13/01/2016
Kedangkalan Berpikir dalam Ruang Maya
Internet membuat kita semakin mahir bermultikerja, namun kita juga semakin kehilangan kemampuan berpikir mendalam.
13/01/2016
Kedangkalan Berpikir dalam Ruang Maya
Internet membuat kita semakin mahir bermultikerja, namun kita juga semakin kehilangan kemampuan berpikir mendalam.

Judul Buku
The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?

Penulis
Nicholas Carr

Tahun
2011

Penerbit
Mizan

Halaman
xvi+279

Jumat, 13 November 2015, hiruk pikuk netizen terserap pada lintasan berita yang mengabarkan tragedi penembakan dan bom bunuh diri yang terjadi di Paris. Mark Zuckerberg, CEO Facebook yang rutin memperbarui status akun Facebook pribadinya, memasang foto profil dengan filter bendera Perancis. Sedikitnya ia mendapat 1,2 juta jempol dari pengguna Facebook dan lebih dari 11 ribu akun mengomentari foto berlatar biru, putih, merah transparan. David Marcus, wakil presiden Facebook untuk divisi Messanger menulis status, “Tunjukkan dukungan Anda untuk warga Paris, dengan memperbarui untuk sementara foto profil anda dengan template baru yang kami ciptakan.”

Kampanye solidaritas Paris ini sangat mudah diikuti. Cukup mengklik foto teman Facebook yang telah menggunakan fitur filter bendera Perancis lalu mengklik tombol “Try” tepat di bagian kanan bawah foto. Ini bukan pertama kalinya Facebook mengenalkan model kampanye demikian. Sebelumnya, Juni 2015, Zuckerberg pun juga memasang foto bendera pelangi transparan pada foto profilnya sebagai simbol dukungan terhadap pernikahan sejenis.

Selanjutnya, mudah ditebak. Fenomena menambahkan filter bendera Perancis di Facebook menuai beragam reaksi. Dinding laman Facebook diwarnai ungkapan berkabung, lusinan tautan berita tentang Tragedi Paris, serta status dan komentar antara kubu yang bersimpati terhadap peristiwa naas itu. Pada saat yang sama, ada kubu yang mengkritik bahwa mereka yang meng-klik tombol “Try” tidak bersolidaritas pada Palestina, Beirut, Suriah dan Baghdad. Sikap yang seolah secara sengaja “pilih kasih” ini menjadi menarik tatkala benar-benar dipeributkan selama beberapa hari.

Internet: Sebuah Pendangkalan?

Premis Nicholas Carr rasanya menyengat kesadaran. Saat dirinya sendiri mulai merasakan ada perubahan aneh dalam tubuhnya, ia mengajukan pertanyaan gamblang, benarkah internet mampu mendangkalkan pikiran kita? Belakangan, ia menemukan bahwa bukan hanya dirinya yang mengeluhkan hilangnya kenikmatan membaca buku dan sulitnya berkonsentrasi terhadap satu hal lebih dari beberapa menit. Ada banyak orang di luar sana yang juga merasakan gejala yang sama sejak hidup dengan internet.

“Dulu, saya adalah penyelam di lautan kata-kata. Kini, saya bergerak cepat di permukaannya seperti orang mengendarai jet ski,” ungkap Carr (hal.3). The Shallows tidak hanya membahas tentang dampak dari internet yang seringkali tidak disadari manusia. Dalam beberapa bab awal buku ini bergerak ke belakang, menelusuri sejarah penggunaan teknologi yang mampu mengubah cara berpikir, memperbarui rutinitas manusia, hingga merombak tatanan sosial budaya masyarakat di masa lampau di saat tiap teknologi ditemukan.

Dalam bab berjudul “Alat-Alat Pikiran”, Carr bercerita bagaimana penemuan jam analog dapat mengubah suatu peradaban. Penemuan jam mekanis mengubah cara berpikir kita. Begitu waktu didefinisikan ulang oleh jam sebagai serangkaian satuan durasi yang sama, maka pikiran kita mulai menekankan pekerjaan mental yang metodis mengenai pembagian dan pengukuran. Jam pribadi menjadi, seperti yang ditulis Landes, “seorang teman dan pengawas yang bisa dilihat dan didengar” (hal. 42). Perkembangan teknologi jam dipengaruhi oleh jadwal ibadah yang ketat di paruh kedua Zaman Pertengahan. Para pendetalah yang mulai menuntut pengunaan teknologi pengukuran waktu secara  lebih tepat dan penganut agama Kristen akhirnya menganggap keterlambatan atau bentuk penyia-nyiaan waktu sebagai penghinaan terhadap Tuhan. Lonceng di menara gereja pula yang pertama kali menyuarakan jam, sehingga orang membagi-bagi hidup mereka (hal.43).

