16/03/2017
Refleksi Dalam Buai Teknologi
Ulasan atas serial Black Mirror, sebuah gambaran gelap tentang teknologi media dan manusia.
16/03/2017
Refleksi Dalam Buai Teknologi
Ulasan atas serial Black Mirror, sebuah gambaran gelap tentang teknologi media dan manusia.

Judul
Black Mirror

Stasiun
Channel 4 (2011-2014)
Netflix (2014-sekarang)

Produser
Charlie Brooker

Jumlah musim
3

Jumlah episode
13    

Durasi
44-89 menit

Belasan tahun yang lalu, saya memainkan gim video pertama dalam hidup saya: 3D Wolvenstein yang ayah saya dapat dari rekan kerja. Permainan ini saya install melalui dua keping disket, yang masing-masingnya memiliki kapasitas cukup 1,44 megabyte saja. Jika saya sedang tidak diizinkan main game di komputer, saya menelepon teman melalui telepon rumah. Kami kemudian bersepeda atau main sepak bola. Ketika berlibur, kami berfoto untuk sekedar dijadikan kenang-kenangan di album keluarga. Dalam ingatan, semua terasa begitu sederhana.

Kini di usia yang sama, keponakan saya telah memiliki kanal Youtube-nya sendiri, tempat ia membahas gim video dengan bahasa Inggris. Ia dan kawan satu generasi bisa menghabiskan waktu berjam-jam bukan dengan bermain gim video, tetapi menonton orang lain bermain gim video di Youtube. Telepon rumah sudah hampir menjadi artifak yang tidak relevan dalam kehidupan. Begitu banyak perubahan.

Saya teringat kawan saya yang cerita bahwa opungnya dulu tidak bisa buang air tanpa khawatir disundul babi hutan karena ia perlu ke tengah hutan jika ingin buang hajat. Itu baru 60 tahun yang lalu. Mungkin di zaman cucu saya manusia akan menemukan teknologi baru untuk buang air, sehingga buang air di toilet dan membasuh diri dengan air atau kertas tisu akan menjadi konsep yang menjijikkan.

Teknologi berkembang secara eksponensial dan menyeret perubahan budaya serta cara hidup. Dahulu kehidupan lamban berubah; nenek moyang kita 100.000 tahun yang lalu menjalani hidup yang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang kita 200.000 tahun yang lalu. Kini, saya menjalani masa muda yang berbeda jauh dengan masa muda kakek saya. Dalam satu rentang hidup, saya mengalami gim video dua dimensi dalam platform GameBoy, dan dalam beberapa dekade mungkin saya akan mengalami realita virtual sebagai standar pengisi waktu senggang.

Perubahan kerap kali membawa keresahan dan perlawanan. Proses ini telah terjadi sepanjang masa dalam diskursus sejarah. Perubahan dari hidup pemburu-pengumpul ke bercocok tanam, munculnya agama baru, hingga berbagai revolusi dan pergolakan ideologi. Namun mungkin untuk pertama kalinya, dengan dimotori perkembangan teknologi informasi, manusia mengalami perubahan dalam skala yang besar dan terjadi dengan begitu cepat. Keresahan inilah yang ditangkap dengan begitu baik oleh serial Black Mirror.

2014 lalu, Stephen King – legenda hidup bagi penggemar fiksi horor dan thriller – mencuitkan kekagumannya pada serial televisi Black Mirror melalui media sosial Twitter. Saat itulah saya pertama kali mendengar mengenai serial ini. Serial ini sesungguhnya tidak baru. Pertama kali tayang di Inggris pada tahun 2011, dan pada November tahun lalu sudah pada musim ketiganya. Namun, serial ini baru dikenal secara global setelah diadopsi oleh Netflix. Kini serial ini hangat dibicarakan di Amerika Serikat, Australia, Israel, Spanyol, bahkan Tiongkok. Tidak terlalu banyak iklannya. Seperti tema utamanya, popularitas serial ini berkembang melalui teknologi media sosial. Hal ini bisa juga menandakan bahwa serial ini berhasil menohok isu yang menjadi kekhawatiran global.

