Berbagai tanggapan datang atas Surat Terbuka Remotivi berjudul “Menolak Tayangan Kekerasan pada Hewan”. Melihat pendapat yang ada, mengharuskan kami membuat tanggapan resmi seperti ini karena Surat Terbuka tersebut disalahartikan oleh beberapa pihak. Maka itu, tanggapan ini ingin meluruskan isu yang sebenarnya supaya diskusi yang ada sifatnya bisa membangun dan tidak keluar dari persoalan sebenarnya. Agar kita bisa masuk ke substansi, bukan di luarnya, apalagi komentar-komentar tak sehat yang menyerang wilayah pribadi seseorang.

Surat Terbuka Remotivi ditujukan secara resmi kepada berbagai institusi. Jadi, yang kami tunggu pertama-tama adalah tanggapan resmi dari berbagai institusi tersebut—khususnya Komisi Penyiaran Indonesia, yang belum ada tanggapan sampai tulisan ini diterbitkan. Pun, Surat Terbuka kami bukanlah pandangangan pribadi salah satu pegiat, melainkan pandangan yang mewakili sikap organisasi kami.

Kami tak menyoal aktivitas yang melibatkan hewan di luar televisi. Aktvitas memancing, berburu, penyembelihan hewan kurban, dan lainnya yang dilakukan beberapa kalangan masyarakat berada di luar wilayah kerja kami, sehingga bukan itulah yang kami sasar. Adalah tidak benar ketika ada tuduhan bahwa Remotivi melarang hal-hal tersebut.

Tapi kami menyoal aktvitas yang melibatkan hewan di dalam televisi. Sebagai lembaga pemantau tayangan televisi, Remotivi berkutat pada wilayah hak publik yang mesti dilindungi dari suatu materi siaran televisi. Televisi teresterial yang meminjam frekuensi milik publik untuk bersiaran mesti memperhatikan hak-hak publik atas kebutuhan tayangan yang sehat, yang tidak mempertontonkan kekerasan dan sadisme, baik secara simbolik maupun verbal. Kami ingin tayangan yang melibatkan hewan ada dalam kerangka pendidikan, buka semata-mata mempermainkan nyawa hewan demi hiburan.

Kami sadari sepenuhnya memang, sadisme yang kami maksud mungkin saja merupakan hal yang lumrah bagi beberapa komunitas. Namun perlu dipahami bersama, bahwa ketika itu diangkat di televisi sebagai ruang publik, di mana penontonnya terdiri dari keberbagaian, maka perlu ada hak publik lain yang harus dihormati. Contohnya adalah publik pencinta hewan dan anak-anak. Singkatnya, hak seseorang harus selalu dibatasi dengan hak orang lain. Hak seseorang bebas dijalankan selama itu tidak merampas hak orang lain.

Kami tak menolak tayangan hewan. Yang kami tolak adalah tayangan yang adegannya memperlihatkan kekerasan pada hewan. Pun, kami tak mempersoalkan apakah hewan tersebut adalah hama atau bukan, tayangan tersebut membantu warga sekitar atau tidak. Yang kami soal adalah ketika adegan yang ada memperlihatkan bentuk kekerasan—sekali lagi: secara simbolik maupun verbal—terhadap hewan, yang kami nilai hal tersebut menyumbang suatu nilai lain bagi keadaban masyarakat.

Semoga tanggapan singkat ini bisa membantu khalayak dalam memahami inti persoalan yang hendak kami angkat. Dan karenanya, diskusi yang sehat dan saling berbagi pandanganlah yang perlu dikedepankan. Agar ruang publik sepenuhnya menjadi milik masyarakat, bukan melulu milik pihak-pihak di luarnya yang selama ini mendominasi secara total. []