03/04/2015
Menggali Ingatan Minangkabau
Ketika cara mengingat berubah, cara berpikir pun ikut berubah. Catatan tentang keberaksaraan di tanah Minang.
03/04/2015
Menggali Ingatan Minangkabau
Ketika cara mengingat berubah, cara berpikir pun ikut berubah. Catatan tentang keberaksaraan di tanah Minang.

Judul: 
Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940an)

Penulis: 
Sastri Sunarti

Penerbit: 
Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun: 
2013

 

Sastri Sunarti, dalam Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (selanjutnya disingkat K&K) berusaha mendeskripsikan peralihan kebudayaan lisan ke dalam kebudayaan aksara dalam masyarakat Minangkabau. Sebagian besar analisis dalam buku ini berupa penelusuran jejak tradisi lisan dalam tulisan koran-koran (orientasi lisan), serta faktor historis yang menjadi pendorong bagi berkembangnya keberaksaraan.

Buku ini pada dasarnya berusaha mengoperasikan teori dan metodologi Walter J. Ong dalam Kelisanan dan Keberaksaraan (1982) untuk melihat masyarakat Minangkabau abad ke-19 dan ke-20 (lihat ulasan Holy Rafika atas Kelisanan dan Keberaksaraan). Dalam upaya ini, Sunarti menggunakan metode noetika dalam mendekati terbitan-terbitan kaum Pribumi Minangkabau. Sastri meminjam deskripsi Sweeney atas noetika sebagai “Kajian terhadap sistem wacana yang berwujud dalam suatu masyarakat [...] dalam membentuk, menyampaikan, melestarikan, serta meraih kembali segala macam ilmu yang tersimpan” (hal. 22).

Dengan demikian, pendekatan noetika adalah pendekatan lintas-disiplin; untuk menggali sistem wacana suatu masyarakat, dibutuhkan pemahaman tentang aspek sejarah, antropologi, hingga linguistik yang terdapat dalam masyarakat tersebut. Pendekatan ini pun lintas-media, karena sistem wacana mengejawantah dalam berbagai macam bentuk baik dalam teks maupun praktik kultural di luar teks.

 Lahirnya Keberaksaraan di Minang

Padang abad ke-19 merupakan kota kosmopolitan. Perang Paderi yang dimulai pada 1803 dan berlangsung selama 16 tahun mendatangkan banyak orang Eropa (Swiss, Perancis, Jerman, Belgia, dan lain-lain) sebagai tentara bayaran. Beberapa dari mereka kemudian menetap di Padang, terutama karena alasan perdagangan. Karena diundang oleh perang, sebagian besar orang Eropa yang datang adalah laki-laki. Mereka yang menetap akhirnya memperistri perempuan setempat dan memiliki kultur Indo-Eropa yang berbeda dari kultur Eropa totok maupun lokal.

Kaum Indo inilah yang pertama kali menguasai media cetak di Minangkabau. Surat kabar paling tua, Sumatra Courant, terbit pada 1859 dan dimiliki L.N.H.A Chatelin yang merangkap sebagai redaktur. Surat kabar milik kaum Indo umumnya berbahasa Belanda dan berisi berita perdagangan dan iklan. Arnold Snackey adalah salah satu pengecualian. Ia menulis dalam bahasa Melayu dan banyak menaruh minat terhadap kebudayaan Melayu. Ia menerjemahkan sejumlah kaba (salah satu bentuk sastra Melayu), syair-syair Multatuli,Sejarah Berdirinya Pohon (sejarah lengkap dari masa VOC sampai pemerintah Inggris di kota Padang), hingga transkripsi dan penerbitan pantun dan syair karya Syekh Daud. Dengan didanai Gereja, ia menerbitkan Bentara Melajoe. Namun surat kabar ini hanya berumur satu tahun karena perselisihan dengan Gereja (hal. 41).

Kaum Tionghoa mulai masuk dalam dunia penerbitan pada 1892 dengan Pertja Barat yang diterbitkan pengusaha bernama Lie Bian Goat. Terdapat pula surat kabar Tjaja Melajoe (mulai terbit 1897) yang dipimpin oleh Tuan Lim Soen Hian yang berslogan, “Soerat Chabar Melajoe dari kaoem jang berhaloean kemadjoean; Setialah boemi poetra bernaoeng dibawah bendera Belanda. Ma’moerlah tanah Hindia jakinlah menoentoet kemadjoean.” Kaum Tionghoa, seperti kaum Indo, lebih pandai dari kaum Pribumi dalam mengelola penerbitan dan mencari iklan. Surat kabar Warta Hindia milik pengusaha Tionghoa yang terdiri dari delapan halaman bahkan hanya memuat dua halaman yang berisi artikel dan berita, enam sisanya merupakan iklan.