Teknologi dan dampaknya adalah benang merah utama serial ini. Setiap episodenya mengimajinasikan suatu realita alternatif mengerikan sebagai konsekuensi teknologi. Entah itu teknologi yang membolehkan setiap orang merekam, mengurasi, dan menonton ulang setiap potongan ingatan mereka (“An Entire History of You”, musim pertama); kisah tentang isu keamanan, yaitu tentang sebuah kamera laptop yang diretas untuk dijadikan materi pemerasan (“Shut Up and Dance”, musim ketiga), hingga kisah imajinatif tentang potensi mengerikan dari teknologi realita virtual (“Playtest”, musim ketiga).

Premis-premis ini mungkin membuat Anda mengira Black Mirror memandang teknologi secara sinis dan pesimis. Sebaliknya, jika Anda sudah pernah menonton, mungkin Anda merasa pernyataan tersebut tidak benar, atau setidaknya tidak sesederhana itu, dan itulah keberhasilan utama serial ini.

Sebuah Kritik yang Membumi

Sejak Jules Verne mengkhayalkan perjalanan ke bulan, George Orwell dan Aldous Huxley membayangkan skenario terburuk dunia setelah era modern, hingga Stanley Kubrick dan Arthur C. Clarke membayangkan penemuan relik alien—fiksi spekulatif telah mengambil peran sebagai penjaring dan pemberi nyawa bagi imajinasi dan keresahan manusia akan perubahan. Terkadang fiksi spekulatif memandang perkembangan teknologi secara optimistik, menangkap perubahan sebagai potensi keajaiban. Seperti kata Arthur C. Clarke: “Segala teknologi yang cukup canggih tidak bisa dibedakan dari sihir.” Di kesempatan lain, fiksi jenis ini menjadi peringatan akan keburukan yang dapat terjadi jika kita salah mengambil langkah.

Bentuk fiksi spekulatif telah menjadi rumusan dasar dalam film dan sastra. Kerap kali, seperti dalam banyak kisah rumusan Hollywood, ceritanya menjadi terlalu simplistik. Terkadang fiksi spekulatif membayangkan dunia yang peradaban manusianya sudah rusak akibat teknologi, fantasi distopia seperti Terminator dan Elysium misalnya. Ketika fiksi jenis ini membayangkan kemegahan masa depan, yang kerap terbentuk adalah dunia fantasi seperti Star Wars dan Transformers. Bahkan pada film seperti Interstellar, yang mencoba membahas masalah ilmiah yang nyata, teknologi masih berperan sebagai latar dan juga sebagai alat pembangkit kekaguman khalayak. Masih sedikit karya film yang benar-benar membahas implikasi dari teknologi dengan cara yang relevan dengan kehidupan kita. Dibanding film-film tersebut, Black Mirror dapat dikatakan berhasil.

Black Mirror membawa spekulasi teknologi ke dalam ranah yang bisa kita kenali. Serial ini membawa dunia yang masih relevan dengan dunia kita, namun juga memberi bingkai lain untuk digunakan memandang berbagai teknologi yang tak terpisahkan dari hidup kita. Kisah-kisah Black Mirror selalu dimulai dari masa depan yang terasa dekat dan bisa kita bayangkan. Serial ini menyentuh isu-isu yang secara emosional mulai dekat dengan masyarakat modern.

Ambil contoh episode pertama dari serial ini, berjudul “The National Anthem”. Latar waktu yang diambil sangat dekat dengan kehidupan kita. Dalam episode ini, seseorang menculik putri Kerajaan Inggris, dan penculiknya tidak termotivasi oleh uang atau hal lain. Ia hanya ingin Perdana Menteri Inggris berhubungan seks dengan seekor babi, merekamnya, dan menyiarkannya di seluruh kanal televisi Inggris. Dengan cara yang sangat familiar, episode ini mengkritisi bagaimana kini media sosial berperan dalam mengayunkan opini publik dan komunikasi politik.

Episode lain, “Nosedive” (musim ketiga), membayangkan apa yang terjadi jika setiap orang menilai orang lain melalui media sosial, seperti pengemudi Gojek selepas perjalanan. Setiap tindakan, ucapan, dan hubungan sehari-hari menjadi bahan penilaian; semua relasi sosial direduksi menjadi angka. Nilai rata-rata ini menentukan kemudahan mendapatkan pinjaman, promosi dan pekerjaan, hingga layanan fasilitas umum. Episode ini bisa jadi lebih dekat dengan dunia nyata dari yang kita duga – media sosial telah menjadi tempat banyak penggunanya membangun konsep diri dan identitas sosial. Bahkan, pemerintah Tiongkok sempat merencanakan penggunaan aplikasi serupa untuk menilai semua warga negara dan mendorong “perilaku warga yang teladan”.

