"Untuuung aja ada kamera CCTV...!"
(Petikan ucapan narator tayangan CCTV, Trans 7, 11 Mei 2013)

Seorang model ditempatkan di sebuah kampung, tinggal bersama keluarga seorang pengolah tanaman bibit minyak wangi; seorang penjual gorengan diminta untuk melakukan berbagai pranks (menjahili) kepada orang yang ia temui di jalan dengan iming-iming lima juta rupiah; sekumpulan footage kejahatan yang terekam dalam kamera pengintai; seorangexpatriate asal Inggris melamar pacarnya dengan balon…

Semua itu dianggap sebagai tayangan-kenyataan menurut TV kita. Tapi, apakah kita percaya bahwa semua itu betul-betul terjadi tanpa rekayasa? Betul-betul "kenyataan"?

Kita dan Kamera

Abad 20 memberi kita budaya kamera. Awal abad 21, budaya kamera semakin meraja, karena perkembangan teknologi kamera digital. Relasi antara manusia dan kamera menjadi semakin intensif. Kamera seolah yang mahakuasa dan berada di mana-mana.

Seakan kini, tak ada satu pun sudut hidup manusia yang tak bisa ditangkap kamera. Semua peristiwa, semua lakon dan polah kita bisa jadi adegan. Semua bisa direkam, untuk kemudian ditayangkan kepada khalayak luas. Menyadari kamera adalah menyadari bahwa kita bisa ditonton, atau bisa menonton.

Dengan demikian, suasana tonton-menonton menjadi semacam konsekuensi logis hidup modern—setidaknya, terkesan demikian. Kita lebih mudah menerima kehadiran kamera, walau sebetulnya kamera tak pernah mudah kita terima begitu saja sebagai bagian dari keseharian kita. Kamera seakan telah diterima sebagai takdir manusia kiwari.

Dalam suasana demikian, jenis tayangan "reality show" nyaris seperti konsekuensi logis. Kita menerima bahwa "realitas" bisa jadi tontonan, dan bisa ditundukkan dalam logika tontonan, sepanjang kamera bisa dihadirkan. Lepas dari logika bawaan sebagai tontonan—yang mengandung pakem-pakem pemanggungan (seperti: dramatisasi, atau kaidah-kaidah hiburan lainnya)—reality show pun hadir sebagai hiburan baru dunia televisi.

Anak Kandung Budaya TV

Sebetulnya, menarik bahwa istilah "reality show" hanya merujuk pada medium televisi. Dan memang, pada mulanya, istilah tersebut hanya ungkapan lain dari istilah "realitytelevision". Apakah medium seperti radio, misalnya, tidak bisa disebut memiliki siaranreality show?

Jika kita merujuk pada Wikipedia saja, reality television bermakna "salah satu genre acara televisi" yang berciri: menampilkan berbagai situasi yang tidak menggunakan skenario, merekam peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi, dan lazimnya tidak menggunakan aktor profesional.

Reality television atau reality show dibedakan dari tayangan berita atau dokumenter TV. Kata "show" memang jadi kunci. Walau tidak menggunakan naskah skenario, misalnya, tapireality show menciptakan situasi-situasi yang memancing konflik. Kalau perlu, para pelaku yang polahnya direkam, memang didorong dalam situasi ekstrem yang menimbulkan tingkah-tingkah berlebihan jika dibandingkan dengan polah mereka (atau kita) sehari-hari.

Tayangan semacam ini pertama kali menarik perhatian penonton di Amerika, dan kemudian dunia, pada pertengahan 1990-an. Tayangan semacam Real World (MTV) dan The Changing Rooms, menarik perhatian penonton, khususnya kaum muda. Tayangan-tayangan tersebut menampakkan bahwa drama "nyata" (dalam arti, "bukan fiksi" secara luas) ternyata bisa sama menariknya dengan tontonan opera sabun yang populer.

Pada tayangan-tayangan itulah, "kenyataan" dikomodifikasi sadar. Artinya, "kenyataan" dianggap punya nilai drama lebih tinggi daripada fiksi. Kenapa? Mungkin saat itu penonton secara umum sudah jemu dengan pakem-pakem fiksi yang terasa sudah mencapai titik nadir; sudah habis dijelajah oleh industri hiburan Amerika.

