10/02/2017
Jihad di Medan Maya
Sebuah ulasan atas film Jihad Selfie
10/02/2017
Jihad di Medan Maya
Sebuah ulasan atas film Jihad Selfie

Judul:
Jihad Selfie

Tahun Rilis:
2016

Sutradara:
Noor Huda Ismail

Produser:
Noor Huda Ismail

Durasi:
49 Menit

Jihad tak hanya berlaku di medan laga dengan bising deru senjata AK 47. Jihad, di zaman ini, juga terjadi di dunia maya dengan senjata utama media sosial. Jihad masa kini inilah yang menjadi inti film Jihad Selfie (2016). Dokumenter karya Noor Huda Ismail ini bercerita mengenai radikalisasi yang terjadi sebagai dampak dari kampanye Negara Islam Iraq dan Suriah (Islamic State in Iraq and Syria - ISIS) di media sosial.

Jihad Selfie menggambarkan radikalisasi melalui kisah seorang anak Indonesia bernama Teuku Akbar Maulana. Akbar adalah pemuda asal Aceh yang tengah menempuh pendidikan setingkat Madrasah Aliyah di Turki, tepatnya di Imam Katip High School, sebuah sekolah yang ditujukan untuk mencetak imam dan khotib.

Akbar terpapar pada propaganda ISIS di media sosial melalui teman seasramanya, Yazid, yang telah lebih dulu bergabung dengan ISIS. Yazid awalnya dikabarkan hilang, tak diketahui keberadaannya selama berbulan-bulan; sampai pada suatu hari, Yazid muncul di Facebook dengan foto profil sedang menenteng AK 47 dan di belakangnya berkibar bendera ISIS. Melihat itu, Akbar berkomentar: “Keren. Kayak Rambo”.

Akbar mulai bercakap dengan Yazid melalui pesan pribadi Facebook. Pemuda penghafal Al-Qur’an yang faseh berbahasa Arab itu pun tertarik untuk ikut berjihad di Suriah. Lewat percakapan itu pula ia tahu bahwa Yazid telah berhasil merekrut Bagus, seorang pemuda Indonesia yang juga belajar di Turki. Tekad Akbar untuk bergabung dengan ISIS makin kuat setelah membaca kisah Wildan Mukhallad, pelajar Indonesia di Kairo yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Irak. Akbar mengaku terinspirasi dan ingin menjadi pahlawan seperti Wildan. 

Kisah Akbar adalah potret dari fenomena yang lebih besar. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan setidaknya 500 orang Indonesia telah bergabung dengan ISIS. Meski jumlah yang direkrut melalui media sosial tidak dapat dipastikan, namun fakta bahwa media sosial digunakan ISIS sebagai sarana propaganda pesan-pesan mereka tak bisa dipungkiri.

Sebuah lembaga riset terorisme di Inggris, Quilliam, mengatakan bahwa ISIS unggul di media sosial.

The organisation release, on average, 38 new items per day- 20 minutes video, full-length documentaries, photo essays, audio clips, and pamphlets, in language ranging from Russian to Bengali.”

 Besarnya sumber daya yang dialokasikan ISIS untuk media sosial menunjukkan bahwa media sosial adalah instrumen penting bagi kelompok teror tersebut.

Fauzan Anshori, salah satu perekrut ISIS di Indonesia, sebagaimana direkam dalam salah satu adegan dokumenter ini, menggambarkan cara ISIS dan pendukungnya memanfaatkan media sosial untuk kegiatan mereka:

“Yang bikin Facebook misalnya orang Yahudi, yang bikin WhatsApp juga orang sana. Tapi yang penting penggunaannya. Jadi medsos itu sangat membantu. Peristiwa di Mosul kita udah tau, padahal di TV belum ada. Alhamdulilah, yang bikin orang kafir kita yang menggunakannya.”

Lantas, bagaimana orang seperti Yazid, Bagus, dan Akbar bisa tertarik pada pesan-pesan ISIS?

Selain niat membela agama, alasan Akbar bergabung sungguhnya sangat sederhana: kesempatan keliling Timur Tengah gratis! Motivasi ini makin kuat ketika ia tahu bahwa serdadu ISIS mendapatkan gaji dan makanan layak tiap harinya. Memang terdengar naif, namun radikalisasi bukanlah proses sekali jadi. Terjadi pertautan dengan berbagai pengalaman dan persentuhan dengan narasi radikal yang menyebar bibit bagi aksi teror.

