan semangat open source dan populis (hal. 43). Dengan begitu, menurut Heffernan, internet dapat menjadi ruang komersial sekaligus ruang kolaboratif.

Internet merupakan ruang redaksi yang menghadirkan kecepatan dan kelimpahan. Para penulis dipaksa untuk menulis sebanyak mungkin dan secepat mungkin, dengan tenggat waktu serendah dua puluh lima menit. Jurnalis interent diukur dari derajat keramahannya dengan para pengiklan dan kualitas konten hanya jadi nomor dua. Situs seperti Huffington Post bahkan menunjukkan bahwa penulis tidak hanya ingin menulis tanpa bayaran, namun juga rela mengerahkan waktu dan tenaga untuk bisa masuk ke panggung digital—sebagai sebuah kerja kultural.

Dengan kehadiran ponsel pintar dan situs mobile, barulah muncul sebuah desain yang kohesif dan bahasa visual menjadi bahasa utama dalam komunikasi internet. GIF digunakan sebagai reaksi di kolom komentar situs berita, tweet yang dipenuhi emoji dan emoticon. Semua perangkat ini merupakan cara baru berbahasa hiperteks di dunia virtual. Gambar menjadi lingua franca dari internet yang baru.

Dari semua bentuk visual di perangkat genggam, video game memberikan pengaruh terbesar terhadap desain. Memang medium internet dan video game memiliki banyak kesamaan: sama-sama audio visual yang dihadirkan dengan interaktivitas, sama-sama merupakan medium dua arah. Video game juga menghadirkan filsafat Buddhisme ke dalam sirkuit elektronik. Hidup dan mati adalah sebuah siklus tanpa akhir. Ada tombol restart bila anda kalah, anda bisa menyimpan dan mengulang permainan. Salah satu contoh yang paling radikal adalah aplikasi permainan Hundreds yang tidak memiliki narasi atau tokoh. Bahkan ketika pemain “mati”, lagu terus mengalun seolah-olah tidak ada yang terjadi. Filsafat ini memenuhi kepentingan utama dari video game, yaitu memaksa pemain untuk tetap memantengi layar smartphone selama mungkin, dengan begitu tingkat kebosanan sebisa mungkin diminimalisasi.

Filosofi Buddhisme ini juga ditranslasikan ke dalam algoritma internet. Laman berita seperti Washington Post atau Wall Street Journal menawarkan bacaan terkait berikutnya setelah anda selesai membaca sebuah artikel. Netflix dan Spotify merekomendasikan sebuah film atau musik berdasarkan konsumsi sebelumnya. Media sosial bahkan menghadirkan tampilan linimasa yang memudahkan pembaca sambil menghadirkan artikel dan opini yang sesuai dengan pemikiran tiap individu. Anda tidak lagi hanya membaca, tapi juga dibaca: oleh perusahaan dan pengiklan. Desain di internet diciptakan untuk klik, untuk mengetik, dan untuk tetap setia terjebak dalam satu situs.

Internet Sebagai Artefak Budaya

Apakah internet benar-benar merubah segalanya?

Dengan internet, kita memang melihat sebuah revolusi terbesar di sejarah manusia setelah revolusi agrikultur dan revolusi industri. Internet menjadi gudang data digital, menyempitkan benda fisik seperti buku dan gambar menjadi teks dan pixel.  Namun, internet tidak bisa menggantikan realitas. Ia hanya menghadirkan kompresi informasi (lossy compression) dari realitas. Lossy merupakan istilah kompresi data, dimana informasi yang tidak diperlukan dibuang sehingga ukuran data lebih kecil. Ini tentu membuat perbedaan yang nyata. Seberapapun canggihnya sebuah MP3 Player tidak bisa menggantikan suara-suara di konser seperti suara napas yang sesak atau suara hentakan kaki pemain bass. Detil-detil kecil namun penting ini yang menciptakan pengalaman mendengar sebuah pengalaman manusiawi yang tidak dapat digantikan.

Heffernan mengutip filsuf Jacques Lacan dalam menjelaskan fenomena ini. “Kita menolak indra kita dijinakkan sepenuhnya.” Heffernan meminjam gagasan Lacan bahwa manusia justru tertarik dengan hal yang tersembunyi, bukan tontonan yang disajikan di depan mata kita. Ini sebabnya pada tahun 2015 konser musik langsung mencapai pendapatan terbesarnya serta buku-buku fisik belum sepenuhnya tergantikan oleh e-book.

Internet dengan segala kemampuannya menyempitkan ruang dan waktu, namun juga menciptakan sebuah ruang kolektif yang membuatnya berbeda dari teknologi pendahulunya. Uber tidaklah sama dengan menelpon jasa taksi. Airbnb bukan sekedar memesan kamar untuk tidur di luar kota, dan e-commerce tidak sama dengan belanja ke supermarket. Internet merupakan sebuah rezim yang memiliki aturan sendiri. Di dalamnya kita berpartisipasi dengan avatar, mengunggah informasi diri kita dan menciptakan sebuah ekosistem digital. Ia merupakan sebuah bentuk peradaban manusia sekaligus kritik terhadap peradaban tersebut. Internet mungkin bukanlah sebuah realitas, namun ia adalah sebuah bentuk seni yang nyata dan sama seperi bentuk seni lainnya ia menghadirkan kemagisan dan kehilangan—magic and loss.

Terakhir, Heffernan tidak hanya menyajikan analisis kultural atas kehebatan internet, Magic and Loss  juga menulis cerita-cerita kegagalan dalam sejarah internet seperti aplikasi Spritz yang membantu membaca lebih cepat namun malah mengganggu mata. Magic and Loss tidak memuliakan internet sebagai perangkat serba bisa atau mempersetankan internet sebagai alat tindak asusila. Buku ini menarik karena internet hanya dianggap sebagai teknologi terbaru di linimasa sejarah kita. Dengan begitu, Magic and Loss dapat menjadi sebuah pandu agar kita tidak gagap berhadapan dengan internet dan barangkali juga teknologi yang akan datang sesudahnya. []

Bacaan Terkait
Steven Handoko

Mengenyam pendidikan sinematografi di Universitas Multimedia Nusantara. Kini bekerja lepas sebagai editor video di Remotivi.

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"