Suatu hari di Purwakarta:

“Wah, Mbak dari Jakarta ya? Mana kuat jalan jauh panaspanas begini, kotor pula, kan Mbak pasti sudah kebiasaan ke mana-mana naik mobil ya? Ngapain Mbak ke sini? Kan lebih enak di Jakarta? Di sini mah nggak enak, Mbak, kalau dibandingkan dengan Jakarta.” 

Demikian cuplikan obrolan saya dengan Pak Sugeng, seorang petani. Jujur, saya kaget mendengar pernyataan itu. Saya memang dari Jakarta, tapi bukan termasuk pengguna mobil. Saat itu saya heran, kenapa orang Jakarta melulu identik dengan "bermobil dan hidup enak", sehingga saya dianggap tidak sanggup berjalan jauh? 

Sampai suatu saat saya menyaksikan "Jika Aku Menjadi" ("JAM") di Trans TV. Tayangan ini, di setiap episodenya menampilkan seorang gadis kota yang menginap beberapa hari di rumah salah satu warga desa. Ia diminta mengikuti keseharian warga tersebut, yang berbeda jauh dari kebiasaan si gadis di tempat tinggalnya. Sekilas tayangan ini nampak baik, menggugah rasa kemanusiaan, juga belajar memahami hidup orang lain. Namun secara tersirat saya menemukan beberapa persoalan yang mengganjal.

Penunggalan Makna Warga Perkotaan 

Para bintang tamu tayangan "JAM" kerap kita jumpai berceloteh demikian:

“Capek banget ya kerja kayak gini. Panas banget pula,”

“Aku biasanya di rumah enak banget, apa-apa dilayanin,”

“Ibu penghasilannya cuma segini? Ya ampun kasihan banget.” 

 

 

 

Oh! Saya mulai mendapat gambaran kenapa Pak Sugeng punya persepsi bahwa orang kota seperti saya ini terbiasa hidup enak. Ternyata di layar kaca--seperti dalam tayangan ini--orang kota ditampilkan serba kontras dibandingkan orang yang tinggal di desa, mulai dari pakaian, gaya hidup, hingga perilaku.

Ya, mungkin ini kesimpulan yang terlalu dini untuk menuduh bahwa perspektif Pak Sugeng adalah hasil pengaruh tayangan "JAM". Tapi yang ingin saya katakan adalah, lewat representasi tiap talent yang dipakai, "JAM" seperti ingin memberikan kesimpulan tentang gambaran umum karakter warga perkotaan. Warga pedesaan dicekoki pernyataan yang mengadegankan ketidakharmonisan warga kota dengan situasi pedesaan. Dan lewat talent yang hadir tanpa variasi karakter tiap edisinya, narasi "JAM" adalah sebuah usaha penunggalan makna atas warga perkotaan. Seolah warga kota hanya itu dan memang begitu. 

Mungkin inilah yang membuat "JAM" laku bak opera sabun yang buihnya bikin perih: banyak tangisan yang dapat diperas, kemudian didapatlah simpati terhadap si tuan rumah. Penonton diajak berharu biru menyaksikan “kerasnya” kehidupan si tuan rumah. "JAM" mencoba mengolok keteguhan sikap warga desa dalam situasi serba terbatas sebagai sesuatu yang eksotis.

Namun, tampaknya tayangan ini terlalu menyederhanakan persoalan. Mereka yang hidup di pedesaan hidupnya hanya diukur dari faktor ekonomi semata. Apakah definisi miskin yang tunggal dan seragam bisa dipakai untuk semua orang dengan berbagai macam latar belakang? Sialnya, pengukuran ekonomi seperti itu juga dipakai untuk mengukur kebahagiaan seseorang. Sehingga muncul anggapan, mereka yang terkategori miskin melalui definisi tadi pastilah hidupnya tidak bahagia, tidak beruntung, kasihan. 

