Ilustrasi: Valentine Svensson, "Outdoor cinema at the Grantchester Meadows" (CC-BY)
Ilustrasi: Valentine Svensson, "Outdoor cinema at the Grantchester Meadows" (CC-BY)
30/12/2016
Film dan Ingatan
Sebagai bagian dari kebudayaan populer, film telah menjadi bagian sekaligus membentuk ingatan kolektif. Sejarah dan identitas kita turut berpendar di atas layar sinema.
30/12/2016
Film dan Ingatan
Sebagai bagian dari kebudayaan populer, film telah menjadi bagian sekaligus membentuk ingatan kolektif. Sejarah dan identitas kita turut berpendar di atas layar sinema.

Judul
Memory and Popular Film

Penyunting
Paul Grainge

Penerbit
Manchester University Press

Tahun
2003
 

“Sekedar mengingatkan bahaya Komunis yg sdg marak saat ini,” pesan tersebut, disertai dengan link  film Pengkhianatan G30S/PKI di Youtube, lewat di salah satu group  media sosial tepat ketika saya sedang membaca buku ini. Saya sendiri tidak punya kenangan langsung terkait “bahaya Komunis,” dan saya duga begitu pula si pengirim pesan.  Namun itu tidak berarti istilah tersebut menjadi tabung kosong di pikiran saya dan si pengirim pesan. Ingatan bukan hanya berbentuk informasi yang disimpan otak individu dari pencerapan langsung, ia juga  disimpan bersama dalam wadah bersama kelompok sosial dan masyarakat dalam sebuah ingatan kolektif.

Ingatan—yang senang kita anggap sebagai sesuatu yang ajeg dan pasti, sesungguhnya terus menerus dibentuk, dipengaruhi, dilupakan dan disepakati bersama. Ia dipengaruhi oleh berbagai pesan sesama, termasuk film. Dalam konteks ini, rasanya aman jika saya berkata bahwa ingatan kolektif masyarakat Indonesia terkait PKI dipengaruhi oleh film-film dan simbol budaya, seperti misalnya film Pengkhianatan G30S/PKI.

“Kebetulan”, itulah poin utama ke-dua belas kumpulan esai Memory and Popular Film (2003) yang diedit oleh Paul Grainge. Dengan berfokus pada produksi film Hollywood, buku ini mengumpulkan pandangan interdisipliner dari berbagai ahli kajian film, kajian Amerika Serikat, dan kajian budaya dalam mengupas diskursus antara film dan ingatan, politik ingatan, dan dampak peralihan teknologi dalam pembentukan ingatan masa kini.

Bagaimana film populer turut mempengaruhi dan membentuk “ingatan bersama” (collective memory)?  Mengapa film dan bukan media lain? Film, dengan koordinasi antara gambar dan suara, mampu menciptakan representasi langsung terhadap realita yang tidak dapat dilakukan media-media sebelumnya. Ketika foto atau tulisan mencoba merepresentasikan ingatan, mereka hadir dengan batasan yang jelas. Namun representasi yang dihadirkan film menyelinap ke dalam kesadaran dengan cara yang serupa seperti pengalaman langsung.

Sejak kemunculannya, kemampuan unik teknologi film dalam mereka ulang temporalitas masa lalu telah menempatkannya dalam posisi unik dalam imajinasi budaya manusia abad ini. Baik dalam identitas nasional yang dibentuk oleh film perjuangan kemerdekaan, atau pandangan kita terkait peranan Amerika di panggung global dalam perang dingin yang dibentuk oleh film aksi Hollywood, batasan antara sejarah dan film telah melebur dalam kenangan kita dalam banyak insiden penting yang terjadi dalam sejarah manusia.

Ingatan, sejarah, dan kuasa

Ingatan memang kerap kali beda tipis dari sejarah. Kajian mengenai ingatan kolektif adalah bidang inter-disipliner yang disebut sebagai kajian ingatan (memory studies), yang mendalami bagaimana individu dan kelompok mengingat dan melupakan melalui perspektif sosial, politik, kultural, dan teknis. Ia serupa dengan sejarah karena ia juga merupakan upaya “mengetahui” dan menginterpretasi masa lalu, namun lebih berfokus pada hubungan dialogik antara yang lalu dan yang sekarang; bagaiman masa lalu menyeruak, dialami, dan disepakati dalam konteks masa kini.

Seperti yang dikatakan Roger Bromley, “Ingatan bukan hanya milik individu, ataupun sekedar proses psikologis, ia adalah fenomena budaya dan sejarah yang kompleks dan terus menerus melalui proses revisi, amplifikasi dan ‘pelupaan’.” Seperti halnya  kenangan seseorang tentang keluarganya “dibantu” dengan sebuah album keluarga atau jurnal harian, media terus menerus membantu proses kita dalam menegosiasikan ingatan. Jika sejarah berfokus pada teks album dan jurnal tersebut, kajian ingatan justru lebih berfokus pada relasi dan diskursus antara manusia dan teks.

