Ilustrasi: Aeneastudio, “Heidegger" - http://bit.ly/2iEMfZH (CC-BY)
Ilustrasi: Aeneastudio, “Heidegger" - http://bit.ly/2iEMfZH (CC-BY)
20/01/2017
Heidegger, Media, dan Problem Eksistensial Manusia
Dalam kacamata Heideggerian, teknologi mengancam otentisitas manusia. Ia mendorong manusia untuk melakukan sesuatu hanya karena ia bisa melakukannya.
20/01/2017
Heidegger, Media, dan Problem Eksistensial Manusia
Dalam kacamata Heideggerian, teknologi mengancam otentisitas manusia. Ia mendorong manusia untuk melakukan sesuatu hanya karena ia bisa melakukannya.

Judul
Heidegger and the Media

Penulis
David Gunkel & Paul A. Taylor

Tahun
2014

Penerbit
Polity Press

Tebal Buku
xiv + 196

Martin Heidegger adalah filsuf berkebangsaan Jerman yang lahir pada 1889. Meskipun karya yang ia hasilkan sangat sulit untuk dimengerti, magnum opus-nya yang berjudul Being and Time (1927) dikenang sebagai salah satu karya filsafat kontinental yang paling penting sepanjang abad 20. Heidegger adalah seorang anggota partai Nasional-Sosialisme (NAZI); pada pidato pelantikannya sebagai rektor Universitas Freiburg di tahun 1933, ia secara implisit mengutarakan dukungannya kepada partai tersebut. Seusai Perang Dunia II, ia menjalani persidangan di hadapan komite yang bertujuan untuk membersihkan institusi pendidikan Jerman dari pengaruh Nazi dan dilarang untuk mengajar di Universitas selama 3 tahun.

Dalam studi filsafat, Heidegger lumrah dikenal sebagai seorang filsuf dalam mazhab pemikiran eksistensialisme. Salah satu gagasannya yang terkenal adalah konsep “Being-in-the-world”. Maksud dari konsep ini adalah manusia merupakan entitas yang bernaung (dwelling) di dalam dunia. Untuk memahami sang manusia, kita harus memahami bagaimana manusia mempersepsikan dunianya dan bertingkah laku berdasarkan persepsi tersebut.

Menurut Heidegger, hanya dengan pemahaman yang tepat akan manusia sebagai “manusia-dalam-dunia” inilah filsafat dapat memahami permasalahan manusia yang sesungguhnya dan membantu manusia untuk dapat hidup dengan lebih “otentik” dan bebas. Dengan nada melankolis yang menjadi khas filsafat eksistensialisme, Heidegger menulis bahwa salah satu cara manusia dapat mencapai hidup otentik tersebut adalah melalui perenungan atas kematian yang akan datang, serta menyarankan kita untuk menghabiskan lebih banyak waktu berkontemplasi di kuburan.

Pada titik ini, kita tentu bertanya apa sumbangsih yang dapat Heidegger berikan terhadap studi media dan komunikasi. Ia menggeluti disiplin ilmu yang berbeda dan hidup pada zaman ketika teknologi komunikasi dan informasi masih jauh dari secanggih sekarang. Di atas itu, ia memiliki catatan hitam sebagai anggota partai politik yang melakukan kejahatan kemanusiaan paling keji dalam sejarah umat manusia modern.

Menurut kedua penulis buku ini, Heidegger memang bukan seorang pakar komunikasi per se. Media tidak pernah menjadi objek studinya. Meskipun demikian, Heidegger merupakan seorang pemikir yang tetap relevan bagi studi media karena ia membahas dua hal yang memediasi hubungan antara manusia dengan dunia, yakni bahasa dan teknologi. Dengan kata lain, Heidegger menganalisis bahasa dan teknologi sebagai media. Sebagaimana yang kita akan lihat, filsafat Heidegger mampu melampaui sekat-sekat zaman dan diterapkan untuk memandang permasalahan dunia kita saat ini justru karena ia mencari tahu esensi bahasa dan teknologi ketimbang membahas perangkat teknologi yang spesifik seperti televisi atau radio.

