18/12/2015
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan
Media tidak lahir dalam ruang hampa. Terdapat sejumlah hal yang mempengaruhi pembentukan pesan yang ia bawa.
18/12/2015
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan
Media tidak lahir dalam ruang hampa. Terdapat sejumlah hal yang mempengaruhi pembentukan pesan yang ia bawa.

Judul Buku
Mediating the Message in the 21st Century: A Media Sociology Perspective

Penulis
Pamela J. Shoemaker and Stephen D. Reese

Tahun
2014 (3rd Edition)

Penerbit
Routledge: New York

Halaman
xxvii + 287

Setya Novanto, ketua DPR periode 2014-2019 dilaporkan Menteri Energi dan Sumber daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) pada 16 November 2015. Setya diduga telah ikut campur dalam renegosiasi kontrak dengan PT. Freeport dan mencatut nama presiden dan wakil presiden untuk mendapatkan persentase saham.

Kasus ini mengorbitkan Setya Novanto sebagai pemuncak trend di dunia maya Indonesia di sepanjang 17 hingga 21 November 2015. Hal ini membuat Setya Novanto  merasa perlu menyelenggarakan pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa di Jakarta untuk “mengklarifikasi” berita miring terkait dirinya.

Kenapa harus mengundang pemimpin redaksi media massa? Jika ia ingin mengklarifikasi, bukankah konferensi pers dengan mengundang reporter sudahlah cukup? Gagasan-gagasan Shoemaker dan Reese dalam Mediating the Message bisa memberi titik terang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.


Sikap politik pelaku media, menurut Shoemaker dan Reese, merupakan salah satu hal yang memengaruhi isi pemberitaan suatu media.  Shoemaker dan Reese, dengan mengutip Stroud (2011), menjelaskan bahwa pengaruh politis dalam konten media lumrah terjadi, dan mudah ditemui pada berbagai media yang memiliki kecenderungan partisan. Shoemaker dan Reese menunjuk Fox News, MSNBC dan situs blog berita seperti Huffington Post dan Big Government (hal 42). Kecenderungan partisan ini sangat menentukan dalam bagaimana media tersebut menyeleksi konten dan mengarahkan apa yang menjadi corak politik dalam konten media tersebut.

Sikap politik hanya salah satu dari beberapa variabel yang dapat mempengaruhi bagaimana suatu pesan disampaikan, atau dimediasi. Shoemaker dan Reese mengklasifikasikan lima level yang memiliki pengaruh (hierarki pengaruh) terhadap isi pemberitaan media massa. Mulai dari lingkaran terkecil, pada level individu pelaku media; praktik rutinitas; organisasi media; institusi sosial; hingga yang terakhir, sistem sosial. Masing-masing lingkaran tersebut menurut Shoemaker dan Reese memiliki karakter yang berbeda namun keseluruhannya membentuk sistem yang tak dipisahkan satu sama lain (hal 8-9).

 

Pada level individu, selain sikap politik, terdapat beberapa variabel yang diidentifikasi Shoemaker dan Reese dapat memengaruhi mekanisme mediasi berita. Variabel pertama, adalah latar belakang dan karakteristik dari pelaku media (gender, etnis, orientasi seksual, kelas sosial dan latar belakang pribadi yang berkaitan dengan status sosial ekonomi, karir, serta pendidikan). Kedua, nilai-nilai dan kepercayaan yang dipegang oleh pelaku media, (misalnya agama: orientasi religius, sikap politik). Ketiga, adalah “peran” dan “bingkai etis” yang dipilih pelaku media dalam situasi tertentu.

Dalam dimensi terakhir di lapisan individu, mengutip Bernard Cohen (1963), Shoemaker dan Reese mengatakan bahwa, dalam mekanisme mediasi pesan, peran pelaku media terbagi menjadi dua, yaitu yaitu mereka yang memilih untuk “netral” atau sebagai “partisipan” dari peristiwa. Penelitian Johnstone et. Al (1972) mengatakan wartawan yang menganggap dirinya “netral” hanyalah sarana transimisi pesan belaka. Wartawan jenis ini akan menghindari peristiwa dengan materi yang belum diverifikasi dan lebih berkonsentrasi pada khalayak luas. Sedangkan, wartawan “partisipan” akan lebih memiliki semangat kritisisme serta melakukan penyelidikan atas berbagai klaim. Mereka tidak sekedar mendudukkan diri sebagai “perantara”. (Shoemaker dan Reese: 230-231).

