Frank Leslie, "the mining troubles in Hocking Valley" (Wikimedia Commons)
Frank Leslie, "the mining troubles in Hocking Valley" (Wikimedia Commons)
21/07/2017
Ketika Serikat Pekerja Media Diberangus
Upaya untuk mendirikan serikat kerap berhadapan dengan kesadaran pekerja dan pemberangusan oleh perusahaan.
21/07/2017
Ketika Serikat Pekerja Media Diberangus
Upaya untuk mendirikan serikat kerap berhadapan dengan kesadaran pekerja dan pemberangusan oleh perusahaan.

Pemecatan ratusan pekerja di bawah MNC Group beberapa waktu lalu membuka diskusi ke persoalan rendahnya daya tawar pekerja berhadapan dengan perusahaan. Salah satunya diakibatkan minimnya serikat pekerja media yang ada di Indonesia. Ada banyak faktor yang membuat serikat pekerja media minim. Di antaranya, berdasarkan penelitian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 2010, kesadaran jurnalis dan pekerja media akan pentingnya membuat serikat masih terbilang rendah.

Hal tersebut ditunjukkan dengan data hanya ada 28 serikat pekerja media. Kondisi ini memang sedikit ironis. Mereka yang sehari-hari memberitakan dan membela hak-hak buruh, sepertinya belum menyadari hak-hak sebagai buruh berita. Dari riset AJI tersebut isu serikat pekerja bagi paraa pekerja media seperti belum terlalu diperhatikan.

Selain soal kesadaran, upaya pekerja mendirikan serikat pekerja sering tidak berjalan mulus. Berdasarkan penelitian Wildan Hakim  dalam tesisnya mengenai serikat pekerja di media menyebutkan setidaknya ada beberapa kejadian pemberangusan serikat pekerja media saat serikat tersebut masih menjadi benih. Tahun 1986 pemberangusan embrio serikat pekerja media terjadi di Kompas. Saat itu sejumlah wartawan muda Kompas seperti Albert Kuhon, Maruli Tobing, Rikard Bagun dan Irwan Julianto hendak membangun serikat karyawan Kompas. Sayangnya, upaya ini tidak direstui pimpinan Kompas. Keempat pentolan serikat karyawan Kompas memang tidak dipecat, namun mereka dikucilkan dengan cara tetap digaji tetapi tidak diberikan tugas jurnalistik. Sekitar dua tahun lamanya Kuhon bertahan dalam situasi ini dan pada akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari Kompas.

Selain itu, ada juga kejadian yang melanda Kompas pada 1995 yang mengorbankan Satrio Arismunandar dan Dhea Perkasha Yuda. Keduanya dipaksa mengundurkan diri dari Kompas karena menandatangani Deklarasi Sirnagalih dan menjadi pengurus Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI).  Sementara pada 2006, Bambang Wisudo menuntut 20% saham perusahaan untuk karyawan Kompas. Tuntutan tersebut ditanggapi dengan keras oleh pihak Kompas dengan pemecatan, keputusan yang mengejutkan karena Kompas dikenal jarang memecat pekerjanya.

Di ranah televisi, para pekerjanya juga belum terlalu aktif dalam membentuk serikat pekerja. Dari sekitar sepuluh televisi swasta yang ada, hanya serikat pekerja RCTI dan MNC TV yang terbilang aktif. Nasib berbeda menimpa serikat pekerja Indosiar yang diberangus oleh manajemennya sendiri. Awal perselisihan dimulai saat karyawan Indosiar membentuk Serikat Karyawan Indosiar (Sekar Indosiar) pada April 2008. Pihak manajemen Indosiar membuat serikat karyawan dengan nama yang sama namun dengan akronim yang berbeda yaitu Sekawan Indosiar. Ketua Sekar Indosiar, Dicky Irawan, berpendapat bahwa pembentukan serikat tandingan tersebut bertujuan untuk menggembosi kekuatan Sekar Indosiar. Hal ini berkenaan dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang mensyaratkan kuota 50+1 agar PKB bisa dibuat dengan menejemen perusahaan. Upaya pemberangusan dilanjutkan dengan PHK terhadap 71 karyawan yang menjadi anggota Sekar Indosiar.

Tahun 2009 Suara Pembaruan juga melakukan upaya pemberangusan serikat pekerja medianya dengan mendemosi dan menurunkan gaji karyawannya yang menjadi anggota serikat pekerja. Suara Pembaruan membantah tuduhan pemberangusan serikat pekerja. Namun, Budi Laksono ketua serikat pekerja Suara Pembaruan yang juga terkena mutasi menyatakan bahwa pemecatan dan mutasi yang dilakukan manajemen Suara Pembaruan terkait dengan serikat pekerja.

Deret kasus-kasus pemberangusan serikat pekerja media tersebut masih bisa terus diperpanjang melihat kasus-kasus beberapa tahun belakangan. Ringkasnya, masih butuh kerja keras agar serikat pekerja keberadaannya diakui oleh media dan kesadaran berserikat tumbuh di kalangan pekerja media. (REMOTIVI/ Maria Brigita Blessty)

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"