Ilustrasi: WhatsApp
Ilustrasi: WhatsApp
31/03/2017
Melawan Berita Palsu dari Whatsapp
Media punya peran penting dalam menghambat penyebaran arus informasi hoax yang semakin mudah beredar.
31/03/2017
Melawan Berita Palsu dari Whatsapp
Media punya peran penting dalam menghambat penyebaran arus informasi hoax yang semakin mudah beredar.

Whatsapp menjadi salah satu aplikasi pesan yang belakangan penuh dengan berita-berita palsu dan informasi hoax. Jumlah pengguna yang terus naik membuatnya menjadi medium penyebaran pesan yang efektif. Akhir tahun lalu, terdapat 1 miliar pengguna dari seluruh dunia dengan 42 miliar pesan dan 1,6 miliar foto yang dikirimkan setiap hari. Dengan tingkat popularitas sedemikian tinggi, informasi bisa tersebar dengan mudah.   

Sering mendapatkan informasi-informasi hoax dari Whatsapp? Bagi banyak orang di Indonesia, tentu tidak sulit menjawab pertanyaan tersebut. Informasi-informasi hoax di Whatsapp bisa menyebar cepat baik melalui chat personal maupun di grup-grup yang diikuti. Butuh upaya lebih untuk bisa menghentikan penyebaran informasi palsu yang semakin masif. Apalagi yang menjadi korban dari informasi-informasi tersebut tidak hanya pengguna biasa melainkan juga media-media arus utama yang mestinya bisa dipercaya berita-beritanya.

Melihat kondisi tersebut, apa yang  dilakukan oleh La Silla Vacía, salah satu media di Kolombia,  menarik untuk dipelajari. La Silla Vacia adalah media daring yang berpengaruh di Kolombia dengan jumlah pembaca mencapai 550.000 tiap bulannya. Sadar dengan jumlah pembacanya yang besar namun rentan dengan informasi palsu yang semakin marak beredar, tahun 2016 lalu media ini meluncurkan aplikasi Whatsapp Detector, layanan yang dapat memeriksa faktualitas informasi-informasi yang beredar dan viral di Whatsapp.

Layanan ini menjadi penting sebab lebih dari 60 persen warga Kolombia menggunakan Whatsapp, termasuk untuk mengakses berita-berita di media. Setiap hari, pesan-pesan berantai tersebar di Whatsapp; mulai kisah kehidupan selebritas, isu-isu politik, hingga kasus-kasus yang sedang hangat di Kolombia. Pesan-pesan tersebut punya kesamaan pola: selalu diakhiri dengan permintaan untuk menyebarkannya ke orang lain atau suatu hal buruk akan terjadi jika pesan tersebut tidak disebarkan. Salah satu metode yang memungkinkan berita palsu mudah tersebar.

Yang membahayakan ketika informasi palsu mudah tersebar adalah publik tidak tahu fakta yang sebenarnya. Melalui Whatsapp Detector, La Silla Vacia mencoba memeriksa fakta-fakta dari informasi viral tersebut. Sejak 30 Januari 2016, setiap minggunya mereka mendapatkan rata-rata 15 laporan terkait informasi viral. Laporan bisa diajukan oleh siapa pun yang merasa terdapat kesalahan atau kejanggalan dari informasi yang mereka dapat.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, reporter La Silla Vacia akan menindaklanjutinya dengan memeriksa apakah fakta-fakta yang ada dalam informasi viral yang dilaporkan benar atau tidak. Akan tetapi, yang ditindaklanjuti hanyalah informasi yang punya relevansi dengan kepentingan publik. Sementara, informasi yang berkaitan dengan seorang invidividu tidak akan direspon. Metode yang dilakukan dalam pemeriksaan fakta ini adalah praktik jurnalistik standard: meninjau data-data, memeriksa dokumen, dan menghubungi sumber yang bisa menguji kesahihan sebuah informasi.

Setelah sebuah informasi diperiksa dan diuji kebenaranya, La Silla Vacia kemudian akan mengirimkan hasilnya ke pembaca yang melapor dan meminta pembaca tersebut untuk menyebarkan ke jejaring kontaknya di Whatsapp. Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan fakta juga akan diunggah di situsweb resminya. Hal ini menjadi upaya untuk menyebarkan klarifikasi atas informasi palsu yang telanjur menyebar.

Direktur La Silla Vacia, Juanita Leon, menyebut bahwa 90 persen informasi yang mereka periksa dari laporan warga di Whatsapp ternyata memang palsu. Leon menyebut bahwa hal ini menunjukkan bahwa orang cenderung berbagi informasi berdasarkan emosi dan kepentingan, bukan fakta. Untuk saat ini Whatsapp Detector yang dikelola La Silla Vacia masih berfokus pada informasi viral. Akan tetapi, mereka sedang berupaya mengembangkan pemeriksa fakta untuk video dan meme yang juga populer di Whatsapp. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna