Kepada Yth.
Komisi Penyiaran Indonesia
Di Jakarta

Dengan hormat,

Menonton Reportase Investigasi edisi “Petaka Saat Mudik” yang ditayangkan oleh Trans TV pada 12 Agustus 2012 pukul 14.45 WIB, kami menyayangkan adanya pengabaian dalam hal: (1) penyajian informasi mengenai narkotika dan (2) perlindungan penonton anak dan remaja. Tayangan yang mencoba menguak modus kriminal di saat mudik dengan menggunakan obat bius ini ceroboh dalam memuat informasi mengenai jenis dan penggunaan suatu merk obat yang tergolong obat-obatan terlarang daftar G. Berdasarkan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran & Standart Program Siaran) yang dikeluarkan oleh KPI dan Undang-Undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, maka kami ingin menyampaikan beberapa hal berikut:

  1. Kecerobohan penyajian informasi mengenai NAPZA (Narkotika, Psikotropika & Zat Adiktif)

Sudah semestinya televisi ikut mengedukasi masyarakat agar terhindar dari penyalahgunaan NAPZA. Tapi apa yang ditayangkan oleh Reportase Investigasi ini justru berpotensi mendorong masyarakat menyalahgunakan NAPZA. Pasalnya, tayangan ini mendeskripsikan secara detail merk obat tersebut (yang bisa didapatkan di apotek), ditambah penggambaran bagaimana cara meraciknya agar bisa digunakan untuk membius orang.

Mengacu pada P3SPS, tayangan ini melanggar P3 Pasal 18 yang berbunyi: “Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program terkait muatan rokok, NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), dan/atau minuman beralkohol”. Dan juga SPS Pasal 26 ayat 2 yang berbunyi: “Program siaran dilarang menampilkan cara pembuatan dan/atau penggunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) secara detail”.

  2. Abai perlindungan terhadap hak anak dan remaja

Tayangan yang disiarkan pada siang hari ini secara jelas memuat informasi sebuah merk obat yang biasa digunakan para pelajar untuk mabuk. Sebagai ilustrasi dan dramatisasi, tayangan ini juga menggunakan model remaja yang sedang mengonsumsi obat tersebut sambil mengenakan seragam sekolah. Kami menilai hal ini berpotensi mendorong anak-anak dan remaja untuk menyalahgunakan obat yang dimaksud.

Tayangan ini menurut P3SPS telah melanggar P3 Pasal 14 mengenai perlindungan terhadap anak. Pada ayat 1 tertulis: “Lembaga penyiaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada anak dengan menyiarkan program siaran pada waktu yang tepat sesuai dengan penggolongan program siaran”. Lalu pada ayat 2 juga disebutkan bahwa “lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak dalam setiap aspek produksi siaran”.

Selain itu, dengan ditayangkan pada pukul 14.45 WIB, lembaga penyiaran harus memperhatikan aspek perlindungan anak dalam menyiarkan tayangan, seperti yang termuat dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002 pasal 3 yang  berbunyi: “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera”.

Dengan penyajian sedemikian, artinya tayangan ini abai terhadap hak anak dalam mendapatkan situasi kondusif untuk tumbuh secara sehat dan wajar, baik jasmani dan rohani. Tentu, dengan adanya penyorotan merk obat, cara meracik, hingga ilustrasi cara mengonsumsinya di kalangan pelajar, ini merupakan bentuk kekerasan simbolik terhadap anak dan remaja.

Mengingat televisi sebagai bagian dari masyarakat, mestinyamemiliki kesadaran memainkan peran penting dalam aspek perlindungan anak sebagaimana yang dimuat dalam UU Perlindungan Anak pasal 72 ayat 1 dan 2: (1) Masyarakat berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam perlindungan anak, (2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, badan usaha, dan media massa.

Sehubungan dengan hal ini, kami minta dengan hormat agar:

  • Penayangan mengenai NAPZA di televisi harus diproyeksikan untuk kepentingan pendidikan

Pihak Trans TV harusnya lebih berhati-hati dalam membuat tayangan yang memuat materi mengenai NAPZA. Kalau pun dimaksudkan sebagai materi pendidikan, harusnya informasi secara detil mengenai merk obat, cara penggunaan, dan pembuatannya, tidak dilakukan.

  • Peka terhadap penonton anak-anak dan remaja

Pihak stasiun televisi perlu menyadari dengan penayangan pada siang hari, tentu akan ada potensi anak-anak sebagai khalayak penonton. Karenanya, tayangan yang dibuat harusnya bisa lebih memberikan perlindungan anak dan remaja terhadap hal-hal negatif.

  • Catatan untuk KPI

KPI diperlukan kesegeraannya agar dapat melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran ini. Dan agar kelak tidak terjadi kejadian yang serupa, pemahaman atas isu ini perlu didiskusikan di kalangan tim pemantau internal KPI, stasiun televisi, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, misalnya Badan Narkotika Nasional.

Demikian Surat Terbuka ini kami sampaikan. Kami berharap agar pihak-pihak yang kami maksud dalam surat ini dapat segera menanggapi dengan bijak.

Terima kasih.

Jakarta, 7 September 2012

Jefri Gabriel

Divisi Advokasi Remotivi

081808410655 | jefrigabriel@remotivi.or.id

Tembusan:

  1. Trans TV
  2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia
  3. Komnas Perlindungan Anak
  4. Badan Narkotika Nasional