Charlie Brooker, penulis utama serial ini, menganggap bahwa teknologi dalam serial ini berperan seperti aspek supernatural dalam serial Twilight Zone: teknologi membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Namun, mungkin karena pembuatnya menciptakannya sedemikian rupa atau memang karena dekatnya teknologi dengan kehidupan, interpretasi Black Mirror terasa tidak jauh dari kenyataan.

Perubahan struktur sosial yang disebabkan oleh teknologi nampaknya menjadi benang merah di balik berbagai ide dalam serial ini. Apakah determinisme teknologi merupakan “semangat” di balik pengisahan Black Mirror? Bisa jadi. Pandangan atas teknologi, khususnya teknologi media, sebagai motor yang menggolakkan perubahan sosial adalah tradisi berpikir yang tumbuh di era modern sejak Harold Innis (lihat misalnya Empire and Communications [1950])  dan Marshall McLuhan (lihat misalnya Understanding Media: The Extension of Man [1964]). Namun McLuhan sendiri bisa dibilang merupakan determinis “lembut”; determinisme teknologi bukanlah nakhoda tunggal pengarah peradaban, melainkan turut berkelit-kelindan dengan konteks sosial dalam sebuah ekologi media yang kompleks.

Serial Black Mirror banyak bicara tentang ancaman dan ketakutan, namun tidak menyorot teknologi media seperti orang tua menggunakan kisah hantu tradisional untuk mengancam anak-anaknya agar pulang sebelum gelap. Black Mirror mengulas teknologi, tetapi pada waktu yang bersamaan lebih mengulas manusia. Tepatnya manusia dalam hubungannya dengan teknologi, tanpa menyembunyikan kebutuhan ataupun fantasi manusia akan teknologi dan masa depan.

Saya teringat dengan konsep technological somnambulism (sleepwalking) yang ditelurkan Langdon Winner terkait determinisme teknologi. Ketimbang determinisme “keras” yang memandang teknologi sebagai motor perubahan, Winner mengemukakan ide bahwa mungkin manusia cenderung menyikapi teknologi seperti “berjalan sambil tidur”. Manusia berjalan tanpa terlalu berpikir panjang atau mempertimbangkan teknologi dan interaksi kita dengan teknologi. Hal ini terjadi karena kita memandang teknologi sekedar sebagai alat untuk dimanfaatkan dan sebagai entitas yang terpisah dari keberadaan kita, sehingga kita cenderung berfokus pada aspek pragmatik teknologi tanpa mempertimbangkan dampak teknologi secara lebih mendalam. Dalam pandangan ini, terkadang manusia bisa saja terbangun dan mengatur kembali arah pergerakannya di dalam arus teknologi.

Judul serial ini terinspirasi oleh penampakan layar gadget kita ketika sedang dimatikan: dingin dan kelam, tetapi reflektif. Mungkin peranan inilah yang bisa dijalankan oleh serial ini, sebuah fungsi ideal dari kesenian: refleksi. Barangkali bukan kebetulan bahwa serial ini muncul dari luar Amerika, tempat imperialisme budaya dan ekonomi kerap kali menghasilkan pemujaan simplistik kepada setiap perkembangan teknologi. Negara maju seperti Inggris (asal serial ini), Jerman atau Jepang memang memiliki tradisi kritis yang lebih kuat dalam menentang arus teknologi; misalnya dalam isu privasi, proteksionisme, atau kesetaraan ekonomi; akibat berdekade-dekade pergulatan membela kepentingan nasional mereka dari imperialisme Amerika. Antitesis yang dihadirkan oleh oleh serial ini bisa jadi mewakili panggilan alam untuk kita sejenak bangun dari somnambulisme teknologi yang menghanyutkan, dan memikirkan lagi kemana kita akan berjalan. []

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Belajar kajian media di Universitas Indonesia. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. 

Populer
Savic Ali: Media-Media Garis Keras Punya Semangat Mengimpor Konflik
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian I)
Gagasan yang Maya: Produksi Wacana dalam Media Daring
Membawa "Asolole" ke Layar Kaca
Dikepung Sinetron dan Iklan Politik