Setiap teknologi adalah ekspresi kehendak manusia. Terdapat empat tipologi berdasarkan cara teknologi melengkapi dan memperbesar kemampuan asli manusia: Pertama, teknologi yang memperbesar kekuatan fisik (cangkul, jarum sulam, pesawat tempur dll), Kedua, teknologi yang memperbesar sensitivitas indra (mikroskop, amplifier, teleskop dll), Ketiga, teknologi yang membentuk ulang alam (bendungan, pil kontrasepsi, bibit jagung modifikasi gen, dll), dan Keempat, teknologi intelektual. Kelompok ini mencakup semua alat yang kita gunakan untuk memperbesar atau menopang kekuatan mental kita—untuk menemukan dan mengelompokkan informasi, untuk merumuskan dan mengungkapkan gagasan, untuk berbagi cara dan pengetahuan, untuk melakukan pengukuran dan penghitungan dan untuk memperbesar kemampuan ingatan kita (hal. 44).

Peta dan jam termasuk dalam kelompok keempat. Begitu juga sempoa, kalkulator, globe, buku, suratkabar, telepon, komputer dan internet. Teknologi intelektual mempunyai kekuatan paling besar dalam membentuk pikiran kita, mengkreasikan identitas personal dan publik serta membina hubungan dengan orang lain. Pada abad ke-21 ini, internet menandai suatu era ketika teknologi intelektual menyimpan potensi menakjubkan dalam mengubah peradaban manusia.

Mekanisme kerja internet yang kompleks menciptakan sebuah “ekosistem teknologi interupsi” (hal. 95).  Saat kita memegang telepon pintar, kita terhubung ke dalam aktivitas yang super sibuk. Mengecek kotak masuk surel, membalas pesan instan di WhatsApp, mendengar “ping!” berkali-kali di BBM, mengikuti candaan ringan di grup Line, membaca berita di situs favorit, menulis status di Facebook, me-retweet linimasa Twitter, dan mengunggah foto makanan lezat serta gaya baju kasual di Instagram. Tanpa sadar, kita terus-menerus diinterupsi oleh notifikasi-notifikasi dari bermacam layanan aplikasi telepon pintar. Kita senang berhubungan dengan banyak orang. Kita senang merasa terhubung—dan kita benci merasa tak terhubung. Carr mengatakan internet tidak mengubah kebiasaan intelektual kita secara tidak sengaja. Dan apa dampak nyata penggunaan internet terhadap cara kerja otak kita?

Dalam bab “Otak Multikerja”, Carr menyatakan bahwa internet merampas perhatian kita hanya untuk mencecerkannya. “Manusia menginginkan lebih banyak informasi, lebih banyak kesan, dan lebih banyak kompleksitas,” tulis Torkel Klingberg, ahli neurosains Swedia. Kita cenderung “mencari berbagai situasi yang menuntut kinerja atau situasi serempak di mana (kita) dibanjiri informasi” (hal. 124). Penggunaan internet secara besar-besaran memiliki berbagai konsekuensi neurologis. Dengan detil, Carr mengajak pembaca masuk ke dalam beragam riset neurologi yang meneliti cara kerja otak manusia yang berhubungan dengan penggunaan teknologi.

Otak kita mempunyai bilik-bilik khusus, yang terhubung oleh neuron dan sinapsis. Dari sekian banyak bilik tersebut, terdapat satu bilik yang dinamakan prafrontal, yang berfungsi sebagai tempat pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Saat seseorang mengakses internet, bilik prafrontal adalah bilik yang paling aktif. Meski otak kita bisa beradaptasi dengan cukup cepat, namun kegiatan ini berat secara kognitif. Dalam tipologi memori—memori jangka pendek dan jangka panjang—terdapat suatu memori yang dinamakan memori aktif. Ia merupakan salah satu jenis memori jangka pendek yang berperan penting dalam alih informasi ke memori jangka panjang dan merupakan isi kesadaran kita pada saat tertentu. Memori jenis inilah yang lebih banyak bekerja dalam bilik prafontal.

