28/03/2016
Heroisme dan Dilema dalam Spotlight
Kemenangan film Spotlight di Academy Awards ke-88 mendengungkan peran penting peliputan investigasi. Film ini berangkat dari penyelidikan tim investigasi Boston Globe di sepanjang 2001-2002.
28/03/2016
Heroisme dan Dilema dalam Spotlight
Kemenangan film Spotlight di Academy Awards ke-88 mendengungkan peran penting peliputan investigasi. Film ini berangkat dari penyelidikan tim investigasi Boston Globe di sepanjang 2001-2002.

Judul:
Spotlight

Tahun:
2015

Sutradara:
Tom McCarthy

Produksi:
Anonymous Content,
First Look Media,
Participant Media, dan
Rocklin/Faust

Durasi:
129 menit

Spotlight tentu meninggalkan kesan  heroik bagi jurnalis dan pekerja media. Bagaimana tidak? Film yang  disutradai  oleh Tom McCarthy tersebut merupakan kisah tentang Boston Globe yang melakukan investigasi dan mengungkapkan serangkaian skandal pelecehan seksual yang ditutup rapat oleh Gereja Katolik Roma di kota Boston.

Tim Spotlight—tim khusus investigasi Boston Globe—yang terdiri dari Michael Rezendes, Sacha Pfeiffer, Walter Robinson, Ben Bradlee Jr, dan dibantu pemimpin redaksi Martin “Marty” Baron melacak selama berbulan-bulan berbagai data dan keterangan untuk menelusuri kasus yang sebelumnya seperti tersembunyi rapat. Film tersebut  memberikan pelajaran penting kedisiplinan dalam mengumpulkan informasi demi laporan investigasi dan membuka skandal yang tidak main-main.

Salah satu pelajaran penting tersebut adalah kegigihan menggali arsip masa lampau dari berbagai liputan yang pernah diangkat Boston Globe, hingga menemui korban secara langsung untuk mengungkap detail-detail pelecehan yang dilakukan—bahkan harus rela ditolak dan didamprat korban yang enggan diungkit masa lalunya. Hasil dari investigasi tersebut adalah laporan yang membuat kita bergidik: selama bertahun-tahun pihak gereja melindungi puluhan rohaniwan pelaku pelecehan seksual kepada anak-anak.

Film dan Jurnalisme Investigasi

Spotlight bukan film pertama yang mengangkat tema jurnalisme investigasi. Tahun 1976, film All the President’s Men dibuat sebagai adaptasi dari kisah pengungkapan skandal pemilu Amerika Serikat yang dimenangi Richard Nixon. Investigasi yang dilakukan wartawan Washington Post berhasil membuka fakta bahwa Nixon memenangi pemilihan presiden dengan curang. Sebagaimana Spotlight, film ini juga menjelaskan bagaimana pentingnya peran wartawan dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan publik.

Bagi sebagian mahasiswa jurnalistik, film All the President’s Men menjadi salah satu topik pembicaraan dosen di kelas untuk memberikan gambaran tentang penyelidikan investigasi. Salah satu pelajaran penting yang didapatkan dalam film tersebut adalah anjuran sang pembocor skandal—dikenal sebagai Deep Throat—yang memberikan petunjuk kepada wartawan Wasington Post Bob Woodward: “follow the money. Anjuran ini membuahkan metode penyelidikan jurnalistik berupa penelusuran jejak uang yang mengalir ke pihak-pihak berkepentingan untuk mengungkap sebuah skandal.

Selain itu, film berbau jurnalisme lain yang cukup memberikan pelajaran berharga mengenai jurnalistik adalah The Insider. Berbeda dari All The President’s Man yang membongkar permasalahan isu politik, The Insider, yang juga diadaptasi dari kisah nyata, mengulas permasalahan korporasi dan intrik legalisasi tembakau di Amerika Serikat. Ia membuka intrik yang dilakukan Seven Dwarfs, atau tujuh pemimpin perusahaan rokok di Amerika Serikat dalam mempengaruhi kongres AS untuk mengaburkan fakta bahwa nikotik tidak membuat orang kecanduan. Bergman berhasil mewawancarai salah seorang bekas petinggi perusahaan yang memberinya data-data penting. Sayangnya stasiun televisi CBS enggan menampilkan wawancara secara utuh karena takut menghadapi kemungkinan penuntutan yang akan dilakukan oleh perusahaan rokok. Dari film ini kita bisa melihat bagaimana idealisme dan kerja keras seorang wartawan dalam melakukan tugasnya mesti berhadap-hadapan dengan kepentingan media yang menaunginya. 

Spotlight bukan satu-satunya film bertemakan investigasi jurnalistik yang diproduksi Hollywood pada 2015. James Vanderbilt, sutradara kelahiran New York, juga mengangkat hal serupa dalam film panjang pertamanya, Truth. Film yang dibintangi Cate Blanchett dan Robert Redford ini menggambarkan upaya “60 Minutes”, salah satu program jurnalistik CBS, dalam mengungkap masa lalu presiden George W.Bush ketika masih bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat. Sementara beberapa film yang disebut di atas mengglorifikasi dan menunjukkan keberhasilan sebuah jurnalisme investigasi, film ini justru sebaliknya. Truth mempertanyakan kesahihan data yang diperoleh oleh CBS sehingga investigasi yang mereka lakukan juga menimbulkan pertanyaan.