Media Jihad: Dulu dan Sekarang

Dua puluh satu tahun yang lalu, saya duduk di forum pengajian Masjid Al-Irsyad di Karawang. Temanya Perang Bosnia. Sebelum pengajian, panitia memutar video Perang Bosnia. Gambar-gambar mengerikan dalam video tersebut masih saya ingat, berikut peringatan seorang ustaz bahwa “umat Muslim dibantai”.  Pengajian itu membawa pesan mengenai pembantaian Islam.

Saat berumur 10 tahun, saya tak begitu paham apa yang terjadi di Bosnia, namun saya turut merasakan suasana sedih dan marah yang menyelimuti ruang ketika itu. Pengalaman ini begitu melekat dan terbawa hingga saya remaja.

Kala duduk di SMA, saya adalah pembaca reguler majalah Sabili. Saya tak pernah membeli. Di rumah, kakak sayalah yang menjadi pelanggan tetapnya. Di sekolah, ada teman yang kerap membawa majalah yang dana pendiriannya datang dari Muammar Khadafi—pemimpin Libya—tersebut.

Rangkaian peristiwa itu turut membentuk kedirian saya waktu remaja. Saat SMA diam-diam saya menyimpan mimpi berjihad ke Afghanistan atau Palestina. Saya benci Amerika yang saya nilai sebagai penyebab ketertindasan umat Islam! Meski demikian bencinya saya pada Amerika, saya tak pernah bergabung dalam program Rohis (Rohani Islam) atau organisasi sejenisnya. Lazimnya anak SMA, saya suka bermain biliar, sepak bola, dan PlayStation. Perspektif yang mengatakan bahwa teroris lahir dari kalangan yang sangat religius itu naif, jika tidak boleh dikatakan “fobia Islam”.

Dulu, hal yang saya alami adalah peristiwa langka. Dibutuhkan akses, kesempatan, juga kemauan untuk hadir dalam halaqoh semacam itu—tetapi, itu dulu!

Zaman sekarang, media sosial mendudukkan kita dalam halaqoh maya: menonton video-video seperti Perang Suriah, pembantaian etnis Rohingya di Myanmar, dan banyak lainnya. Pengajian  tidak hanya terjadi di masjid, tetapi juga di grup Facebook atau WhatsApp. Kini pengajian seperti itu sudah tak kenal waktu—kita bisa mendapatkan kiriman tausiah dari ustaz di media sosial kapan pun kita mau.

Jika satu pertemuan pengajian mengenai Bosnia bisa meninggalkan bekas yang begitu dalam pada seorang remaja, lalu bagaimana dengan ratusan pesan teror yang dikirim dengan intensitas yang masif dan menjangkau banyak orang di media sosial?

Dalam sebuah pengajian, terdapat seorang guru agama yang kita kenal keluasan paham agamanya; namun, di media sosial, kita kesulitan menjejak siapa pengirim pesan-pesan keagamaan yang ramai beredar di linimasa. Dalam jejaring media sosial, siapa pun bisa menjelma bak ulama dengan modal kalimat “jika tak sependapat maka bukan bagian dari ummat”!

Media sosial memang memiliki kelebihan dalam membuat orang percaya. Dalam pengajian kita butuh “kepercayaan” atas integritas pihak yang berbicara, dan melalui potongan-potongan video yang diambil dari wilayah konflik, kita seolah diajak melihat “hal yang sebenarnya terjadi”. Padahal, layar tak pernah bisa menunjukkan hal yang terjadi secara utuh. Sebaliknya, di media sosial, sebuah foto yang menggambarkan puluhan biksu menyiapkan kremasi untuk korban gempa bumi di China bisa dicabut dari konteksnya lalu menjadi bukti foto mengenai kejamnya umat Buddha pada etnis Rohingya di Myanmar.

Walau beda media, isi pesan radikalisme tetap sama, yaitu melulu soal kehancuran umat. Berbagai berita mengenai kekerasaan terhadap umat Islam di banyak belahan bumi menjadi justifikasi bagi perang dan terorisme. Perasaan kalah terus dipupuk—meski entah kalah dengan siapa. Pada saat yang sama pula, konflik di berbagai belahan bumi mana pun direduksi sebagai perang Islam versus kafir.