Carr menganalogikan dengan sebuah ilustrasi (hal. 130-131): bayangkan mengisi bak mandi dengan sarung jari; itulah tantangan ketika memindahkan informasi dari memori aktif ke memori jangka panjang. Dengan mengatur kecepatan dan intensitas arus informasi, media memberikan pengaruh yang kuat dalam proses ini. Ketika berhadapan dengan internet, kita berhadapan dengan banyak saluran informasi, semuanya penuh. Sarung jari kita banjir ketika kita beralih dari satu saluran ke saluran lainnya. Kita hanya bisa memindahkan sedikit informasi ke dalam memori jangka panjang, dan yang kita pindahkan adalah banyak tetesan dari berbagai saluran, bukan arus informasi yang koheren dan berkesinambungan dari satu sumber.

Saat beban melebihi kemampuan pikiran kita untuk menyimpan dan memproses informasi, kita tidak bisa menyimpan informasi atau menarik kaitan dengan informasi yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang. Kita tidak mampu menerjemahkan informasi baru itu ke dalam skema. Kemampuan belajar menurun drastis dan pemahaman kita tetap dangkal.

Internet didesain sebagai sebuah sistem interupsi yang diarahkan untuk membelah perhatian. Notifikasi-notifikasi yang tiada habisnya saat gawai kita terkoneksi dengan internet merupakan selingan dan gangguan ke dalam pikiran kita. Potongan-potongan informasi tersebut berlomba merebut ruang berharga dalam memori aktif. Sistem interupsi memperbesar kemampuan multitasking—multikerja seseorang. Sekilas, keterampilan ini sangat dibutuhkan. Dalam satu waktu kita terlatih mengerjakan banyak hal dan fokus kita terbagi secara efektif dan efisien jika kita mampu mengolahnya. Namun, unsur multikerja mengakibatkan kita lemah dalam berpikir secara mendalam. Mungkin banyak tugas dan target yang berhasil kita selesaikan tepat waktu dengan kemampuan multikerja, tapi bisa jadi pada saat bersamaan kita tidak sadar telah kehilangan makna.

Ekologi Media: Sebuah Lingkungan yang Tak Terpisahkan

Pada penghujung 1881, Nietzsche, seorang filsuf tersohor, membeli mesin ketik. Penglihatan yang semakin buruk membuatnya mudah lelah saat menulis tangan. Bahkan seringkali ia pusing kepala dan muntah. Ia pun takut sebentar lagi tak bisa menulis. Beruntung, Writing Ball, merek mesin ketik buatan Denmark menyelamatkan aktivitas berharganya.

Heinrich Koselitz, seorang penulis sekaligus komposer, salah satu teman terdekat Nietzsche berangsur-angsur mendapati gaya penulisannya  berubah. “Anda benar, peralatan menulis kita ikut membentuk pikiran kita,” jawab Nietzsche menanggapi komentar koleganya.

Teknologi komunikasi, dalam kasus Nietzsche adalah mesin ketik, mewakili apa yang disebut McLuhan sebagai “medium adalah pesan”. Sedari awal McLuhan menyadari bahwa media adalah perpanjangan dari indera manusia. Yang ia maksud dalam Understanding Media: The Extensions of Man, bukan kaki atau tangan yang tiba-tiba memanjang saat menggunakan suatu medium, melainkan daya pikir dan keseluruhan akal budi manusia.

Dalam bukunya tersebut, Carr lebih menekankan risetnya pada sub-tema literasi, bagaimana mesin cetak Gutenberg, membaca dengan spasi, penemuan internet, dan kuasa Google mengubah cara berpikir, bahkan cara hidup manusia. Meski demikian, kesimpulan Carr bahwa internet mampu mereduksi nilai-nilai kemanusiaan dan merekonstruksi kecerdasan kita menjadi tampak seperti kecerdasan artifisial bermakna sangat luas, tidak hanya berkutat pada kerja otak yang berhubungan dengan dunia baca-tulis melainkan mengenai dampak dalam kehidupan sehari-hari.

Carr merujuk pada kajian ekologi media ketika menyusun The Shallows. Meski ia tak menyebutkan frasa itu, namun metafora-metafora yang ia gunakan berhubungan dengan konsep kajian ini.

