07/04/2017
Memikirkan Ulang Media dalam Komunikasi Geografi
Geografi mulai gemar digeluti sarjana komunikasi, menandai "balikan spasial" dalam kajian sosial. Bagaimanakah nosi tentang ruang membantu kita memahami komunikasi?
07/04/2017
Memikirkan Ulang Media dalam Komunikasi Geografi
Geografi mulai gemar digeluti sarjana komunikasi, menandai "balikan spasial" dalam kajian sosial. Bagaimanakah nosi tentang ruang membantu kita memahami komunikasi?

Judul
Geographies of Communication: The Spatial Turn in Media Studies

Penulis
Jesper Falkheimer & Andre Jansson (Editor)

Tahun
2006

Penerbit
Nordicom

Tebal Buku
311 hlm.

Belakangan kita sering dihadapkan pada pergumulan memperebutkan ruang. Pergumulan yang terbaru adalah kasus PT. Semen Indonesia di Rembang. Anda mungkin heran, mengapa harus menyemen kaki untuk sekadar berdemonstrasi—sebagaimana keheranan seorang penyair yang, atas keheranannya itu, harus menikmati serangkaian cacian di media sosial. Anda mungkin juga heran mengapa para aktivis harus mencaci penyair itu di media sosial sebagaimana seorang pendukung presiden kita yang membela PT. Semen Indonesia—juga di media sosial?

Atau mungkin saja, Anda justru memilih diam dalam hiruk pikuk media sosial sambil kemudian memposting foto makan malam atau ngopi entah di restauran mana. Toh, Anda mungkin mengira Anda tak sedang berebut ruang sebagaimana petani pegunungan Kendeng Utara. Akan tetapi, Edward Said pernah memperingatkan:

...tak seorang pun di antara kita, secara paripurna, bebas dari perjuangan berebut ruang. Perjuangan itu kompleks dan menarik karena ia tidak hanya melibatkan tentara dan meriam, melainkan juga melalui ide, tampil dengan beragam rupa, citra-citra dan imajinasi-imajinasi.

Said barangkali benar. Sesaat setelah kasus Kendeng ini mencuat, beberapa komentator di media massa maupun media sosial mencoba menyodorkan ruang lain, yang di dalamnya termasuk juga kita sendiri. Misalnya, terdapat ruang bernama “nasionalisme” ketika seseorang berkomentar bahwa PT. Semen Indonesia adalah BUMN, sehingga harus dibela—termasuk oleh Anda pula. Maka muncullah kesimpulan: karena ini urusan negara, maka petani-petani yang sudah menyemen kakinya itu lebih baik ngalah saja. Sementara itu, di lain sisi, ada sebuah ruang “luar Indonesia” dalam isu “kepentingan asing” yang menggerakkan petani Kendeng dan aktivis pembela petani Kendeng.

Buku bertajuk Geographies of Communication: The Spatial Turn in Media Studies ini kurang lebih dapat membawa Anda pada peringatan Said itu. Jika seluruh hidup kita merupakan peristiwa komunikasi, maka menurut buku ini komunikasi bukan hanya persoal transmisi pesan, interaksi simbol, atau doktrin Laswell yang mengatakan bahwa “Siapa mengatakan apa, lewat channel apa, pada siapa dan apa efeknya”. Komunikasi adalah perihal penciptaan—dan tentu saja, perang berebut, ruang. “Judul-judul yang ada dalam buku ini adalah perihal komunikasi sebagai proses produksi ruang” (hal. 15), demikian Jesper Falkheimer dan Andre Jansson, dua editor buku ini, memberikan pengantar.

Komunikasi sebagai Tindakan Mencipta Ruang

Kata kunci “komunikasi sebagai proses produksi ruang” digarisbawahi oleh para penulis di buku ini. Hal ini menjadi fokus, sebab buku ini dibebani tujuan untuk memproklamasikan sebuah medan studi baru dalam studi media dan komunikasi, yakni “komunikasi geografi” atau “media geografi”.  