Dengan demikian, hal pertama yang perlu kita ingat ketika membaca buku ini adalah ketiadaan “teori media Heidegger” di dalamnya karena hal tersebut memang tidak pernah ada.

Saya merinci ulasan buku ini dalam dua topik besar. Bagian pertama akan membahas bagaimana konsep Heidegger mengenai bahasa menghadirkan perspektif baru mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai sebuah ritual. Bagian kedua berisi ulasan mengenai kritik Heidegger terhadap bahaya perkembangan teknologi yang mengedepankan efektivitas bagi umat manusia.

Menyingkap Dimensi Ritual Komunikasi

Buku ini dibuka dengan pernyataan bahwa bahasa merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Hal ini disebabkan status bahasa sebagai medium pertama dalam komunikasi. Segala informasi dalam bentuk tertentu seperti gambar, suara, atau teks, harus dibahasakan terlebih dahulu sebelum disebarkan lebih lanjut melalui medium lain (hal. 25).

Namun, fungsi bahasa bukan hanya sebuah instrumen atau alat untuk berkomunikasi. Tanpa berkomunikasi pun, kita menggunakan bahasa untuk memahami dunia: kita memiliki nama untuk benda-benda yang kita jumpai, bahkan perasaan kita sendiri. Menurut Heidegger, hal ini menunjukkan bahwa esensi bahasa adalah untuk menyingkap (disclosing) dunia kepada manusia (hal. 28). Kita hanya dapat mempersepsikan dunia kita berdasarkan bahasa yang kita miliki—atau menurut kata-kata filsuf Ludwig Wittgenstein, “Batas dalam bahasaku adalah batas dalam duniaku”[1].

Sebagai contoh, suku Eskimo memiliki lebih dari 50 kata untuk saljumatsaaruti, atau salju basah yang dapat digunakan untuk berseluncur, berbeda dari pukak, yakni butiran salju yang mirip seperti garam. Dengan memiliki begitu banyak kosa kata untuk menunjuk salju, suku Eskimo memahami salju dengan lebih kompleks ketimbang bangsa Indonesia yang hanya memiliki satu kata. Dibekali dengan pemahaman yang lebih canggih mengenai salju, suku Eskimo dapat mengorganisasikan kehidupan mereka dengan lebih baik—sebagai contoh, mereka hanya akan berseluncur pada matsaaruti, dan menjauhi salju yang lebih tebal dan padat.

Contoh lainnya adalah bagaimana masyarakat Simeulue di Aceh memiliki sistem untuk mengantisipasi bahaya tsunami dengan menggunakan istilah yang dipahami bersama, yakni Smong. Masyarakat Simeulue telah mengalami tsunami selama berkali-kali. Pengalaman ini melahirkan kata Smong—yang berarti ombak besar—sebagai seruan yang dapat dipahami dengan segera oleh seluruh masyarakat sehingga mereka dapat menyelamatkan diri dengan segera. Penggunaan istilah Smong yang disosialisasikan secara turun temurun membuat masyarakat Simeulue dapat dengan lebih sigap menghadapi bahaya tsunami yang secara tak terduga, namun pasti akan terjadi, menimpa mereka.

Ketika manusia berbagi ruang hidupnya bersama manusia lain yang memiliki bahasa yang sama, setiap tindakan komunikasi di antara mereka menciptakan pengalaman yang dimaknai secara kolektif. Hal ini menunjukkan dimensi komunikasi sebagai sebuah ritual (hal. 37): komunikasi berfungsi untuk mengukuhkan pandangan satu sama lain akan dunia yang mereka bagi bersama. Kita bisa melihat kesamaan kata komunikasi secara etimologis dengan “community” atau “commonness”—kata-kata yang menunjukkan persamaan dan kolektivitas (hal. 36).

Dalam Ecrits (2001), Jacques Lacan, sarjana psikoanalisis yang diilhami oleh Heidegger, memberi analogi tentang dimensi ritual komunikasi melalui perilaku koloni burung camar yang secara kolektif memindahkan ikan dari paruh satu burung ke burung lain. Tindakan ini berfungsi untuk menegaskan kesadaran kelompok di antara burung camar tersebut—tidak peduli burung mana yang akan memakan ikan tersebut pada akhirnya.

