Ilustrasi: Joi/CC-BY-2.0 (https://tinyurl.com/y6vo8jy6)
Ilustrasi: Joi/CC-BY-2.0 (https://tinyurl.com/y6vo8jy6)
02/06/2017
Ketika Media Membutuhkan Dukungan Pembacanya
Jurnalisme yang berkualitas membutuhkan biaya. Ketika pendapatan iklan menurun, pembaca punya peran penting.
02/06/2017
Ketika Media Membutuhkan Dukungan Pembacanya
Jurnalisme yang berkualitas membutuhkan biaya. Ketika pendapatan iklan menurun, pembaca punya peran penting.

Apakah Anda bersedia membaca berita di media-media daring jika harus membayar? Bisa jadi sebagian besar orang akan menjawab pertanyaan ini dengan kata “tidak”. Apalagi, mengingat banyaknya berita-berita di media yang dapat diakses secara gratis, maka buat apa kita membayar?

Akan tetapi, mengingat pemasukan media-media arus utama yang terus menurun, sementara itu iklan digital masih minim dan masih terkonsentrasi ke perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook, berita berbayar ini pelan-pelan ini menjadi tren di banyak negara. Dari beberapa penelitian, koran dan media-media daring mulai memiliki basis pelanggan yang mau membayar dan jumlahnya terus meningkat.

Salah satu riset yang menunjukkan tren tersebut adalah riset terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ). Dalam riset yang dirilis Mei 2017, RISJ meneliti 171 media di 6 negara di Eropa yaitu Finlandia, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris Raya. Salah satu temuannya yang menarik adalah 66 % dari media-media tersebut mengoperasikan model berbayar.

Model tersebut disebut freemium, yaitu belum sepenuhnya berbayar. Jadi, hanya sebagian saja yang dapat diakses secara gratis –sementara konten-konten premium mensyaratkan pembaca untuk berlangganan lebih dahulu. Dalam model freemium ini, pembaca diberikan berita-berita dalam jumlah terbatas yang bisa diakses tanpa biaya. Sesudah jumlah berita gratis itu habis, pembaca harus berlangganan dan membayar.

Temuan menarik lainnya adalah, terdapat perbedaan dalam penerapan model berbayar dalam dua jenis media digital; media lama, baik koran maupun majalah, yang beralih ke bentuk digital dan media baru yang hanya memiliki versi digital saja. Bagi media lama yang beralih ke digital, 71 % menggunakan model berbayar bagi berita-beritanya. Sementara bertolak belakang dengan media lama, 97% media baru justru menggratiskan berita-beritanya sehingga lebih mudah diakses secara luas oleh publik.

Terlepas dari perbedaan tersebut, yang tidak bisa dipungkiri sebagaimana kesimpulan riset RISJ adalah semakin menurunnya pendapatan dari iklan digital yang diperoleh media. Dari riset tersebut, terbantah juga anggapan bahwa publik tidak mau membayar untuk mendapatkan berita-berita. Sebaliknya, publik akan bersedia membayar asalkan kualitas jurnalisme yang disajikan bisa dipertanggungjawabkan dan relevan bagi publik.

Contoh keberhasilan dalam meyakinkan pembaca untuk membayar ini bisa dilihat dari apa yang dilakukan oleh New York Times dan Guardian. Di awal tahun 2017, New York Times berhasil mendapatkan tambahan pelanggan digital sebesar 300.000. Sementara itu, Guardian yang berbasis di Inggris berhasil mendapatkan donasi pembaca yang jumlahnya hampir sama dengan pemasukan iklan mereka. Yang perlu menjadi perhatian, New York Times termasuk yang menggunakan model freemium dengan membatasi konten-konten berita yang bisa diakses gratis. Sementara Guardian sampai saat ini masih menggratiskan semua berita-beritanya. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"