Komunikasi geografi adalah sebuah medan studi yang lahir dari ambiguitas ruang—sekaligus ambiguitas konteks, akibat perkembangan teknologi media dan komunikasi (hal. 9-10). Teknologi media kini menghapus batas-batas ruang atau wilayah, sehingga konteks yang biasanya didasarkan atas batas ruang/wilayah menjadi ambigu. Sebagai contoh, kita dapat melihat dari fenomena bagaimana media sosial membuat pilkada DKI Jakarta menjadi konsumsi seluruh Indonesia.

Medan studi komunikasi geografi melibatkan banyak bidang selain studi media atau komunikasi misalnya geografi, cultural studies, studi urban, studi pariwisata, dan studi budaya konsumen. Meskipun demikian, model analisis ruang Henri Lefebvre (1901-1991), pemikir Prancis yang mengkonseptualisasikan ruang sosial, dalam buku ini diakui sebagai model yang sepatutnya mengilhami studi komunikasi geografi selanjutnya (hal. 17).

Lebih jauh, ada tiga dimensi komunikasi geografi yang tergambar dari keseluruhan tulisan di buku ini menurut Falkheimer dan Jansson. Pertama, dimensi ideologis/politis. Komunikasi geografi adalah studi yang memperlihatkan pertempuran antara citra-citra dan pembingkaian atas realitas keruangan (hal. 15). Studi yang umumnya dianggap sebagai “studi pro-korporasi” sekalipun, misalnya branding, dalam buku ini dibubuhi dengan kesadaran ideologis atau kesadaran atas kuasa. Kedua, dimensi teknologi. Dimensi ini menekankan bagaimana teknologi media berpengaruh dan dipengaruhi oleh relasi sosial dan proses komunikasi, namun menolak kemutlakan teknologi (determinisme teknologis) atas realitas sosial  (hal. 16). Ketiga, dimensi tekstural. Dimensi tekstural berfokus pada bagaimana ruang dimaterialisasi melalui praktik kebudayaan. Tekstur adalah ruang komunikatif, material, dan simbol yang memungkinkan adanya reproduksi atau pengubahan struktur.

Sebagai antologi yang tersusun dari tulisan para sarjana komunikasi dari kawasan Nordik (Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia), buku ini dapat dibagi ke dalam 4 tema.

Tema pertama adalah pemetaan dan refleksi lapangan epistemologi dari medan studi komunikasi geografi. Sebagai contoh, tulisan dari Birgit Stober yang berusaha memetakan pembangunan studi komunikasi geografi dalam studi geografi manusia (hal. 27). Stober melihat bagaimana arah studi para geograf sebenarnya turut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi media, regulasi media, dan studi media.

Tema kedua adalah masalah teoretis dan empiris mengenai mediasi ruang (spatial mediations). Sebagai contoh, tulisan Asa Thelander (hal. 139-154) yang mempersoalkan eksotisisme tempat wisata. Idealisasi tempat yang eksotis dalam media iklan sesungguhnya adalah buah dari kesepakatan visual yang mempengaruhi pembentukan citra sebuah lokasi wisata.

Tema ketiga adalah analisis teoretis dan empiris menyoal mediatisasi ruang (mediatisation of space) yang membahas bagaimana media dalam masyarakat kontemporer menegosiasi ruang manusia. Sebagai contoh, tulisan Stina Bengtsson (hal. 189-204) yang menganalisis bagaimana televisi digunakan untuk mendefinisikan ruang, fungsi, dan perilaku pekerja yang bekerja di rumah. Bengtsson menyimpulkan bahwa televisi di rumah akhirnya berguna menjadi penanda jeda antara waktu bekerja dan waktu bersantai (leisure).

Tema keempat adalah mediatisasi pengalaman atas ruang/tempat (mediatized sense of space). Misalnya tulisan Jonas Larsen (hal. 243-260) yang mengeksplorasi bagaimana cara berfoto para turis di sebuah lokasi wisata. Pengalaman berfoto turis sesungguhnya ditentukan oleh bagaimana cara media memperlihatkan objek fotografi tersebut sebelumnya.  Sederhananya, sebagai bukti bahwa Anda (mengalami) pergi ke Australia, maka Anda haruslah berselfie di depan gedung Opera Sidney, sebab citra Australia adalah Gedung Opera Sidney. Jika Anda tidak berselfie di sana, Anda belum mengalami Australia.

Pengaruh Balikan Spasial

Buku ini diklaim sebagai respon tehadap “balikan spasial” (spatial turn) dari lapangan studi komunikasi dan media. Secara sederhana, balikan spasial adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk gerakan intelektual yang kebanyakan lebih menekankan konsep ruang dan tempat. Balikan spasial dapat berarti juga gerakan intelektual yang membaca problem sosial atau realitas sosial dari perspektif keruangan. Dunia, menurut mereka, adalah problem bagaimana manusia memikirkan ruang dan menempatkan dirinya dalam ruang, sebab masalah ruang, menurut Mike Crang & Nigel Thrift “...ada dimana-mana dalam pemikiran kehidupan modern” (Kitchin & Hubbard. 2010, hal. 2).

Anda mungkin akan menyederhanakan gagasan ini, dan mengira bahwa dasar asumsi komunikasi geografi, dalam kaitannya dengan balikan spasial, tidak akan jauh-jauh dari “asal menyadari konteks ruang tempat fenomena komunikasi terjadi”. Misalnya, meyakini bahwa Indonesia punya sistem komunikasi sendiri yang berbeda dari daerah lainnya. Contoh lain adalah meyakini bahwa aktivitas Public Relations di Indonesia sudah dilaksanakan semenjak dahulu, sehingga Anda perlu melabeli kegiatan itu sebagai kegiatan dengan “perspektif lokal”.

Sayangnya, bukan begitulah komunikasi geografi yang dimaksud. Komunikasi geografi yang dituliskan di buku ini bergerak lebih dari itu. Untuk memahami ini, kita perlu terlebih dahulu memahami bagaimana Falkheimer dan Jansson memetakan studi media dan komunikasi, kemudian meletakkan komunikasi geografi dalam peta pemikiran tersebut.

Arah sejarah studi media/komunikasi menurut Falkheimer dan Jansson sendiri terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama adalah perkembangan model transmisi, kemudian di tahap kedua terjadi  perkembangan model ritual, dan pada tahap ketiga perkembangan studi media merupakan komunikasi geografi sebagai bagian dari pendekatan spasial.  

Model pertama atau model transmisi diwakili oleh diktum Harold Laswell yang mengatakan “Who says what to whom, through which channel, and with what effect?”. Model transmisi ini sangat dominan dalam riset media semenjak 1920-an hingga sekarang. Model ini membedakan pandangan antara efek dan pesan. Dengan demikian, model transmisi terfokus pada “perluasan linear pesan dalam sebuah ruang”. Dengan metode kuantitatif, eksperimental, dan fungsionalistik, maka model ini hanya akan mendapatkan kesimpulan dengan isolasi teoretis dari teks dan konteks yang berkaitan dengan ruang. Dari pengamatan terhadap teks dan konteks, model ini ternyata tidak cocok untuk melihat kompleksitas dari keseharian dan komposisi transformasi kebudayaan dari masyarakat, sementara masyarakat sekarang berada dalam multi-ruang (hyper-space)