Buku ini menempatkan dimensi ritual komunikasi yang diusung oleh Heidegger sebagai sebuah pelengkap terhadap paradigma dominan yang menempatkan komunikasi sebagai transmisi (hal. 33). Paradigma dominan ini sebagaimana model komunikasi Shannon-Weaver yang menempatkan komunikasi sebagai sebuah alur pesan yang berpindah dari pengirim ke penerima melalui medium tertentu. Menurut buku ini, model transmisi kerap mereduksi problem komunikasi menjadi perkara efektivitas, yakni bagaimana cara menyampaikan sebanyak mungkin informasi menggunakan sumber daya seminimal mungkin (hal. 37).

Sebaliknya, perkembangan teknologi komunikasi justru membawa banjir informasi yang belum tentu relevan bagi kehidupan manusia—atau sebagaimana yang dikatakan Peter Sloterdjik, “Media ... membicarakan semua hal, namun tidak menjelaskan apa-apa mengenai apa pun”[2] (hal. 42). Media menghadirkan apa yang disebut Heidegger sebagai idle talk (obrolan kosong), yakni komunikasi sebagai sebuah pembicaraan yang belum tentu menyampaikan apa pun yang bermakna (hal. 39). Hal ini bukan berarti bahwa tiap pihak yang berpartisipasi tidak mengerti apa yang dibicarakan, namun apa yang dibicarakan tidak memiliki signifikansi bagi keseluruhan pandangan dunia mereka.

Pada idle talk, pijakan manusia manusia pada dunianya yang kontekstual menjadi goyah, dan sang manusia terseret dalam arus informasi yang deras. Hal ini menjadikan problem komunikasi menjadi salah satu permasalahan sentral bagi filsafat Heidegger yang memperjuangkan otentisitas manusia. Namun sebagaimana yang kita akan lihat, Heidegger masih mewanti-wanti satu hal lagi yang merupakan ancaman besar bagi otentisitas tersebut: teknologi.

Teknologi dan Perihal Menjadi Manusia

Kewaspadaan Heidegger terhadap pengaruh teknologi bukanlah bahwa suatu saat nanti manusia tidak dapat mengendalikan teknologi sehingga justru dikuasai olehnya seperti fantasi pada film bertema dystopia seperti The Matrix, dan bukan pula ketakutan akan bahaya senjata pemusnah massal seperti nuklir ataupun perang biologis. Sebaliknya, Heidegger meletakkan bahaya teknologi dalam kuasa teknologi untuk mereduksi esensi manusia (hal.147). Meski demikian, Heidegger tidak menempatkan bahaya tersebut pada sebuah perangkat teknologi tertentu  sebagaimana yang dilakukan pemikir seperti Neil Postman terhadap televisi—ia melihat bahaya tersebut pada esensi dari semua bentuk teknologi. Bagi Heidegger, bagaimana kita menggunakan teknologi lebih penting ketimbang teknologi apa yang kita gunakan.

Menurut Heidegger, kita kerap kesulitan untuk menyikapi teknologi secara kritis karena kita secara tidak sadar memperlakukan teknologi sebagai bagian dari diri kita sendiri. Untuk memahami maksud pernyataan ini, kita dapat melihat konsep media yang dicetuskan oleh Marshall McLuhan. Menurut McLuhan, pada dasarnya media merupakan perpanjangan dari manusia (hal. 103). Sebagai contoh, sebuah mouse bukan hanya merupakan alat untuk menggerakkan pointer pada komputer, namun merupakan sebuah perpanjangan dari tangan manusia di dalam sistem komputer. Sifat media yang merupakan perpanjangan dari manusia dan bukan sebuah objek yang berjarak dengan manusia ini menyebabkan manusia menjadi begitu rentan terhadap pengaruh teknologi. Dalam beraktivitas, kita lebih memperhatikan apa yang kita lakukan ketimbang teknologi yang kita gunakan (hal. 104).

