Ilustrasi: ANTARA FOTO/Saptono
Ilustrasi: ANTARA FOTO/Saptono
18/05/2017
Media di Sekitar Reformasi 1998
Bagaimana peran media dalam salah satu episode menentukan dalam sejarah Indonesia?
18/05/2017
Media di Sekitar Reformasi 1998
Bagaimana peran media dalam salah satu episode menentukan dalam sejarah Indonesia?

Sejak 1998, bulan Mei menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah Indonesia. Pada bulan ini, 19 tahun yang lalu, krisis ekonomi memuncak. Berbagai aksi kekerasan terjadi, dan berujung pada lengsernya Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun. Kita mengenalnya dengan sebutan Reformasi. Bagaimana media memotret hari-hari yang menegangkan tersebut?  

Pinckey Triputra dalam tulisannya berjudul “Isi Media Sebagai Produk Interaksi Antaragensi” yang dimuat dalam buku Pers dalam Revolusi Mei (2000) menggambarkan wajah beberapa media. Ia menganalisis berita-berita di Kompas, Merdeka, dan Republika, lalu mengambil kesimpulan bahwa isu utama yang diangkat oleh media-media tersebut adalah krisis ekonomi bereskalasi menjadi krisis politik. Ironisnya, berita-berita mengenai isu tersebut sebagian besar hanya mengutip pemerintah, sehingga gambaran obyektif mengenai persoalan krusial yang sedang terjadi tidak kelihatan. Seperti disebut Pinckey, orientasi elit sebagai narasumber media ini menunjukkan bahwa media belum yakin bahwa rezim Soeharto benar-benar akan jatuh, serta masih kuatnya “coersive power yang diberlakukan pemerintah pada media massa”.

Lebih spesifiknya, dari 190 berita yang dianalisis, 102 berita menggunakan pemerintah/ABRI/Polri sebagai sumber. Bandingkan dengan tokoh masyarakat yang hanya 40 berita. Meski demikian, Pinckey juga menganalisis bahwa pemberitaan media mulai berani menampilkan berbagai kontradiksi atau konflik yang muncul di elite pemerintahan.

Sementara itu di buku yang sama, Sasa Djuarsa dan Hendra Harahap melakukan analisis atas 644 berita di TVRI, SCTV, dan Indosiar. Salah satu temuan yang menarik adalah tema dalam berita stasiun-stasiun tersebut pada kurun 10-12 Mei 1998. Dalam rentang ini berita-berita yang ada sama sekali tidak menunjukkan akan adanya perubahan sosial politik yang drastis di Indonesia. Isu yang diangkat masih soal pembangunan dan stabilitas keamanan di Indonesia.

Sasa dan Hendra bahkan menyebut bahwa para pengelola televisi tersebut bisa jadi tidak sadar bahwa liputan KTT G-15 di Mesir saat itu akan jadi yang terakhir kali mereka meliput Soeharto sebagai presiden. Aksi-aksi demonstrasi mahasiswa yang mulai masif di berbagai kota masih dibingkai sebagai tindakan yang meresahkan. Nada pemberitaan yang beberapa hari kemudian akan berbalik 180 derajat seiring situasi politik yang berubah.

Kerusuhan masal di Jakarta yang mulai terjadi pada 13 Mei menjadi titik balik pemberitaan televisi. Dalam analisis Sasa dan Hendra, meski tetap berusaha membingkai berita-berita dengan lebih pro-pemerintah, stasiun televisi mulai memberi ruang bagi kelompok-kelompok oposisi yang berseberangan. Salah satu tayangan yang dramatis misalnya adalah “insiden cabut gigi” dalam tayangan berita di SCTV pada 17 Mei 1998. Presenter SCTV Ira Koesno mewawancarai pengamat politik Sarwono Kusumaatmadja mengenai isu pergantian menteri. Belum berselang lama wawancara dimulai, Sarwono menyatakan:

“Kayaknya saya ini kan gak boleh terus terang, jadi harus pakai bahasa sandi. Kita pakai analogi gigi, reshuffle itu tambal gigi. Sedangkan kita ini perlu cabut gigi, supaya gigi baru bisa tumbuh. Jadi reformasi itu hanya bisa dilakukan dengan kalau kita mengambil tindakan moral, mencabut gigi itu.”

Beberapa pihak menyebut istilah “cabut gigi” ini sebagai kode intelijen untuk menjatuhkan Soeharto. Ancaman beredel sempat menimpa SCTV karena wawancara tersebut.

Seiring dengan menguatnya aksi-aksi mahasiswa, nada pemberitaan televisi dan media secara umum ikut berubah. Ketika akhirnya Soeharto kemudian menyampaikan pidato pengunduran dirinya, beberapa media membingkainya dengan cara yang berbeda: ada yang menilai Soeharto berjiwa besar dengan mengundurkan diri, ada yang menyebut bahwa itu adalah akumulasi dari perjuangan panjang mahasiswa. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"