Cara pikir monolitik ini diperkuat oleh pelabelan “kita” versus “mereka”. Muslim adalah “kita” yang bukan “mereka”. Mereka, atau yang lain, adalah kafir, penindas, liberal, dan lain sebagainya. Sifat pasti keji dan manipulatif dari “musuh-musuh Islam” kerap ditebar oleh media-media seperti VOA-Islam.com, Arrahmah.com, dan Nahimungkar.com. Sebuah contoh perkataan: “Yahudi itu bangsa paling pintar dan karenanya mereka bisa memanipulasi banyak orang.” Narasi seperti ini menutup semua jalan untuk melihat realitas secara objektif. Pun apabila kita menyaksikan dengan mata telanjang fakta bahwa banyak orang Yahudi yang mendukung kemerdekaan Palestina, mereka yang terjebak narasi teror akan dengan mudah mengatakan, “itu kan propaganda Yahudi”.

Dengan pemupukan rasa kalah dan pelabelan “kita versus mereka” ini, publik Muslim diisolasi. Makna Islam sendiri dimutilasi!

Algoritma media sosial menguatkan isolasi ini dengan menutup alternatif bagi suara yang berbeda.  Algoritma media sosial, yang hanya menghubungkan konten-konten sejenis, mengecilkan peluang seseorang untuk mendapatkan informasi yang berbeda sudut pandang. Contoh paling gampang adalah cara Facebook atau Youtube menyodorkan kita konten yang sejenis dengan yang biasa kita baca. Mereka yang sering membaca media radikal akan disarankan untuk membaca konten yang radikal pula.

Kebiasaan membaca berita yang beredar di linimasa juga membuat kita terjebak memersepsi dunia dari bacaan yang dibagikan oleh teman-teman kita di media sosial. Hal inilah yang oleh Cass Sunstein, profesor hukum dari Universitas Harvard, disebut sebagai echo chamber, “bilik gema”. Kecenderungan untuk meng-unfriend orang yang berbeda paham dengan kita adalah salah satu efek dari bilik gema ini.  Apa yang dianggap benar menjadi terbatas bagi satu atau dua komunitas sosial saja. Setiap informasi dari luar yang bertentangan dengan “apa yang dianggap benar” oleh komunitas tersebut cenderung ditolak. Dampak dari bilik gema adalah polarisasi publik berdasar preferensi politik. Itulah alasan kita lazim mendengar—dan barangkali ikut mengimani—tentang keberadaan “media islam” atau “media liberal”.

Sekarang bayangkan: apa jadinya jika seseorang berada dalam lingkup pertemanan yang mengimani ide-ide radikal, lalu saling berbagi konten radikal di media sosial?  Radikalisasi sangat mungkin terjadi! Saya kira inilah situasi inilah yang dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Akbar, Yazid, juga Bagus sebagaimana diceritakan dalam Jihad Selfie.

Sebatas Alarm Radikalisasi

Sebagai sebuah film kampanye, Jihad Selfie terbilang berhasil menumbuhkan kewaspadaan atas bahaya ancaman radikalisasi di media sosial. Pilihan Jihad Selfie untuk bercerita dari sudut pandang Akbar adalah kelebihan dokumenter ini. Dengan cara ini, alih-alih melihat pemuda seperti Akbar sebagai ancaman, Noor Huda (sang sutradara) membantu kita memahami kondisi kebatinan mereka yang terpapar pada propaganda teror. Bagi saya, film ini berhasil melampaui stigma dan merupakan ajakan dialog yang produktif untuk memecahkan ancaman teror di media sosial.

Suara Noor Huda melalui voice over menuntun penonton memahami urutan gambar dalam dokumenter ini dengan utuh dan mudah hingga durasi 49 menit terasa berlalu begitu sebentar.  Pemilihan gambar yang indah dan cut to cut yang efektif dari satu adegan ke adegan lainnya menjadikan dokumenter ini tidak membosankan untuk ditonton. Penyuntingan adalah kuncinya. Dari 180 jam footage yang ada, editor dan sutradara mampu memilah dan mengurutkan gambar dalam cerita berdurasi 49 menit. Dengan demikian, Jihad Selfie bisa dijadikan contoh dalam membumikan narasi yang kompleks dengan cara penyampaian yang mudah.

Pengalaman sebagai pengamat terorisme serta jaringan sosial hasil nyantri di Pesantren Ngruki (tempat belajar banyak pelaku teror) mampu Noor Huda manfaatkan dengan baik. Baiat pada Abu Bakar Al-Baghdadi yang dilakukan sekelompok peserta pengajian dapat ia rekam dari jarak yang sangat dekat. Tanpa jaringan dan kepercayaan dari mereka yang diambil gambarnya, hal tersebut mustahil dilakukan. Alhasil, Jihad Selfie adalah dokumenter yang kaya data.

Sayangnya, kekayaan data dalam film ini masih terbatas pada data sosiologis seperti relasi antartokoh, ruang sosial yang dihidupi tokoh, dll. Film yang dalam judulnya memakai kata “Selfie” ini, justru sangat minim dalam menjelaskan peran media sosial sebagai sarana radikalisasi diri. Jihad Selfie bercerita tanpa mendeskripsikan keunikan media sosial dibanding medium lain sebagai sarana perekrutan kelompok jihad.

Tak ada penjelasan yang memadai tentang strategi komunikasi Yazid saat meyakinkan Bagus atau Akbar untuk bergabung dengan ISIS. Tak ada pula penjelasan mengenai pola perekrutan ISIS di media sosial dan cara petempur ISIS meradikalisasi teman dan kerabat mereka melalui media sosial.

Satu-satunya penjelasan mengenai peran media sosial yang paling kentara adalah cerita Akbar yang terinspirasi oleh berita mengenai Wildan Mukhallad. Bagian itu pun tak menyertakan penjelasan lebih lanjut tentang cara Akbar bisa menemukan kisah Wildan di internet. Apa yang membuatnya terinspirasi? Dari sekian banyak kisah bom bunuh diri, mengapa kisah Wildan yang paling menarik bagi Akbar? Seandainya pertanyaan-pertanyaan ini berhasil dijawab dan dijelaskan dalam film ini, kita tentu akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai strategi komunikasi kelompok radikal di media sosial.

Kesimpulan yang ditarik film ini soal profil korban radikalisasi juga sangat klise. Noor Huda menilai, kesamaan karakteristik dari mereka yang menjadi korban propaganda ISIS (Wildan, Bagus, dan Akbar) adalah anak muda yang pintar dan penyendiri. Stigma macam ini adalah kepercayaan umum yang telah lama beredar namun tidak pernah dibuktikan secara empiris. Setidaknya, film ini tak juga mampu membuktikannya.

Solusi menangkal radikalisasi dalam film ini juga tak kalah klise, yakni keluarga dan pendidikan. Akbar urung berangkat ke Suriah karena ia memikirkan apa yang akan dialami ibunya bila ia bergabung ISIS. Adegan Akbar menangis curhat pada guru hafalan Qurannya mengenai sang ibu adalah pengantar bagi apa yang dianggap sebagai “solusi” oleh film ini. Di akhir film, kamera mengikuti Akbar yang pulang ke Aceh untuk bertemu kedua orang tuanya. Begitulah dokumenter ini mengajak kita memahami kedekatan relasi ibu-anak sebagai senjata menangkal radikalisme. “Perjalanan membuat film ini mengajarkan saya tentang pentingnya keluarga dan pendidikan,” kata Noor Huda untuk menutup filmnya. Berbeda dengan keluarga, pendidikan sebagai solusi muncul tiba-tiba di akhir tanpa pernah ada plot cerita yang mengaitkan radikalisme dengan, misalnya, tingkat pendidikan yang rendah.

Masalahnya, kedua solusi ini sesungguhnya naif dan terbantah oleh cerita dalam film ini sendiri.

Kisah Muis, tetangga Wildan Mukhollad yang bergabung ISIS bersama anak dan istrinya, menunjukkan bahwa keluarga tidak serta merta menjadi penangkal radikalisasi. Kisah ini justru bisa dibaca sebaliknya: mereka yang terradikalisasi bisa turut meradikalisasi keluarganya. Begitu juga halnya dengan pendidikan – Akbar, Yazid, juga Bagus, ketiganya adalah anak-anak muda yang terdidik, bahkan digambarkan sebagai siswa-siswa terbaik di kelasnya. Jika demikian, bisakah pendidikan menjadi alat menangkal radikalisasi? Kalau pun iya, film ini tidak menjelaskan sebab-musabab pendidikan sebagai solusi.

Alasan banyaknya hal yang tak terjelaskan dalam dokumenter ini bisa dipahami, mengingat Noor Huda sendiri mengatakan bahwa film ini merupakan prariset rencana disertasinya dalam bidang radikalisasi. Akan tetapi, seperti pada hidangan yang lezat, orang selalu bisa merasa kurang. Kritik saya di atas adalah apresiasi sekaligus harapan akan karya lanjutan Noor Huda dan kawan-kawan di Prasasti Perdamaian. []

Bacaan Terkait
Muhamad Heychael

Direktur Remotivi. (Foto: Galih W. Satria/Bintang.com)

 

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna