Prasasti Ciaruteun di Bogor, Jawa Barat (Dok. Kemdikbud RI)
Prasasti Ciaruteun di Bogor, Jawa Barat (Dok. Kemdikbud RI)
25/08/2017
Komunikasi di Era Pra-Kolonial
Gawai elektronik, dari radio sampai telepon genggam, adalah barang lumrah hari ini. Namun, bagaimanakah warga Nusantara berkomunikasi sebelum alat-alat canggih itu ditemukan?
25/08/2017
Komunikasi di Era Pra-Kolonial
Gawai elektronik, dari radio sampai telepon genggam, adalah barang lumrah hari ini. Namun, bagaimanakah warga Nusantara berkomunikasi sebelum alat-alat canggih itu ditemukan?

Selama ini prasasti dianggap sebagai “pujian” yang ditujukkan pada raja-raja berjasa. Namun pada ujud aslinya prasasti merupakan batu bertulis di mana penulisnya bermaksud agar tulisan tersebut tahan lama dan dapat dibaca oleh beberapa keturunan sebagai penerima berita. Bahasa yang digunakan dalam penulisan prasasti adalah bahasa Sansekerta. Pada awal abad ke-lima, berdasarkan berita Cina di Jawa dan di Sumatera terdapat suatu bahasa yang dinamakan bahasa “Kw’unlun” atau bahasa Indonesia kuno yang tercampur dengan kata-kata Sansekerta atau bahasa Melayu kuno (Depdikbud RI, 1977: 47 & 51). Hal ini ditemukan pada prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Dirjen Postel, 1980: 34-35).

Masuknya pengaruh Hindu dan Buddha membuat beberapa kata dalam bahasa Sansekerta menjadi kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno. Pengaruh Hindu dan Buddha juga yang membuat kegiatan tulis menulis dan surat menyurat berkembang di biara dan istana raja-raja.

Batu bukan satu-satunya medium penulisan. Berdasarkan penelitian P.J Zoetmulder dalam Kalangwan (1974) menyebutkan bahwa daun bunga pudak (pandan duri) umum dipergunakan pada abad ke-lima hingga ke-enam untuk menulis surat cinta. Hal ini disebabkan oleh aroma harum yang dimiliki oleh tanaman pudak. Alat tulis yang dipergunakan adalah sebuah benda yang dipertajam ujungnya. Sepertinya alat tulis yang dimaksud masih ada hingga kini di Bali, dan disebut “pengutik” atau “pengrupak” yaitu sebuah benda yang dipertajam ujungnya. Alat ini digunakan untuk menggoreskan tanda atau huruf atau gambar pada daun pudak, atau daun tal, atau daun lontar. Goresan tersebut kemudian akan diperjelas dengan mengoleskan minyak kemiri yang akan meninggalkan warna hitam pada goresan-goresan tersebut.

Menulis surat tentu diperlukan lebih dari satu helai daun, sehingga daun-daun tersebut harus dirangkai menjadi satu kesatuan. Setelah itu surat tersebut disimpan dalam kotak kecil. Ada juga surat yang disimpan dengan menggunakan sampul tahan lama yang terbuat dari bambu yang diberikan tutup dan dinamakan urak. Kemungkinan hingga tahun 1980an, urak masih dimanfaatkan di pedesaan untuk menyampaikan surat giliran jaga, oleh sebab itu ada ungkapan “ketiban urak” yang berarti mendapat giliran jaga malam atau ronda malam. Dengan demikian surat perintah untuk melakukan jaga malam disampaikan secara beranting. Setiap orang yang mendapat giliran akan menjadi penghubung atau sarana transmisinya (Dirjen Postel: 37-39).

Lalu bagaimana cara seorang Raja menyampaikan pesan pada bawahannya dan pada Raja di kerajaan lain? Menurut Kamus Jawa Kuno Indonesia yang disusun oleh L. Mardiwarsito, terdapat kata caraka seperti pada kalimat pertama aksara Jawa hanacaraka yang berarti “ada utusan” atau “ada pesuruh”. Caraka dalam bahasa Sansekerta juga berarti pembantu, atau pelayan, atau bahkan mata-mata. Caraka sebagai pembantu dan/atau pelayan memang dapat disuruh untuk melakukan apapun, termasuk mengirim surat. Sebagai mata-mata dia juga bisa melakukan spionase untuk mendapatkan informasi yang penting bagi raja, hulubalang, atau panglima. Untuk menyampaikan surat atau nawala, raja dapat mengutus gandek atau pesuruh tingkat atas. Dalam persoalan hubungan antar kerajaan maka duta berperan sebagai penghubung. Oleh sebab itu ada sebutan “caraka telegram” bagi pengantar pesan biasa dan “caraka negara” bagi seorang duta besar.

Paparan singkat di atas hendak menunjukkan bahwa kegiatan tulis menulis, surat menyurat, dengan segala sarana, dan perlengkapannya sudah ada sejak zaman kerajaan dulu. Walaupun dalam bentuk yang paling sederhana. Namun, kegiatan ini hanya terbatas dalam lingkup biara, dan istana raja-raja, sebab kegaitan tersebut terbatas untuk kepentingan biarawan dan para raja. Meskipun demikian ada surat cinta yang mempergunakan daun pudak pada waktu itu. Hanya saja waktu itu belum ada lembaga khusus yang berperan sebagai perantara untuk pertukaran berita. (REMOTIVI/Brigita Blessty)

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"