Neil Postman (2000) berpendapat bahwa  ekologi media membuat orang lebih sadar akan fakta bahwa manusia hidup dalam dua macam lingkungan. Yang pertama adalah lingkungan alam, terdiri dari elemen-elemen seperti udara, pohon, sungai, dan ulat. Yang lainnya adalah lingkungan media, yang terdiri dari bahasa, angka, gambar, hologram, dan semua simbol-simbol lain, teknik, dan mesin. Postman pun menyebut bahwa ekologi media adalah kajian yang mempelajari struktur, konten dan dampak media. Dua metafora yang berkembang dalam kajian ini yakni media sebagai lingkungan dan media sebagai spesies (dimensi intermedia).

Saat mengakses internet, kita seolah-olah masuk dalam lingkungan baru. Lingkungan ini kaya simbol dan sangat dinamis. Kita hidup di dalamnya melalui akun, avatar dan teks. Dan kita menghidupi lingkungan maya dengan ritual klik serta menciptakan kebisingan—semacam polusi suara, andai teks itu diaudiokan—pada lingkungan yang tersusun oleh bit. Lalu pada perkembangannya, media sosial menjadi ruang publik yang berciri khas; persoalan remeh menjadi spektakuler melampaui esensi dari isu besar yang melingkupinya.

Fenomena filter bendera Perancis di Facebook adalah contoh terkini, bagaimana netizen lebih meributkan simbol artifisial ketimbang mendiskusikan secara serius latar belakang dan dampak dari Tragedi Paris.  Carr mengatakan bahwa saat orang mulai berdebat (dan mereka selalu melakukan itu) mengenai baik buruknya efek media, yang mereka perdebatkan adalah konten (hal. xiv). Mereka tak menyadari bahwa struktur—pola pikir Facebook—sedang berkerja di dalam otak mereka. Tak akan ada perdebatan jika Facebook tidak mengampanyekan fitur mutakhir bendera transparan tersebut. Logika Facebook adalah cara pandang Barat memutuskan isu mana yang lebih krusial untuk menjadi sebuah isu global. Ketidakadilan Facebook dalam menunjukkan sisi “tebang pilih”nya menjadi suatu godaan yang lantas diperkarakan warga desa global. Korban-korban berjatuhan. Kedangkalan itu telah diperingatkan sebelumnya oleh McLuhan: ketidakmampuan melihat bagaimana perubahan dalam bentuk media juga meliputi perubahan isinya (hal. 107).

Carr menyebutkan bahwa terdapat dua kubu, yakni pendukung dan pencela internet. Pihak pertama tentu menyambut era emas baru atas akses dan partisipasi dan pihak kedua meratapi era kegelapan baru dari kesederhanaan dan narsisme (hal. xiv).

Narsisme di media sosial seolah menjadi aliran baru, identitas kekinian yang mampu merombak kebudayaan masyarakat. Penganut narsisme luar biasa banyak. Fenomena selfie di taman bunga bawang procot memperlihatkan bahwa selfie adalah aktivitas yang sangat diperhitungkan. Jika selfie tersebut berdampak pada rusaknya sebuah taman bunga, eksistensi pelakunya menjadi demikian populer. Tampak bahwa Instagram dan Facebook dalam kasus ini membangun interaksi yang solid. Facebook dan Instagram tak ubahnya seperti dua spesies yang saling membagikan konten dan kita adalah bakteri-bakteri yang heboh sendiri di dalam dua tubuh spesies ini.

Media sosial termasuk dalam jenis teknologi intelektual. Teknologi ini mempunyai etika intelektual yang jarang disadari penggunanya. Etika intelektual adalah pesan yang dikirimkan oleh media ke dalam pikiran dan budaya penggunanya (hal. 45). Etika apa yang diusung seperangkat alat keras bernama telepon pintar, tongkat narsis, dan perangkat lunak Facebook serta Instagram saat sebentang taman bunga mekar di Bukit Pathuk? Baik di level kognitif, motorik maupun afeksi, para pengguna alat-alat tersebut telah jatuh tersungkur dalam sebuah kedangkalan akal budi. []

Bacaan Terkait
Amanatia Junda

Anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI). Penyuka Kajian Gerakan Sosial dan Media.

Populer
Memoles Citra Polisi di Televisi
Dokter Terawan dan Jurnalisme yang Rawan
Yang Tak Dibicarakan dari Perseteruan Tsamara dengan RBTH Indonesia
Dokumen Panama dan Masa Depan Jurnalisme Investigasi
Anak Kambing Presiden, Politik Tontonan, dan Aksi Kendeng