Menurut Heidegger, teknologi memiliki dampak besar—yang kerap tidak disadari ketika kita menggunakan teknologi—terhadap cara manusia memandang dunianya. Hal ini dapat terlihat jelas pada teknologi komunikasi yang memungkinkan manusia melampaui hambatan ruang dan waktu; semua hal terasa semakin dekat dan berada dalam jangkauan. Bagi filsuf Walter Benjamin, teknologi adalah sebuah lonjakan luar biasa dalam kemampuan sensorik manusia yang memperkuat ketajaman dan kedalaman persepsi manusia mengenai dunia (hal. 142): menggunakan teleskop, manusia dapat melihat luar angkasa yang tak bertepi; melalui lensa mikroskop, manusia dapat membedah realitas hingga partikel yang paling kecil. Namun, menurut Heidegger, yang terjadi bukanlah ledakan kemampuan sensorik manusia, namun pemampatan dunia itu sendiri (hal. 143). Teknologi tidak memperluas jangkauan manusia terhadap dunia—ia memperkecil dunia sehingga dapat digenggam manusia dengan mudah.

Sekali lagi, Heidegger melihat bahwa prinsip yang dihidupi oleh teknologi adalah efektivitas (hal. 139). Teknologi memanipulasi dunia untuk memenuhi kebutuhan serta melampaui keterbatasan yang dimiliki manusia. Sisi gelap dari efektivitas ini adalah bahwa manusia dapat kehilangan tujuan dari aktivitas yang ia lakukan: semua hal telah tersedia baginya, namun ia tidak mengetahui kenapa ia harus melakukan apa pun (hal. 158). Teknologi menjadi sebuah bahaya besar bagi otentisitas manusia karena ia mendorong manusia untuk melakukan sesuatu hanya karena ia bisa melakukannya. Alih-alih mempermudah aktivitas manusia, teknologi justru mereduksi manusia sebagai sebuah pelengkap atas teknologi itu sendiri. Teknologi telah tersedia dan manusia tinggal menggunakannya.

Kesimpulan

Sejumlah pengkritik kerap menuding Heidegger berantipati secara berlebihan terhadap teknologi dan bias terhadap nostalgia pada komunitas pedesaan tempat masyarakat hidup dengan sederhana, jauh dari gegap gempita modernitas (folkish) (hal. 130). Sepanjang hidupnya, Heidegger sendiri memilih untuk menetap di daerah pedesaan Jerman yang tenang, dan hanya pergi ke kota apabila ia memiliki keperluan seperti mengajar.

Meski demikian, tuduhan ini jelas bertentangan dengan proyek eksistensialisme yang Heidegger perjuangkan agar manusia dapat hidup dengan otentik. Teknologi adalah kenyataan material kita sehari-hari, sementara kegiatan berlibur ke pedesaan maupun alam bisa jadi sebuah eskapisme dari kejenuhan menghadapi realitas kita sendiri. Menurut Mark Wrathall (2005), tindakan yang tepat di mata Heidegger adalah untuk membuka ruang bagi pengalaman subjektif baru ketika menggunakan teknologi; untuk menggunakan teknologi di luar skema yang telah ditentukan sebelumnya.

Sayangnya, tidak ada langkah pasti untuk mencapai subjektivitas ini karena ketika kita menerapkan sejumlah tata cara yang ideal untuk menggunakan teknologi, kita telah menciptakan skema baru yang sama membelenggunya. Tampaknya, memang demikian sumbangsih pemikiran Heidegger bagi studi media. Ia tidak menghadirkan jawaban yang pasti, namun menyingkap sejumlah permasalahan baru. Hal ini serupa dengan pernyataan Daniel Dennett (hal. xi) yang menjadi kalimat pembuka buku ini: “Saya seorang filsuf, bukan ilmuwan; sebagai filsuf, kami lebih pandai mengajukan pertanyaan, bukan memberi jawaban”[3][]


Daftar Pustaka

Lacan, Jacques (2001) Ecrits; a Selection. London & New York: Routledge

Wrathall, Mark (2005) How to Read Heidegger. London: W.W. Norton & Company

 

Bacaan Terkait
Eduard Lazarus Tjiadarma
Masih berupaya menyelesaikan studi kajian media di Universitas Indonesia sembari berkecimpung di Remotivi. Selain bergumul dengan isu media, ia juga mendalami teori kritis, kajian budaya dan filsafat.
Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?