Ingatan memiliki posisi kunci dalam pergumulan antara kekuasaan dan pengetahuan. Michel Foucault mendefinisikan ingatan sebagai kuasa politik yang penting dalam perjuangan (struggle). “If one controls people’s memory, he controls their dynamism.”  Foucault memandang ingatan sebagai “pengetahuan yang ditundukkan” (subjugated memory) yang berperan baik dalam oposisi dan perlawanan, maupun dalam pemeliharaan status quo. Konsep ini dikembangkan lebih jauh oleh Marita Sturken, yang menganggap ingatan sebagai sesuatu yang lebih kompleks daripada sekedar oposisional. Sturken mengembangkan konsep “ingatan budaya” (cultural memory) yang lebih luas dan ambigu. Konsep ini menekankan ingatan yang diproduksi melalui citral, lokasi, objek, dan representasi.

“Process of cultural memory is bound up in complex political stakes and meanings. It both defines a culture and is the means by which its divisions and conflicting agendas are revealed. To define a memory as cultural is, in effect, to enter into a debate about what memory means. This process does not efface the individual but rather involves the interaction of individuals in the creation of meaning. Cultural memory is a field of cultural negotiation through which different stories vie for a place in history.”

Relasi antara kuasa/pengetahuan dan representasi film ini diperdalam khususnya di esai kelima, terutama dalam konteks revisionisme perang Vietnam. Film-film Hollywood seputar perang Vietnam memiliki kecenderungan untuk melupakan dan menonjolkan aspek-aspek tertentu.  Film seperti Platoon atau Rambo mencoba melupakan luka dan kerugian besar Amerika dalam perang tersebut, dan mengagungkan perang sebagai semata kejayaan heroik atau setidaknya proses pendewasaan “pahlawan kulit putih.” Narasi ini membangun kenangan masyarakat Amerika akan perang, misalnya kenangan yang dipanggil kembali saat Presiden Bush senior memanggil rakyatnya untuk mendukung perang Teluk.

Kenangan itu sendiri memang merupakan kata yang bisa membawa konotasi buruk. Terutama dalam bentuk nostalgia, ia menarik manusia pada masa lalu. Maka ia kerap dianggap bersikap solipsistik dan tidak ramah pada perkembangan. Ia memelihara hegemoni dalam kulit “budaya/ingatan resmi”. Namun Tony Benett dan Janet Woollacott berteori bahwa, meskipun budaya/ingatan resmi sering kali bersifat kaku, kita dapat menyelami jejak-jejak reformulasi dan pertentangan hegemoni dengan menyelami teks budaya populer seperti film.

Misalnya seperti dikupas pada esai pertama, film sejak awal masa jaya Hollywood memang kerap memperkokoh pandangan hegemonik. Misalnya dalam penggambaran suku Indian Amerika pada rangkaian film Chronicles of America di awal abad ke-20 yang memenuhi stereotipe barbar dan menakutkan, yang populer sebagai justifikasi perang dan pembasmian suku Indian.

Namun ketika pandangan simpatik terhadap suku Indian mulai muncul belakangan, representasi film ikut berubah. Mulai muncul narasi berlawanan yang memanusiakan suku Indian dan mengkritik kekerasan Amerika, seperti dalam film Dances with Wolves, atau sebagaimana diungkap Benett dan Woollacott: “Periode munculnya inovasi dalam  perfilman kerap kali berbarengan dengan masa-masa dimana artikulasi ideologis yang tadinya stabil mulai gagal memuaskan masyarakat populer.”

Hal yang sama juga terlihat ketika berbagai arus multikultularisme datang bersama berbagai gelombang imigrasi Amerika. Ketika gelombang imigran baru dari Eropa sampai di Amerika, masyarakat perlu menyesuaikan diri dan mulai memaknai perubahan—proses yang dipengaruhi dan dibantu oleh perubahan representasi identitas Amerika dalam film-film Hollywood. Kini di tengah transformasi masyarakat Amerika yang semakin multikultural, film-film Hollywood kembali merubah representasi rasial dan pemaknaan identitas nasional.

Kesimpulan

Sebagai kumpulan esai dengan topik interdisipliner, buku ini menghadirkan sudut pandang yang bervariasi terkait relasi film dan ingatan. Beberapa esai mencoba mengulas kaitan antara ingatan dan faktor non-teks film, seperti aktivitas menonton bioskop dan penyelenggaraan festival. Beberapa esai mengulas dampak perkembangan teknologi seperti produksi massal, pencitraan digital, hingga proliferasi kanal media audio visual (internet, video sewaan) yang mengubah budaya bioskop dan pengaruhnya pada kenangan.

Buku ini menghadirkan banyak perspektif menarik dan segar terkait kajian ingatan dan film, baik bagi akademisi ataupun pembaca kasual yang meminati isu tersebut. Buku ini menegaskan bahwa film tidak hanya berperan sebagai arsip atau metadata perkembangan sejarah dan budaya manusia, ia juga berperan penting dalam pergumulan kekuasaan dan pengetahuan dalam masyarakat.

Membaca buku ini, saya teringat kondisi industri perfilman Indonesia yang impoten. Iklim perfilman populer Indonesia hingga kini masih didominasi oleh film asing, dengan industri bioskop yang dimonopoli dan memberi sedikit ruang bagi kreativitas dan inovasi. Meskipun film kerap kali digunakan untuk menjaga hegemoni dan membentuk ingatan yang hanya melayani kepentingan otoritas—seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, film tetap memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan proses diskursus masyarakat. Dalam iklim perfilman populer saat ini, Indonesia tampak seperti sebuah bangsa yang kesulitan berbicara untuk dirinya sendiri. []

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Belajar kajian media di Universitas Indonesia. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. 

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"