Saya menduga, ada sebab lain juga: ilusi kenyataan yang ditawarkan medium audio-visual merayu para penonton melebihi pesona tontonan fiksi. Ilusi kenyataan, "kejadian sesungguhnya" yang muncul dalam layar kaca, membuat kita merasa seperti seseorang yang sedang mengintip nasib buruk (atau nasib baik) yang dialami orang lain, yang bisa terjadi pada kita juga.

Jadi, saat di layar kaca terpampang drama atau konflik, Sang Penonton dapat merasa bahwa kejadian buruk itu bisa menimpanya juga, tapi, dalam kasus kebanyakan, mereka tidak mengalami kemalangan itu. Sementara itu, jika di layar kaca terpampang keberuntungan seseorang, Sang Penonton yang sama bisa merasa, mengharap: ah, itu bisa menimpanya juga.

Dan kemudian, tayangan-tayangan reality show itu pun berkembang jenisnya. Salah satu yang paling penting adalah sub-genre reality show yang berbasis kompetisi. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, tayangan seperti Survivor dan Big Brother mencapai ratingtinggi. Di Indonesia pun, muncul judul-judul laris semacam itu, seperti Penghuni Terakhir(ANTV). Dalam sub-genre ini, ada elemen tambahan, yakni eliminasi atau penyingkiran peserta kompetisi.

Tentu saja, yang paling fenomenal adalah American Idol. Tapi, tayangan jenis tersebut (kompetisi bakat) masih diperdebatkan, apakah termasuk dalam kategori reality show atau tidak. Dalam pembagian mata tayangan di stasiun-stasiun TV swasta Indonesia, tayangan kompetisi semacam itu (taruhlah X Factor, misalnya) tak dimasukkan dalam kategorireality show.

Ilusi Kenyataan Sebagai Show

Tapi, mari kita kembali ke dasar dulu: apa tepatnya yang menyebabkan sebuah reality showmengandung ilusi kenyataan yang kuat? (Dan kenapa saya bersikukuh menggunakan kata "ilusi"?).

Dalam penyajian berita, sudah lama disadari bahwa kamera merekam gambar dalam batasan bingkai (frame). Kejadian nyata yang terekam oleh kamera hanyalah yang masuk ke dalam bingkai gambar, dan akan tersaji dalam batasan bingkai yang sama. Realitas yang ditangkap kamera menjadi realitas kedua. Apalagi setelah direkam, realitas itu akan disusun lagi melalui proses penyuntingan.

Tapi, jika kita perhatikan lebih jauh, ilusi kenyataan dalam reality show merengkuh pakem turunan dari asas realitas kedua tadi. Ketika tayangan-tayangan non-fiksi seperti berita dan dokumenter telah punya pakem nyaris ajeg dalam membedakan diri dari tayangan fiksi, unsur-unsur pembeda itu lantas jadi elemen visual penambah tanda "kenyataan" dalam sebuah tayangan reality show.

Gampangnya begini: setelah tayangan-tayangan berita dan dokumenter memapan dalam slot program televisi, kita pun mulai terbiasa membedakan penampakan sebuah tayangan fiksi dan non-fiksi. Kamera sebuah tayangan non-fiksi lazimnya minim manipulasi sinematografi: tata cahaya dan penataan setting seadanya, make up secukupnya (kalau perlu, tanpa tata rias), dan pengambilan gambar luar-ruangan yang seringkali tak rapi.

Dalam beberapa tayangan reality show, pengambilan gambar dengan kamera tersembunyi malah jadi semacam kredit tersendiri: bahwa tayangan itu punya nilai kenyataan yang tinggi, karena harus diambil kamera secara sembunyi-sembunyi. Tentu kita bisa segera paham bagaimana gambar dari kamera tersembunyi tampak di layar kaca: sudut pengambilan gambar yang ganjil, wagu, dan terasa bergerak cemas selayaknya mata pengintip dari tempat persembunyian.

Bukan hanya penataan minim, lama-lama mutu gambar yang seadanya, mentah, dengan gambar bergoyang-goyang karena kamera goyah mengikuti gerak perekam gambar, malah jadi trademark bagi muatan "kenyataan" di layar kaca. Misalnya, gambar-gambar dari CCTV (kamera pengintai) yang bermutu rendah, justru jadi punya merk "otentik" sebagai perekam kenyataan.

Pendekatan kamera ala kadarnya dengan kamera pengintip ini sebetulnya berakar pada jenis tayangan TV yang boleh dibilang cikal reality show, yakni tayangan Candid Camerayang telah dikembangkan sejak 1940-an. Dalam model tayangan ini, kamera sengaja disembunyikan untuk menangkap secara diam-diam reaksi orang-orang yang sudah diincar dalam menghadapi lelucon jahil yang sengaja ditujukan kepada mereka.