Dari beberapa judul film—dan liputan investigasi yang menjadi inspirasi pembuatan film—terdapat satu hal pokok yang menalikan beragamnya isu dalam jurnalisme investigatif. Semuanya berangkat dari kepentingan publik. Berangkat dari kepentingan publik tersebut, berbagai data dikumpulkan untuk memperoleh detail dan membuka tabir kasus yang tertutup rapat. Kepekaan juga diperlukan dalam “membunyikan” data yang diperoleh. Dalam Spotlight misalnya, wartawan Boston Globe menemukan ketidakberesan ketika sejumlah rohaniwan yang berpindah pos penugasan diberikan keterangan sick leave, meninggalkan tugas karena sakit. Padahal mereka yang diberi keterangan tersebut diduga sudah melakukan pelecahan seksual. Kepekaan membaca data ini yang membuat wartawan Boston Globe menemukan pola yang menjadi petunjuk bagi tim Spotlight untuk mendalami kasus.

Media dan Gereja

Spotlight mengangkat pertanyaan yang menarik. Dengan besarnya skandal pelecehan seksual yang masif tersebut, kenapa tidak ada media lain yang mau memberikan ruang lebih untuk memberitakannya? Terry Ann Knopf, pengajar di jurusan jurnalistik Universitas Boston, sempat menelaah peran media pada kasus pelecehan seksual di kota Boston. Dalam telaah tersebut, ia mengkritik stasiun televisi di kota Boston, khususnya WBZ-TV dan WCVB-TV, yang seolah membungkuk kepada gereja.

Terry menjelaskan bahwa ketidakhadiran media lokal untuk membongkar permasalahan skandal pelecehan seksual disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, isu pelecehan seksual adalah tema yang sulit untuk dibicarakan. Mendiskusikan pelecehan seksual saja sudah tak terbayangkan, apalagi jika pelecehan tersebut dilakukan oleh rohaniwan.

Kedua, keuskupan Boston berhasil menjalin hubungan dekat dengan pebisnis dan petinggi media di kota Boston. Hubungan inilah yang menciptakan persekutuan yang saling melindungi. Dalam film, persekutuan ini digambarkan melalui salah satu reporter Boston Globe yang selalu merongrong penyelidikan tim Spotlight dengan alasan bahwa kasus tersebut sudah tidak perlu diusut lagi karena sudah pernah coba diusut sebelumnya.

Hal ini bisa menunjukkan bagaimana pengaruh institusi agama terhadap media sehingga enggan memberitakan sebuah persoalan yang menyangkut kepentingan banyak orang. Diamnya media membuat para pelaku pelecehan seksual “tidak tersentuh”. Orang-orang ragu meminta penjelasan kepada gereja yang menyimpan kasus pelecehan seksual. Skandal gereja seperti ada dan tiada.

Posisi berseberangan antara Boston Globe dengan Keuskupan Boston sebagai simbol instusi keagamaan membuat film ini menarik sekaligus dilematis. Dalam tataran individu, beberapa anggota tim Spotlight dibesarkan dalam keluarga Katolik. Dengan melakukan penyelidikan ini, media seolah-olah mencoba mendelegitimasi institusi keagamaan. Akan tetapi, bila ditelisik lebih jauh, film ini bukan narasi pertentangan media dengan institusi keagamaan. “Marty” Baron, pemimpin redaksi Boston Globe yang diperankan oleh Liev Schreiber, dalam sebuah adegan menyatakan, “Tunjukan padaku bahwa gereja memanipulasi sistem yang mebuat orang-orang ini (rohaniwan) terlepas dari dakwaan … yang kita kejar adalah sistem”. 

Melalui pernyataan itu, Spotlight menyampaikan pesan pentingnya sebuah kerja jurnalisik investigasi. Niat untuk “mengejar sistem” itulah yang mengarahkan tim Spotlight mengerjakan investigasi lebih mendalam. Permasahalan pelecehan seksual di Boston tersebut bukan sekadar isu kejahatan yang dilakukan perorangan, melainkan masalah sistem yang melindungi kejahatan orang-orang yang berkuasa. Dengan laporan investigasi Boston Globe tersebut, Kardinal Law mundur dari posisnya, layaknya Nixon mundur dari kursi kepresidenan.

Dalam praktiknya, jurnalisme investigasi memang penuh dilema dan tantangan. Dalam konteks Indonesia sendiri, perkembangan media digital menuntut jurnalisme untuk mengejar kecepatan dan aktualitas. Liputan-liputan investigasi, yang membutuhkan waktu pengerjaan—dan juga biaya—yang tak sedikit, jadi seolah terpinggirkan. Dalam kondisi seperti ini, Spotlight menunjukkan bahwa investigasi media justru semakin mendesak untuk dilakukan. Sebagaimana sempat disinggung oleh “Marty” Baron, “Masyarakat yang skeptis membutuhkan liputan-liputan lokal dan institusi jurnalistik yang kuat, melalui kesungguhan kita mendengarkan yang tak berdaya dan tak bersuara.” []

Bacaan Terkait
Johanes Hutabarat

Kontributor untuk sebuah tabloid. Gemar berbincang dan membaca.

Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Soekarno di Balik Jeruji Media Orde Baru
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia
Kebhinekaan ala Televisi