Apakah iya, ukuran keberuntungan bisa diukur dari faktor ekonomi semata? Apakah benar dalam “kemiskinan” sulit menemui kebahagiaan? Apakah masyarakat kaya yang tinggal di perkotaan dengan tingkat polusi yang tinggi lebih beruntung dari masyarakat pedesaan yang tinggal di pinggir sawah dengan udara yang bersih dan suasana yang tenang? 

Generalisasi definisi miskin dan pengukuran kualitas hidup melalui faktor ekonomi semata, hanya menggiring penonton pada cara berpikir yang hitam putih. Secara dangkal, "JAM" kerap mengkontruksikan pemaknaan tak semena atas ketidakberuntungan masyarakat yang tinggal di desa. Si tuan rumah, dan penonton yang “senasib” dengan tuan rumah pun, pada akhirnya menerima persepsi demikian: “Oh ternyata saya ini orang miskin, saya kasihan, tidak bahagia, hidup saya susah”. Yang, mungkin, sebelum ada "JAM", mereka tidak tahu bahwa mereka termasuk orang yang patut dilabeli miskin.

Tayangan Untuk Siapa? 

Betul, "JAM" mungkin bertujuan untuk menggugah simpati penonton terhadap masyarakat ekonomi rendah. Tapi tunggu dulu. Siapa yang bakal ikut bersimpati? Siapa yang bakal ikut terharu biru menyaksikan kehidupan si tuan rumah? 

Televisi adalah media dengan persebaran penonton yang sangat luas dan beragam, dari muda hingga tua, dari kelas atas hingga bawah, dari desa hingga kota. Lantas, penonton mana yang akan ikut bersimpati dengan adanya tayangan ini? Penonton mana yang akan tergugah rasa kemanusiaannya? Apakah Pak Sugeng, petani di Purwakarta itu, akan ikut iba menyaksikan si tuan rumah, sementara hidupnya tak jauh berbeda? 

Sebagian besar penduduk Indonesia hidup dengan standar ekonomi yang rendah. Dari tayangan macam "JAM"-kah, mereka bisa berharap untuk mendapatkan sesuatu? Alih-alih bermanfaat, tayangan ini malah semakin mendikotomikan mereka sebagai warga yang liyan (others). 

Buat saya, "JAM" adalah tayangan konsumsi kelas menengah perkotaan yang membutuhkan sensasi pengalaman mengasihani mereka yang dianggap tidak beruntung. "JAM" adalah tontonan untuk mereka yang hidupnya bisa terhibur dengan cukup berlaku iba barang puluhan menit, tiap harinya, di depan televisi. 

Lantas bagaimana dengan penonton yang membutuhkan tayangan inspiratif sambil tanpa kehilangan kesempatan untuk bersyukur dan ingat kepada sesamanya dengan cara yang lebih cerdas dan mendalam? Bagaimana dengan penonton yang tidak tinggal di kota yang membutuhkan refleksi mengenai diri mereka dengan lebih utuh, adil, dan kontributif terhadap karakter mereka? Bukankah mereka semua masing-masing punya hak yang sama untuk mendapatkan tayangan yang berguna untuk kehidupannya? 

Atau apakah "JAM" hanyalah tontonan untuk kalangan minoritas, minoritas yang berduit, minoritas yang tinggal di perkotaan?

Ketika tiba di penghujung tayangan, adegan tangis-menangis kembali meledak. Namun kali ini bukan dari si gadis, melainkan dari si tuan rumah. Ada apa? Rupanya sebelum berpamitan, sang gadis menghadiahi banyak sekali barang untuk si tuan rumah, seperti televisi, sembako, kadang-kadang emas, dan harta benda lainnya.

Okelah. Tayangan ini mungkin menggugah rasa kemanusiaan sebagian penonton. Betul juga kalau kita seharusnya saling tolong menolong, memberi kepada yang membutuhkan. Namun rasanya "JAM" tidak berada dalam semangat berempati yang tanpa artisial. Tayangan ini tidak akan dibuat kalau tidak memberi keuntungan banyak bagi stasiun televisinya. Tayangan ini tidak semulia itu, kawan. Ada untung di balik tangisan. []