Model kedua adalah model ritual. Falkheimer dan Jansson mendasarkan tahapan ini pada formula karya sarjana kebudayaan James W Carey, A Cultural Approach to Communication (1975) dan—tentu saja, pemikiran kebudayaan (cultural turn) yang digawangi tokoh-tokoh Cultural Studies. Carey menyerang gagasan model transmisi dengan mengatakan bahwa studi komunikasi harusnya tidak melihat pada perluasan pesan dalam ruang, melainkan bagaimana perkembangan masyarakat dalam sebuah waktu. Sementara kelompok Cultural Studies dengan konsep encoding-decoding Stuart Hall misalnya, mendorong studi komunikasi untuk melihat “konteks” ketimbang “teks”. Dilihat dari media dan pesannya dalam sebuah konteks, pada akhirnya hanya gagasan James W Carey dan  Cultural Studies-lah pemikiran yang melihat makna dalam peristiwa komunikasi pada konteksnya saja (contextual turn), sebagaimana gagasan bahwa sistem komunikasi Indonesia memiliki konteks sendiri.

Model ketiga adalah model spasial. Permulaan tahap ini ditandai oleh publikasi dua karya di tahun 1985. Pertama adalah karya geograf yang dieditori oleh Burgess and Gold, Geography, the Media and Popular Culture, dan kedua adalah karya  Joshua Meyrowitz, No Sense of Place. Dalam disiplin studi media, perhatian yang lebih luas pada masalah keruangan dimulai pada pertengahan 1990-an dan seterusnya.

Pada tahun tersebut, salah satu yang disinggung Falkheimer dan Jansson adalah karya tokoh Cultural Studies, David Morley, Home Territories (2000) yang merupakan kelanjutan karyanya sendiri, Family Television (1986). Family Television, menurut Falkheimer dan Jansson, masih berada tahapan model ritual (kontekstual), ketika perhatian Morley tertuju pada bagaimana proses pemaknaan dalam konteks organisasi media dan keluarga. Home Territories melangkah maju dengan mempermasalahkan konsep-konsep keruangan seperti rumah, rumah tangga, dan keluarga. Morley tidak lagi mempermasalahkan ruang domestik kelas buruh di Britania, tetapi lebih kepada identitas kosmopolitan yang tak pernah selesai dan komunitas-komunitas diaspora.

Artinya, pada tahap ketiga atau model spasial, ruang tidak lagi merupakan sesuatu yang terberi, melainkan sesuatu yang dinegosiasikan oleh teknologi media dan komunikasi. Ruang adalah struktur yang dimediasi yang di dalamnya terdapat permainan dimensi imajiner, simbolik, dan material. Posisi “konteks” yang biasanya didasarkan atas ruang yang tetap dan digunakan untuk memaknai teks lantas menjadi ambigu. Dengan demikian, arti perspektif keruangan dalam Komunikasi Geografi sama sekali lain dari “asal menyadari ruang tempat fenomena komunikasi terjadi”.


Buku ini semestinya menarik bagi para sarjana dan pegiat studi media atau komunikasi Indonesia. Bukan hanya untuk membuka medan juang baru dalam lapangan studi komunikasi bernama komunikasi geografi, melainkan juga  sebagai pemantik bagi penyelesaian permasalahan-permasalahan komunikasi di Indonesia yang barangkali belum selesai. Misalnya, isu frekuensi publik; sebuah ruang (space) yang menyeruak ke khalayak Indonesia pasca Reformasi. Hingga sekarang, meskipun kita sudah terlalu sering menggunakan istilah “frekuensi publik”, belum ada kajian mendalam mengenai lahirnya ruang baru itu. []


Daftar Pustaka

Kitchin, R., & Hubbard, P. (2010). Key thinkers on space and place. London: SAGE.

Said, E. W., & Fawaid, A. (2010). Orientalisme: Menggugat hegemoni Barat dan mendudukan Timur sebagai subjek. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Bacaan Terkait
Holy Rafika D

Mengajar di Program Studi Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Berminat pada kajian komunikasi geografi, kolonialisme, dan studi media pada umumnya.

Populer
Ketika Jurnalis Tertipu
Lintang Ratri: Ada Eksploitasi Anak dalam Sinetron Televisi
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Soeharto, sang Pahlawan Buatan Media Massa
Perilaku Netizen di Media Sosial