Dalam bingkai etis, Shoemaker dan Reese mengutip hasil penelusuran atas esensi jurnalisme yang dilakukan oleh Kovach dan Rosentiel (2001) Kepercayaan pada bingkai etis, seperti elemen jurnalisme, sangat memengaruhi bagaimana seorang individu jurnalis memproduksi berita. Meski pada praktiknya terdapat beberapa hal yang masih dalam wilayah perdebatan, termasuk semakin merebaknya media daring, dengan kultur internet, yang membuat konsepsi etika jurnalisme yang dapat diterapkan secara umum dan universal semakin sulit dirumuskan (Shoemaker dan Reese: 234-235).

Level kedua yang mempengaruhi isi media adalah rutinitas media. Rutinitas media terbentuk oleh tiga unsur yaitu; sumber berita (suppliers); organisasi media (processor); dan audiens (customers). Dalam pembentukan rutinitas media, tarik-menarik ketiga unsur tersebut merupakan sebuah respon praktis atas kebutuhan organisasi media.

Untuk mempertahankan eksistensinya, media harus menciptakan selisih antara biaya produksi berita dengan penjualannya. Dengan kata lain, menjaga keseimbangan antara proses produksi berita dengan pemasarannya. Upaya menciptakan pola yang sistematis dalam rangka mencapai keseimbangan, kemudian melahirkan “rutinitas media”, di mana organisasi media harus beradaptasi pada berbagai kendala yang dihadapi, dan rutinitaslah yang mengoptimalkan hubungan antara organisasi media dan lingkungannya (Shoemaker dan Reese: 167-168).

Level berikutnya adalah organisasi media. Organisasi menempati posisi yang sangat dominan dalam mekanisme mediasi pesan. Individu pekerja media dan rutinitas tunduk pada struktur dan kebijakan organisasi atau institusi yang merangkum mereka.  Pemegang kekuasaan organisasi tertinggi suatu media dipegang oleh pemilik media, entah perseorangan atau korporasi. Kuasa organisasi ini dapat tampil, misalnya, melalui perekrutan editor, serta seleksi/promosi individu-individu yang dianggap loyal untuk menempati posisi strategis dalam penentuan berita. Implikasi dari hal tersebut adalah terciptanya “swa-sensor”, penyensoran yang dilakukan oleh awak media mereka sendiri (Shoemaker dan Reese: 163). Pada titik ini, isu “otonomi” atau independensi yang seharusnya dimiliki jurnalis menjadi relevan.

Lingkaran yang menjadi level keempat dari hierarki pengaruh mediasi pesan adalah institusi sosial, yang bekerja dari luar organisasi media. Media adalah bagian dari institusi sosial yang terhubung dengan kelembagaan sosial lain yang memiliki kuasa tertentu. Relasi tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi proses mediasi pesan. Shoemaker dan Reese meminjam argumen Manuel Castells bahwa media adalah ruang yang terlembagakan secara umum, dengan logika dan organisasi yang dipengaruhi oleh struktur politik.

Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami apa yang mempengaruhi media dalam kelembagaan sosial. Pertama, melalui Teori Institusionalis, yang mendudukkan sebagai salah satu aktor politik. Melalui teori ini dapat mendeteksi relasi media dengan aktor-aktor politik yang lain. Kedua, melalui Field Theory, yang melihat praktik kerja media, jurnalisme, sebagai hasil dari negosiasi kultural dan ekonomis dengan field-field yang lain. Dalam perspektif ini, media didudukkan dalam struktur, jaring-jaring yang lebih besar (lihat Shoemaker dan Reese: 99-103). Kedua pendekatan tersebut, akan membantu saat kita harus mendeteksi posisi media sebagai bagian dari jaring-jaring kekuasaan institusi-institusi sosial.

