05/05/2017
Pembunuhan Jurnalis di Indonesia
Impunitas yang membuat pelaku pembunuhan jurnalis tidak tersentuh menjadi catatan hitam dalam kebebasan pers di Indonesia.
05/05/2017
Pembunuhan Jurnalis di Indonesia
Impunitas yang membuat pelaku pembunuhan jurnalis tidak tersentuh menjadi catatan hitam dalam kebebasan pers di Indonesia.

Meski Indonesia menjadi tuan rumah perayaan World Press Freedom Day 2017, banyak kasus pelanggaran kebebasan pers yang terus terjadi atau berlalu begitu saja. Dalam indeks kebebasan pers dunia yang dikeluarkan oleh Reporters Without Borders, Indonesia menempati peringkat ke-124 dari 180 negara. Peringkat ini bahkan lebih buruk dari Timor Leste yang ada di posisi 98. Faktor-faktor yang menyumbang rendahnya peringkat kebebasan pers di Indonesia di antaranya adalah kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terus meningkat dan pembatasan akses bagi jurnalis yang meliput di Papua.

Sementara itu, Dewan Pers menyebut masih ada 8 kasus pembunuhan jurnalis  di Indonesia yang mendesak untuk dituntaskan. Kasus-kasus tersebut antara lain:

Pembunuhan Udin

Fuad Muhammad Syafruddin atau biasa dipanggil Udin adalah jurnalis Harian Bernas, Yogyakarta. Ia meninggal setelah dianiaya pada 16 Agustus 1996. Sebelum dibunuh, Udin kerap menulis tentang isu korupsi di Bantul. Kasus ini pernah sampai ke pengadilan dan sempat ditetapkan tersangkanya, namun kemudian diketahui bahwa ada rekayasa dalam penuntasan kasus tersebut. Sampai saat ini, pembunuh Udin yang sebenarnya belum terungkap.

Pembunuhan Naimullah

Naimullah adalah jurnalis Harian Sinar Pagi yang berbasis di Kalimantan Barat. Ia dibunuh di mobilnya yang terparkir di Pantai Penimbungan. Sebelumnya, Naimullah diketahui banyak menulis berita tentang hubungan antara polisi dengan jaringan pembalakan liar di Kalimantan. Dari apa yang pernah ditulis Naimullah dan kasus yang menimpanya, muncul dugaan bahwa polisi menjadi dalang dari pembunuhan tersebut. Tidak ada pengusutan yang serius oleh polisi mengenai kasus ini.

Pembunuhan Agus Mulyawan

Agus Mulyawan adalah jurnalis Asia Press yang meliput di Timor Timur beberapa waktu setelah referendum tahun 1999 yang menandai lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Tanggal 25 September 1999, Agus meninggal dalam penembakan di pelabuhan Qom, Los Palos, yang juga menewaskan 7 orang lainnya. Ia diduga dibunuh oleh milisi yang dibina oleh militer Indonesia.

Pembunuhan Muhammad Jamaluddin

Muhammad Jamaluddin adalah seorang juru kamera TVRI. Ia bekerja di Aceh dan hilang sejak 20 Mei 2003. Jamaluddin ditemukan satu bulan kemudian di sebuah sungai dalam kondisi terikat dan sudah tak bernyawa. Di jasadnya ditemukan banyak luka. Pembunuhan Jamaluddin diduga terkait dengan liputannya mengenai konflik Aceh yang saat itu sedang memuncak dengan diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh oleh presiden Megawati.

Pembunuhan Ersa Siregar

Sama seperti Muhammad Jamaluddin, Ersa Siregar yang merupakan jurnalis RCTI ini juga tewas ketika meliput konflik di Aceh. Ia meninggal setelah terjebak dalam tembak menembak antara pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 29 Desember 2003.

Ersa tewas dalam baku tembak antara pasukan GAM dan TNI di desa Alue Matang Aron. Ryamizard Ryacudu yang saat itu merupakan Kepala Staf TNI AD mengakui bahwa peluru yang membunuh Ersa Siregar merupakan peluru TNI. Ironisnya, tidak ada langkah hukum atas pembunuhan ini.

Pembunuhan Herliyanto

Herliyanto adalah jurnalis Tabloid Delta Pos Sidoarjo. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal pada 29 April 2006 di hutan jati di Probolinggo. Ia diduga dibunuh berkaitan dengan berita-berita yang ia tulis, yaitu kasus korupsi penyelewengan beras yang memenjarakan kepala desa. Polisi sempat menangkap tiga orang yang dijadikan tersangka sebelum pengadilan akhirnya membebaskannya. Tidak ada tersangka baru dalam kasus tersebut.

Pembunuhan Ardiansyah Matra’is Wibisono

Matra’is merupakan jurnalis stasiun televisi lokal di Merauke. Ia ditemukan meninggal pada 29 Juli 2010. Sebelumnya, Matra’is meliput tentang persaingan politik para pejabat daerah dalam memperebutkan proyek agrobisnis. Liputan ini yang diduga menjadi penyebab Matra’is dibunuh. Mabes Polri pernah mengeluarkan rilis yang menyebut bahwa Matra’is masih hidup saat diceburkan ke sungai. Akan tetapi tidak ada tindak lanjut dan penyelidikan untuk mencari pelaku pembunuhan.  

Pembunuhan Alfred Mirulewan

Alfred adalah jurnalis Tabloid Pelangi di Maluku. Pada 18 Desember 2010, ia ditemukan tewas dan diduga dibunuh karena liputannya mengenai kelangkaan bensin di Pulau Kisar. Dalam penuntasan kasus ini, polisi sudah menetapkan empat orang sebagai tersangka dan divonis bersalah oleh pengadilan. Akan tetapi, seperti dicatat oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), terdapat pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa penetapan tersangka direkayasa dan pelaku sebenarnya belum tertangkap. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Ketika Jurnalis Tertipu
Lintang Ratri: Ada Eksploitasi Anak dalam Sinetron Televisi
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Soeharto, sang Pahlawan Buatan Media Massa
Perilaku Netizen di Media Sosial