Yang Jahil, Yang Menghiba, Yang Gaib

Dengan jurus-jurus demikianlah TV kita menyajikan reality show ala Indonesia. Sebagian membangun merek "kenyataan" dengan jurus kamera-goyah-mutu-ala-kadarnya. Sebagian justru sebaliknya, mengandalkan otentisitas subjek, tapi menggunakan stilisasi (penggayaan atau rekayasa ulang) audio-visual agar lebih dramatis.

Dalam kategorisasi tayangan televisi kita, reality show dikuasai oleh Trans TV dan Trans 7. Soalnya, sub-genre reality show yang berbasis kompetisi rupanya tidak dikategorikan sebagai reality show. Tayangan reality show yang dimiliki kelompok Trans ini antara lain:CCTVUps SalahMarry MeCari CintaOrang PinggiranJika Aku Menjadi…(Masih) Dunia LainDua Dunia5 Juta 5 Menit, dan Iseng Banget.

Dalam tayangan-tayangan yang bersifat menjahili, seperti Iseng Banget dan 5 Juta 5 Menit, kamera menggunakan jurus kamera-goyah. Pada 5 Juta 5 Menit, pembawa acara dan kamera memilih seseorang di jalanan, kesannya secara acak, untuk diberi tantangan. Iming-iming bahwa hadiah akan diberikan jika perintah-perintah "Bos" berhasil dilaksanakan dalam waktu lima menit, membuat kamera serba tergesa mengikuti si peserta yang berpacu dengan waktu.

Model kamera candid dipakai untuk memberi kesan semua tak diatur naskah. Tentu saja, situasinya sendiri sudah melalui desain tertentu dari produser dan perancang tayangan. Tapi kesan serba bersicepat lewat kamera yang ikut berlari-lari, membuat keseluruhan acara terkesan spontan. Tapi, benarkah?

Tentu saja, sampai titik tertentu, spontanitas itu ada. Tapi, kita bisa bertanya-tanya, apa benar adegan "mencomot" para peserta itu memang terjadi saat kamera menyala? Dan apakah seluruh adegan memang tanpa persiapan? Misalnya, pada tayangan 11 Mei 2013, ada seorang kakek yang duduk di pinggir jalan, yang dipakaikan topi berisi terigu oleh peserta (atas titah sang "Bos"). Tidak ada yang marah? Mungkin itu pengaruh kehadiran kamera. Tapi, apakah kamera baru hadir saat itu?

Dalam Marry Me yang juga tayang pada 11 Mei 2013, dua jenis pendekatan kamera digunakan untuk lamaran Alan, seorang warga Inggris yang bekerja di Indonesia, kepada Tina: kamera biasa, yang hadir tanpa sembunyi dalam prosesi sebelum dan sesudah melamar, serta kamera tersembunyi (benarkah benar-benar tersembunyi?) saat adegan melamar di balon udara.

Yang menarik adalah adegan Alan, yang konon untuk pertama kalinya bertemu ibu dari Tina. Mereka berjumpa di restoran, seolah baru kenal, dan Alan langsung minta izin menikahi Tina saat itu juga. Di depan pembawa acara (Desta dan Arumi), kamera yang merekam adegan tersebut berlangsung stabil (berarti kemungkinan besar pengambilan gambar menggunakan tripod--sesuatu yang tak bisa digunakan begitu saja dalam keadaan spontan).

Hal lain yang juga sangat menarik adalah pengoperasian kamera yang digunakan dalamreality show bertema alam gaib: kamera yang tampak sebagai kamera pengintai, yang kadang goyah, digunakan untuk seolah memberi kredibilitas tinggi akan nilai kenyataan dari adegan.

(Masih) Dunia Lain dan Dua Dunia, misalnya, malah menggunakan stilisasi penyuntingan secara digital agar gambar-gambar di bagian pembuka mendapat kesan vintage. Kadang, kamera juga dimanipulasi secara digital agar terkesan ada derau (noise), sehingga gambar kadang hilang dengan bunyi "kresek". Efek kamera hitam putih juga banyak disetel pada adegan-adegan yang diambil dalam pencahayaan gelap.

