Ilustrasi: Ted Major, "Online Learning" (bit.ly/2oZPTAm - CC-BY-SA)
Ilustrasi: Ted Major, "Online Learning" (bit.ly/2oZPTAm - CC-BY-SA)
13/04/2017
Adakah yang Peduli Riset Jurnalisme?
Riset-riset tentang media dan jurnalisme banyak dilakukan oleh peneliti, tapi jurnalis sering mengabaikannya.
13/04/2017
Adakah yang Peduli Riset Jurnalisme?
Riset-riset tentang media dan jurnalisme banyak dilakukan oleh peneliti, tapi jurnalis sering mengabaikannya.

Kalau Anda seorang jurnalis, apakah sering membaca riset-riset mengenai media dan jurnalisme yang dibikin oleh para peneliti atau akademisi? Kalau pernah, apakah riset-riset itu berguna bagi pengembangan jurnalisme? Adakah peneliti media yang sering Anda jadikan rujukan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sempat diajukan oleh Nikki Usher, profesor pada George Washington University yang banyak melakukan penelitian mengenai jurnalisme dan media secara umum.

Nikki sering merasa terganggu ketika berinteraksi dengan para jurnalis. Di antara yang mengganggunya adalah pendapat umum di kalangan jurnalis bahwa riset-riset akademik mengenai jurnalisme tidak berefek langsung pada industri media. Bahkan hanya sedikit saja jurnalis yang tahu nama peneliti media.

Nikki menyebut bahwa meskipun beberapa sterotipe jurnalis mengenai riset-riset jurnalisme ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya tepat. Karena itu ia mencoba membantah asumsi-asumsi umum yang telanjur berkembang di kalangan jurnalis.

Di antara asumsi-asumsi tersebut yaitu, pertama,  riset akademik tidak menghasilkan perubahan bagi industri media. Nikki menyebut bahwa asumsi ini berangkat dari standar yang tidak adil dan menyebutnya secara fundamental menunjukkan sikap anti-intelektual. Ironisnya, ini posisi yang sama persis ketika jurnalis memojokkan atau sinis pada para pembaca yang tidak percaya bahwa media bisa menghasilkan perubahan.

Faktanya, kata Nikki, riset-riset jurnalisme memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai industri media. Jika dibayangkan dalam kerangka praktis, memang agak sulit. Tapi riset-riset ini bisa menjadi kerangka atau dasar bagi riset-riset lain yang lebih praktis misalnya riset kebijakan publik yang berkaitan dengan media.

Kedua, jurnalis sulit memahami riset-riset tentang jurnalisme karena para peneliti tidak membuat penelitiannya mudah dipahami. Nikki di sini juga menyebut bahwa ada standar ganda yang dimiliki jurnalis dan media. Ia memberi contoh bahwa untuk isu seperti politik dan hukum, jurnalis bisa membahasakan riset-riset mengenainya dengan lebih mudah, tapi kenapa tidak dilakukan untuk riset-riset mengenai diri mereka sendiri?

Ketiga, para peneliti jarang melakukan penelitian yang melibatkan atau punya manfaat praktis bagi publik. Asumsi ini sering muncul karena riset-riset tentang media banyak yang berkutat pada tataran teori. Namun Nikki membantahnya dengan menyebut bahwa banyak riset-riset jurnalisme di Amerika Serikat yang melibatkan publik dalam skala luas dan dari sana bisa menarik kesimpulan bagaimana publik memahami media.

Keempat, layanan berbayar membuat hasil-hasil riset terkait media dan jurnalisme sulit diakses. Nikki menyebut asumsi ini sebagai hal yang paling ironis. Ketika media punya kecenderungan untuk membuat pembacanya berlangganan, bagaimana bisa mereka mengkritik tentang layanan berbayar?

Nikki yang pernah menulis buku Interactive Journalism: Hackers, Data, and Code (2016) dan Making News at The New York Times (2014) pada akhirnya menyimpulkan bahwa relasi antara riset-riset media dan jurnalisme dengan industri media sangat kompleks. Jauh lebih kompleks dari asumsi-asumsi di atas. Dan karena itu butuh dialog yang intesif antara para akademisi dan industri media sehingga riset-riset yang dihasilkan bisa berguna. (REMOTIVI/ Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media