Kaum Pribumi baru terjun dalam dunia pers pada abad ke-20, melalui Haji Mohd. Salleh dan Haji Mohd. Amin yang mendirikan Alam Minangkerbau pada 1904. Surat kabar Pribumi biasanya merupakan upaya menyuarakan kepentingan kelompok atau organisasi yang menaungi penerbitan surat kabar tersebut. Misalnya, majalah Bintang Timoer danAboean Goeroe-Goeroe yang isinya berkaitan dengan aktivitas guru, Soenting Melayu danSoeara Perempuan yang berbasiskan gender perempuan, Al-Ittqan atau Al-Moenir yang berbasiskan Islam, serta Djambret, Soeara Momok, atau Djago-Djago yang berbasiskan ideologi komunisme.

Yang menarik dari surat kabar Pribumi adalah maraknya surat kabar berbasis pada nagari(kampung halaman). Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi merantau, yakni pergi dari kampung halaman untuk mencari penghidupan atau pengalaman. Surat kabar-surat kabar ini hadir untuk menghubungkan orang rantau dengan nagari. Soeara Koto Gadang,misalnya, selalu punya kolom bertajuk “Chabar Betawi” yang memuat berita yang berkaitan dengan keadaan orang-orang rantau.

Selain memuat kabar dari rantau, surat kabar-surat kabar berbasis nagari ini juga menjadi ruang mendiskusikan adat. Misalnya, sepanjang tahun 1923-1926, terjadi perdebatan di surat kabar Soeara Koto Gadang tentang adat perkawinan yang berlaku di nagari tersebut.  Perkaranya Daina, seorang perempuan Koto Gadang dijatuhi buang tingkarang, yakni dibuang keluar dari adat dan kaumnya, karena menikah dengan seorang Jawa bernama Pomo. Perdebatan soal ini, menurut Sastri, selaras dengan perdebatan yang lebih umum yakni tentang kemajuan dan kebebasan yang diinginkan oleh kalangan muda berhadapan dengan tradisi kalangan tua Minangkabau (Hal. 183)

Sastri mendeskripsikan pers Minangkabau yang tumbuh dalam suasana yang relatif kondusif. Setiap media memiliki basis komunitas dan ideologi yang jelas. Tidak ada surat kabar yang lebih dominan dalam hal ekonomi maupun politik. Wacana yang mengemuka beragam. Perdebatannya pun relatif substansial dan berkualitas. Karena tidak adanya media yang dominan, terdapat mekanisme saling kontrol antarmedia. Dalam perdebatan soal kasus Daina, misalnya, Soeara Koto Gadang sempat tidak memuat tanggapan dari orang-orang yang mendukung Daina. Orang-orang ini kemudian pindah menulis di surat kabar Neratja. Kebijakan redaksi Soeara Koto Gadang pun menuai protes, dan dipublikasikan oleh Soenting Melajoe:

“[...] Engkoe B Salim ... mendjawab toelisan engkoe A.S.M. ... dalam “Neratja” disebabkan karena redaktie “Soeara Koto Gadang” tiada soedi memasoekannja kedalam soerat kabarnja! Apa sebabnja? Adakah adil pekerdjaan jang sedemikian?”

(Soenting Melajoe, No. 39, 5 November 1920: Sastri hal. 69).

Setelah protes ini, tulisan pendukung Daina pun kembali dimuat oleh Soeara Koto Gadang.

 Orientasi Lisan Masyarakat Minang

Keberaksaraan cetak dalam masyarakat Nusantara pada umumnya ditandai dengan masuknya mesin cetak. Dalam kasus masyarakat Minangkabau, ini dimulai pada 1827 (hal. 92). Namun, masyarakat Minangkabau telah mengenal aksara jauh sebelum itu. Tradisi baca-tulis Al-Quran yang dibawa Islam dan berkembang di surau memunculkan hibrida aksara Arab yang dipakai sebagai transliterasi bahasa Melayu. Sebelumnya pun berkembang aksara “Sumatera kuno”, meski masih sangat terbatas di kalangan elit kerajaan dan pendeta agama.

Keberaksaraan ini, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 masih terbatas dalam kalangan tertentu dalam masyarakat Minangkabau. Hanya orang terpelajar yang bisa membaca. Namun, hasil cetak bisa menyentuh lapisan masyarakat yang buta aksara. Orang-orang terdidik akan membaca surat kabar di lapau untuk kemudian didiskusikan bersama,melanjutkan tradisi bercerita (tradisi maota) yang sebelumnya berkembang di masyarakat Minangkabau (hal. 100).