Pada dasarnya, (Masih) Dunia Lain merupakan tayangan uji nyali. Namun, sang pembawa acara (kebetulan bertampang indo, kaukasoid) yang menggunakan baju seperti kostum para tokoh dalam film The Matrix, yakni jubah hitam panjang yang dilengkapi dengan tudung (hoodie). membuat tayangan tersebut terasa komikal. Suara musik yang dibuat mencekam, serta penyuntingan yang lincah layaknya film horor anak muda masa kini, justru terkesan memaksakan nuansa mencekam dalam tayangan tersebut.

Toh, jika kita jeli, ada beberapa hal yang cukup janggal dalam aspek penggunaan kamera. Dalam edisi 10 Januari 2013, misalnya, saat si "orang pintar" menerangkan dalam kegelapan bahwa ada cahaya dari ruang belakang, maka dengan segera gambar ruang belakang yang ditunjuk diperlihatkan. Artinya, sudah ada kamera di ruangan itu, sebelum si "orang pintar" bicara (seakan spontan) tentang adanya penampakan.

Manipulasi kamera agar tampak otentik sekaligus mencekam juga terlihat dalam Dua Dunia. Sajian utama tayangan ini adalah merekam orang kesurupan—seringkali, para awak tim produksinya sendiri. Tentu kita akan mulai bertanya-tanya jika kejadian kesurupan yang seolah selalu mengejutkan itu terjadi setiap minggu, di setiap tempat yang mereka kunjungi.

Dalam setiap adegan kesurupan, setidaknya digunakan dua buah kamera. Yang satu menyorot ketiganya (korban kesurupan, "orang pintar", dan pembawa acara) dari arah depan pembawa acara, untuk merekam adegan tanya jawab antara pembawa acara dan "orang pintar" dengan orang yang kesurupan. Sedangkan kamera lain menyorot langsung si orang kesurupan. Biasanya, kamera yang menyorot si orang kesurupan akan disetel/disunting jadi moda hitam putih.

Saat tiba di meja penyuntingan, adegan-adegan yang telah terekam diaduk-aduk dengan kehendak memberi dramatisasi mencekam. Teknik penyuntingannya dibuat sedemikian rupa untuk menghasilkan adegan-adegan yang kadang sangat rapat, terasa edgy, diiringi musik dari jenis yang lazim untuk film horor. Manipulasi kamera dan susunan adegan sebetulnya cukup terasa, tapi tetap saja tayangan seputar alam gaib itu ditempatkan sebagai tayangan tentang "kenyataan".

Lain lagi jika reality show kita mengangkat tema tentang kemiskinan. Jurus-jurus kamera yang digunakan justru sangat distilisasi. Gambar-gambar yang dihasilkan terbilang tajam untuk ukuran kamera video-digital bagi tayangan televisi. Hasil suntingnya sangat rancak, bahkan kadang pakai teknik slow motion segala Dan yang paling penting, tentu saja, iringan musik menyayat yang nyaris terus-terusan ada.

Tayangan semacam Orang Pinggiran dan Jika Aku Menjadi… memang dirancang untuk memancing tangis. Baik tangis si tokoh yang disorot kamera, atau tangis para penonton. Itulah sebabnya kamera perlu distilisasi selayak sinetron. Kamera yang digunakan saat si subjek bicara bisa lebih dari satu. Pengambilan gambar dari kamera yang lebih dari satu itu akan memberi ruang penggayaan lebih leluasa di meja penyunting.

Tapi, pengambilan gambar dengan lebih dari satu kamera itu juga membuat kita bertanya-tanya, apakah tidak ada rekayasa adegan atau omongan? Paling tidak, tak ada pengadeganan ulang? Tentu, kita hendak percaya pada integritas para pembuat tayangan-tayangan tersebut. Sayang, cara pendekatan kamera mereka terasa sangat berpeluang manipulatif.

Penutup

Ketika kamera telah jadi bagian keseharian kita, keseharian kita pun jadi sasaran empuk Sang Kamera. Kesan bahwa kini realitas (kenyataan) bisa direkam dan dialihkan begitu saja, seolah apa adanya, ke layar kaca, adalah sebuah jebakan. Kamera memiliki hukum besi pencipta realitas kedua.

Toh, orang-orang, para penonton, mungkin memang tak mencari realitas pertama. Bagaimana pun, reality show adalah tayangan hiburan bagi kebanyakan penonton. Manipulasi kamera untuk memberi kesan "nyata" malah diterima seperti kita menerima bualan seorang teman yang pandai menghibur kita dengan omong kosongnya. []