Level kelima, terluar dalam hierarki pengaruh, adalah sistem sosial. Shoemaker dan Reese meletakkan sistem sosial sebagai struktur yang menghubungkan antara masyarakat secara umum dengan institusi yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Sistem sosial sangat luas. Shoemaker dan Reese sendiri menyederhanakannya dalam empat sub-sistem: ideologi, ekonomi, politik, dan kultural (Shoemaker dan Reese: 69-74). Keempat wilayah tersebut berada dalam wilayah paling makro dan kadang sulit untuk dideteksi. Kadang kita akan cenderung menganggap sesuatu yang umum, lumrah saja terjadi, sesuatu yang secara hegemonik akan kita terima sebagai kewajaran, taken for granted (Shoemaker dan Reese: 94).

Apa yang dilakukan oleh Setya Novanto dengan mengumpulkan para pemimpin redaksi dapat dilihat sebagai produk kultural yang telah menjadi sistem sosial. Mekanisme yang sama—pemanggilan pemimpin redaksi—dapat dengan mudah kita temui keberlangsungannya pada masa Orde Baru. “Wajar”nya pertemuan Setya Novanto dengan Forum Pemimpin Redaksi haruslah kita permasalahkan, meski tersembunyi di bawah kata-kata yang sangat naif, seperti sekadar “mengklarifikasi keadaan.”


Kerangka teoretik yang berusaha dibangun Shoemaker dan Reese, menurut pembacaan saya, memiliki pengaruh yang sangat besar dari teori Strukturasi Anthony Giddens. Shoemaker dan Reese tidak hanya melihat individualitas (atau dalam terminologi Giddens; “agensi”) sebagai sebuah subjek otonom yang dapat mempengaruhi mekanisme mediasi pesan atau berita dengan bebasnya. Namun, individu tersebut juga tunduk pada lingkaran, pada hierarki sosial yang lebih besar, yaitu sistem sosial (dalam bahasa Giddens, sebagai “struktur” yang terlebih dahulu ada). Lapisan-lapisan yang menjadi penengah antara level paling makro dan mikro barangkali dekat pada praktik “strukturasi” ala Giddens yang terjadi di lingkungan media (Giddens, 1984).

Buku ini telah mengalami pengembangan dan penyempurnaan dari edisi sebelumnya (1996). Apabila kita perbandingkan keduanya, kita akan menemukan sejumlah perbedaan. Dalam edisi 2014, Shoemaker dan Reese tampak mendapat pengaruh dari teori Masyarakat Jaringan Manuel Castells (Castells, 1996). Hal ini tampak dalam perubahan kategori lingkaran terluar di hierarki pengaruh yang, dalam edisi 1996 diatributkan pada “kekuasaan dan ideologi”, berubah menjadi  “sistem sosial”. Perubahan juga terjadi dalam lingkaran kedua, yang mulanya disematkan pada “media dan kontrol sosial”, diubah menjadi “institusi sosial”.

Selain perubahan kategori, Shoemaker dan Reese menaruh perhatian besar pada konteks global. Pengaruh globalisasi dalam tatanan media, yang mulanya diformulasikan secara konvensional pada edisi 1996, dikembangkan jadi jauh lebih kompleks. Hal tersebut turut serta menegaskan pengaruh Castells terhadap kerangka teoritik buku babon ini. []


PUSTAKA

Giddens, A. (1984). The constitution of society: Outline of the theory of structuration. Berkeley: University of California Press.

Castells, M. (1996). The rise of the network society. Malden, Mass: Blackwell Publishers.

 
Bacaan Terkait
Justito Adiprasetio

Buruh akademik. Menamatkan studi magister di Program Studi Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada dan magister Ilmu Komunikasi di Universitas yang sama. Sejak tahun 2015 memutuskan kembali menetap di Jatinangor, setelah beberapa tahun menggelandang di Yogyakarta. Tertarik pada tema gender dan seksualitas, kuasa dan keilmuan, dan jurnalisme.

Populer
Di Balik Wangi Pemberitaan Meikarta
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Kekerasan Seksual di Media
Televisi Dieksploitasi, KPI Bergeming