Selain pola konsumsi naskah yang masih berorientasi lisan ini, gaya penulisan surat kabar-surat kabar pada masa itu pun memiliki orientasi lisan yang kental. Penulis-penulis pada masa itu kerap berseru, “dengarlah”, menandakan bahwa penulis masih mengandaikan khalayak yang mendengar, bukan membaca. Polemik yang muncul kala itu pun sering ditulis dalam bentuk pantun, serta memakai alue jo patuik (tradisi berbasa-basi dengan menyapa ninik mamak).

Dalam bentuk yang lebih subtil, Sastri memberikan analisis yang merenik orientasi lisan yang mengemuka dalam surat kabar awal Minangkabau. Misalnya, tentang teks berorientasi lisan Minangkabau yang menyajikan ide tulisan dalam bentuk parataksis (bentuk sejajar), yakni kalimat yang lebih banyak menggunakan penambahan (additive) daripada penyambungan (subordinative). Misalnya, teks-teks tersebut terbaca, “... paduka engku ninik mamak penghulu besar bertuah—nan menjadi jiwa nagari—nan berlaut lapang—beralam lebar—berkata benar ...” (hal. 109-113). Tumpukan penambahan dengan ciri diawali oleh kata “nan” tersebut membentuk cara berpikir tradisi lisan yang bertumpuk (agregative), dalam kontrasnya dengan cara berpikir tradisi aksara yang analitis (analytic).

Kecenderungan tradisi lisan dalam berpikir secara bertumpuk ini, oleh Sastri, diidentifikasi sebagai ketidakmampuan dalam melakukan abstraksi (hal. 30). Ketidakmampuan ini disebabkan oleh tidak berjaraknya pikiran dari realitas. Tentu, masyarakat dalam tradisi lisan mengenal “semacam konsep”. Konsep “keadilan”, misalnya. Namun, hal tersebut tidak mengemuka sebagai konsep melainkan sebagai tumpukan narasi-narasi tentang praktik raja yang adil, bukan keadilan per se. Setelah mengenal aksara, masyarakat tradisi lisan mulai bisa menjarakkan diri dari pikirannya dalam bentuk tulisan dan mengenali konsep-konsep. Analisis tentang konsep-konsep dalam logika silogisme pun jadi mungkin.

Hal ini berarti berubahnya moda berpikir. Dalam tradisi lisan, narasi menjadi hal yang primer; gagasan disampaikan lewat pengalaman hidup, perilaku, dan gerak-gerik manusia. Sementara dalam tradisi aksara, silogisme-abstraksi menjadi moda utama dalam berpikir. Perubahan bukan berarti tradisi aksara menggantikan tradisi lisan secara sepenuhnya, melainkan dengan bercampur dan meluasnya tradisi aksara di tengah masyarakat.

Peralihan ini, sebagaimana proses “modernisasi” tanah kolonial pada umumnya, pada dasarnya adalah bentuk pengaturan dan penundukan penduduk kolonial. Masyarakat Minangkabau mulai marak mempelajari aksara Latin setelah pemerintah kolonial, yang bekerjasama dengan pemuka adat, membuka sekolah nagari pada tahun 1840-an (hal. 59). Sekolah ini dibuka, utamanya, untuk menyediakan pegawai di perkebunan kolonial yang menuntut kemampuan baca-tulis (hal. 101). Dalam perkembangannya, pemerintah kolonial mulai melihat potensi sekolah nagari dalam menyebarkan aksara Latin.

Seperti dijelaskan di muka, masyarakat Minangkabau sebelum abad ke-20 tidak mengenal aksara selain aksara Arab Melayu. Maraknya penerbitan kalangan Islam yang dicetak dalam aksara ini mengakibatkan sulitnya pengawasan pemerintah kolonial (hal. 102). Masalah aksara rupanya juga menyentuh sentimen kaum adat terhadap kaum Paderi—pengguna utama aksara Arab Melayu. Sentimen ini dipicu oleh konflik antara kaum adat dan kaum Paderi dalam perang Paderi pada abad  ke-18 yang terkenal itu (hal. 104). Pada penghujung perang, pemerintah kolonial datang membantu kaum adat sehingga mampu mengalahkan kaum Paderi. Dukungan kaum adat terhadap aksara Latin adalah penegasan persekutuan mereka dengan pemerintah kolonial dalam menentang musuh bebuyutan.

