Ilustrasi: Public domain
Ilustrasi: Public domain
21/03/2017
Memecah Gelembung Informasi
Ketika orang membaca berita tidak semata-mata untuk mendapatkan informasi tetapi mencari afirmasi apa yang ia yakini, media punya peran menembus gelembung tersebut.
21/03/2017
Memecah Gelembung Informasi
Ketika orang membaca berita tidak semata-mata untuk mendapatkan informasi tetapi mencari afirmasi apa yang ia yakini, media punya peran menembus gelembung tersebut.

Salah satu problem yang muncul sebagai konsekuensi media sosial adalah kecenderungan orang memperoleh informasi yang seragam. Ini bisa diakibatkan algoritma media sosial yang membaca aktivitas dan preferensi para penggunanya. Problem ini tidak hanya berpengaruh kepada pilihan orang untuk berteman dengan siapa tetapi juga dalam hal membaca berita apa.

Algoritma telah membuat orang cenderung memilih membaca dan membagi berita dari media-media tertentu. Pada tahap selanjutnya, algoritma ini menciptakan apa yang disebut sebagai gelembung (filter bubble). Orang-orang yang tinggal dalam gelembung tersebut akan mendapatkan informasi homogen dan pelan-pelan membentuk keyakinan mereka mengenai isu-isu tertentu.

Dalam kondisi arus informasi yang homogen, kesamaan pandangan antara orang-orang yang berbeda pendapat sulit dicapai. Jangankan pendapat, kesamaan pemahaman atas fakta-fakta keras pun susah dilakukan. Dengan demikian, maka polarisasi opini di media sosial yang semakin mengental menjadi hal yang wajar. Saat ini kita sedang berada pada tahap ketika orang membaca berita bukan lagi sekadar ingin mendapatkan informasi tertentu melainkan karena ingin mendapatkan afirmasi atas apa yang ia yakini. Akibatnya, ketika ada berita yang berbeda dengan keyakinan yang ia pegang betapa pun media tersebut menulis fakta yang sebenarnya, ia tetap tidak akan mempercayainya.

Sebaliknya, ketika ada media atau portal yang menyebarkan sebuah informasi betapa pun portal tersebut dikenal sebagai penyebar hoax, ia akan cenderung mengamininya selama ada kesamaan pandangan mengenai isu-isu tertentu. Ini merupakan salah satu hal yang membuat kepercayaan terhadap berita-berita di media arus utama menurun dan situs-situs penyebar hoax justru dipercaya.

Media punya peran yang penting dalam kondisi chaos semacam ini: tidak hanya untuk memberikan informasi yang berbasis fakta tetapi juga tanggung jawab untuk menembus gelembung tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh Guardian yang berbasis di Inggris. Guardian selama ini dikenal sebagai media yang menjadi suara bagi kelompok liberal dan progresif. Dengan kata lain, basis pembaca terbesarnya adalah kelompok dengan pandangan politik tersebut.

Beberapa saat sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat 2016, Guardian meluncurkan rubrik bertajuk Burst Your Bubble yang dikelola oleh Jason Wilson. Isinya adalah rekomendasi bacaan, baik situs web maupun artikel, mengenai isu-isu tertentu yang memuat sudut pandang konservatif. Pilihan untuk menampilkan sudut pandang konservatif ini tentu bertujuan untuk menembus gelembung para pembacanya yang sebagian besar berhaluan liberal.  

Dalam rubrik tersebut, Wilson menulis berbagai hal khususnya yang terkait politik di Amerika Serikat. Beberapa dari tulisannya adalah artikel mengenai prediksi kepemimpinan Donald Trump yang dianggap akan membunuh ide-ide liberal dan progresif. Selain itu Wilson juga mengupas fenomena berita palsu dan menjamurnya kembali teori konspirasi dalam siaran-siaran radio di Amerika Serikat.

Jessica Reed, editor Guardian Amerika Serikat, menyebut bahwa rubrik Burst Your Bubble sengaja diterbitkan karena mereka memahami bahwa para pembaca Guardian bisa jadi punya inisiatif serupa untuk menembus gelembung liberalnya namun kebingungan dari mana harus memulai. Dengan demikian, rubrik tersebut bisa menjadi upaya awal untuk memahami ide-ide dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Respon dari pembacanya pun cukup bagus: banyak pembaca  yang berterima kasih dan menyebut bahwa mereka tidak akan pernah membaca artikel-artikel konservatif jika tidak direkomendasikan oleh Guardian.

Kondisi tersebut relevan dengan kondisi di Indonesia ketika media-media juga punya kecenderungan politik sendiri yang juga berperan dalam mengeraskan polarisasi opini, setidaknya di media sosial. Bedanya, yang belum muncul adalah upaya media Indonesia untuk menggiring para pembacanya supaya mau mencoba menembus gelembung tersebut. Upaya ini memang tidak serta-merta mengubah keyakinan atas sebuah isu, namun setidaknya mencoba untuk mendengarkan mereka yang punya pendapat berbeda. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Ketika Jurnalis Tertipu
Lintang Ratri: Ada Eksploitasi Anak dalam Sinetron Televisi
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Soeharto, sang Pahlawan Buatan Media Massa
Perilaku Netizen di Media Sosial