15/08/2017
Mengenang SK Trimurti
SK Trimurti, Menteri Ketenagakerjaan Indonesia yang pertama, punya jasa besar buat Indonesia. Ia adalah pejuang, jurnalis, politisi, dan advokat kesetaraan gender.
15/08/2017
Mengenang SK Trimurti
SK Trimurti, Menteri Ketenagakerjaan Indonesia yang pertama, punya jasa besar buat Indonesia. Ia adalah pejuang, jurnalis, politisi, dan advokat kesetaraan gender.

Pada 7 Agustus lalu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merayakan hari jadinya yang ke-23. Sejak 2008, AJI secara konsisten memberikan penghargaan SK Trimurti kepada perempuan yang dianggap memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan hak kaum tertindas. Penghargaan SK Trimurti tahun ini diberika pada Mayu Fentami, seorang bidan di Bunut Hilir, Kalimantan Barat. Meski merupakan seorang bidan, Mayu Fentami juga aktif mengembangkan radio komunitas dan taman bacaan. Mayu Fentami berusaha agar hak masyarakat Bunut Hilir untuk mendapat informasi bisa terpenuhi.

Penghargaan SK Trimurti diadakan untuk mengenang dan menghormati sosok SK Trimurti sebagai pahlawan nasional, aktivis, dan salah satu perempuan jurnalis pertama.

Trimurti sendiri awalnya adalah seorang pengajar. Saat tinggal dan mengajar di Solo, Trimurti mulai aktif beroganisasi. Setelah dipenjara oleh pemerintah Hindia-Belanda karena menyebarkan pamflet anti-penjajahan, Trimurti banting setir. Ia berhenti menjadi guru dan mendedikasikan dirinya sebagai aktivis kemerdekaan. Trimurti pindah ke Bandung dan mengikuti pelatihan kader Partai Indonesia (Partindo). Waktu itu Trimurti sempat tinggal di rumah Inggit, istri pertama Sukarno.

Sukarno adalah orang pertama yang meminta Trimurti untuk menulis di majalah Pikiran Rakyat. Bisa dibilang, inilah perkenalan pertama Trimurti dengan dunia jurnalistik. Melihat dedikasi dan semangatnya, Sukarno meminta Trimurti menjadi pemimpin redaksi majalah Pikiran Rakyat, majalah yang secara khusus menyebarluaskan gagasan bahwa kaum perempuan Indonesia akan dapat meraih nasib baik hanya di dalam suatu masyarakat yang merdeka, adil dan makmur. Saat itu usia Trimurti baru 21 tahun. Aktivitas politik dan jurnalistik Trimurti membuatnya sering keluar masuk penjara kolonial, baik di zaman Belanda maupun Jepang.

Perjuangan Trimurti terus berlanjut setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Bersama Trees Metty dan Umi Sardjono, Trimurti mendirikan Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) pada 1950. Pada 1954, Gerwis mengubah namanya menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Menurut catatan Wieringa (2002: h.98-99), Gerwani memiliki warna yang berbeda dari kebanyakan organisasi perempuan pada masanya. Kala itu, kebanyakan organisasi berfokus pada isu reformasi perkawinan, poligami, dan pernikahan anak, sementara Gerwani adalah satu-satunya organisasi yang "mendaku politik ... sebagai bidang yang sah untuk digeluti perempuan.”  

Pandangan organisasi ini tercermin dalam sikap Trimurti yang juga vokal dalam isu hak-hak pekerja. Pada 1945, Trimurti ikut mendirikan Barisan Buruh Wanita, organisasi buruh perempuan pertama di Indonesia. Trimurti pun diangkat sebagai Menteri Ketenagakerjaan Indonesia yang pertama pada 1947, di bawah kabinet Amir Sjarifuddin. Pada 1959, Trimurti sempat ditawari menjadi Menteri Sosial, namun ia menolak karena hendak menyelesaikan studi Ekonomi di Universitas Indonesia.

Pikiran kritis Trimurti masih tajam meski usianya sudah sepuh. Pada 1980, ketika usianya menginjak 68 tahun, Trimurti bersama 50 tokoh nasional lain menandatangani Petisi 50 yang mengkritik penyalahgunaan Pancasila sebagai dalih Soeharto dalam menyingkirkan lawan politiknya.

Trimurti wafat pada 2008, ketika ia berusia 96 tahun setelah dirawat selama dua minggu di RSPAD Gatot Subroto. Jenazahnya kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata (REMOTIVI/Brigita Blessty)

Bacaan Terkait
Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Soekarno di Balik Jeruji Media Orde Baru
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia
Kebhinekaan ala Televisi