Kalangan Tionghoa dan kalangan muda yang berada di luar tradisi Islam pun lebih memilih menggunakan aksara Latin karena melambangkan “kemajuan” dan “modernitas”. Menguasai aksara Latin juga berarti bisa mendapat pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan (guru dan pegawai di perkebunan kopi), serta punya gengsi yang lebih tinggi (hal. 104).

Faktor lain yang punya andil besar dalam kematian aksara Arab Melayu adalah teknologi; kemunculan mesin cetak yang memang diproduksi dengan aksara latin menggeser teknologi teknik cetak batu (litografi) yang umumnya dipakai dalam mencetak syair dalam aksara Arab Melayu (hal. 105). Penguasaan teknologi inilah yang akhirnya memungkinkan aksara Latin dipakai secara luas di tanah Minang.

Catatan

Meski memiliki korpus yang luas—167 koran dan majalah yang terbit dari 1859 hingga 1940-an—pembahasan Sastri hanya berfokus dalam era 1910 hingga awal 1930-an. Pembahasannya pun terbatas pada terbitan yang ia kategorikan sebagai terbitan berbasis Islam, adat, kampung halaman, serta gender. Sementara terbitan dalam kategori lain—organisasi profesi, ideologi politik (yang disebutkan oleh Sastri dalam kategori ini sebenarnya hanyalah terbitan-terbitan komunis), serta hiburan dan seni sastra—tidak mendapat pembahasan yang cukup.

Implikasinya, wacana yang mengemuka pun terbatas hanya dalam komunitas-komunitas tersebut. Bahkan, pembicaraan tentang komunitas tersebut pun jadi setengah-setengah. Dalam pembahasan Sastri, kelompok Islam modernis digambarkan sebagai kelompok yang tunggal, yang seragam. Penggambaran ini reduktif. Perguruan Sumatera Thawalib, sekolah Islam yang memodernkan surau dengan mengadopsi sistem berjenjang Barat, adalah jantung dari pemikiran Islam modernis di masyarakat Minang. Pembahasan Sastri mengenai sekolah ini berkisar pada tokoh pendirinya: Haji Rasul. Namun, ia hanya mewakili satu bagian dalam Sumatera Thawalib.

Selain Haji Rasul, terdapat pula fraksi merah dalam Sumatera Thawalib. Fraksi ini dipimpin oleh Datuk Batuah, salah satu murid Haji Rasul, yang mendirikan sekaligus mengetuai PKI seksi Padang Panjang pada tahun 1923.[1] Dt. Batuah pun mengelola dua terbitan yang cukup luas persebarannya di tanah Minang: Djago! Djago! dan Pemandangan Islam. Dalam K&K, Sastri hanya memperlihatkan dua gerakan Islam yang saling beroposisi—yakni Islam tradisional dan Islam modernis. Persinggungan antara Islam dengan Marxisme dalam fraksi merah Sumatera Thawalib ini sama sekali tak disebut oleh Sastri.

Tentu mustahil membahas semua hal dalam satu buku. Pembatasan masalah mesti dilakukan, dan persis di situlah kelemahan K&K. Sastri menunjukkan batasan rentang penelitian yang tidak ia penuhi—ia hanya membahas secuil dari khazanah pengetahuan yang seharusnya ia bahas. Akan lebih baik apabila Sastri dengan jujur mengatakan bahwa pembahasannya terbatas dalam kategori terbitan yang memang ia kupas, dan mencakup rentang waktu yang lebih pendek daripada yang ia daku.

Memang, kajian kelisanan dan keberaksaraan menitikberatkan pada bagaimana masyarakat berpikir dan mengingat, bukan tentang apa yang dipikir dan diingat. Dengan demikian, Sastri tidak perlu mensurvei semua pikiran dan ingatan. Namun, pendekatan noetika yang ia pakai adalah pendekatan untuk menelisik totalitas sistem wacana masyarakat dalam mengelola pengetahuan. Yang ia lakukan semestinya adalah ekskavasi pikiran dan ingatan dalam sejarah. Dengan mengabaikan satu bagian wacana dalam masyarakat, ia justru memotong dan mengaburkan pikiran dan ingatan itu sendiri. []


*Ralat: Sebelumnya penulis keliru menyebut "Aksara Arab Melayu" dengan istilah "Kawi". Aksara Kawi adalah aksara Sumatera kuno, aksara yang berbeda dari yang sebenarnya dirujuk. Sastri Sumarti sendiri menggunakan istilah "Aksara Arab Melayu".

Bacaan Terkait
Yovantra Arief

Peneliti Remotivi. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar memasak dan merawat tiga ekor marmut.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna