02/03/2017
Asal-Asalan Menerjemahkan Berita
Banyak berita dari media asing yang diterjemahkan atau disadur serampangan dan berpotensi menyesatkan pembaca.
02/03/2017
Asal-Asalan Menerjemahkan Berita
Banyak berita dari media asing yang diterjemahkan atau disadur serampangan dan berpotensi menyesatkan pembaca.

“Trump Perintahkan Serangan Nuklir Jika Calon Ketua MA Ditolak”. Judul berita di Sindonews.com ini menyeramkan. Isinya tentang ancaman Donald Trump akan melakukan serangan nuklir apabila calon ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat pilihannya ditolak oleh kubu partai Demokrat di Senat. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa Trump tak menjelaskan kepada kelompok atau negara mana serangan nuklir yang disebutnya tersebut ditujukan.

Akan tetapi, nanti dulu; apa kaitan antara pemilihan ketua MA di Amerika Serikat dengan ancaman serangan nuklir ke negara lain? Tidak ada. Persis tepat pada titik itulah persoalan berita Sindonews tersebut. Terlihat bagaimana berita yang dikutip dari IB Times tersebut diterjemahkan secara semena-mena.

Dalam literatur politik Amerika Serikat, nuclear option dalam pengambilan keputusan di Senat, seperti pemilihan ketua MA, sama sekali tidak berkaitan dengan serangan senjata nuklir ke kelompok atau negara lain. Nuclear option adalah istilah ketika anggota Senat bisa mengambil keputusan melalui voting cukup dengan 51 suara, sementara semestinya dibutuhkan 60 suara. Jika penerjemah kesulitan membaca sumber yang rumit, laman Wikipedia memberikan penjelasan mengenai istilah nuclear option.  

Berita-berita saduran atau terjemahan dari media-media luar negeri memang berpotensi menyesatkan apabila tidak diterjemahkan dengan akurat. Proses penerjemahan itu tidak sekadar mengacu pada  makna literalnya, tetapi juga pemahaman mengenai konteks politik yang ada. Banyak contoh terkait ini. Misalnya saja, ketika memuat berita tentang politik Amerika Serikat, koran Kompas pernah menerjemahkan secretary of state sebagai menteri sekretaris negara. Padahal di Amerika Serikat, yang dimaksud dengan secretary of state adalah menteri luar negeri.

Kesalahan kecil tersebut barangkali tidak terlalu fatal efeknya. Akan tetapi bayangkan jika yang keliru diterjemahkan seperti serangan nuklir di atas. Republika.co.id juga pernah keliru menerjemahkan berita yang berjudul “Inilah Negara Pertama yang Melarang Islam” yang berisi mengenai pemerintahan Angola yang melarang Islam di negara tersebut.

Berita saduran tersebut keliru total karena sudah dibantah sendiri oleh pemerintahan Angola yang kemudian dimuat di banyak media lain bahwa tidak ada pelarangan. Dengan isu yang sesensitif itu, kesalahan terjemahan bisa berakibat secara fatal karena berita tersebut dibaca banyak orang. Berita tersebut akhirnya dihapus oleh Republika, namun tidak diikuti permintaan maaf. 

Dari beberapa berita, kekeliruan biasanya bisa terjadi setidaknya karena dua hal: wartawan atau penulisnya keliru membaca konteks isu yang memuat berita,, atau ketidakkritisan membaca sumber yang diterjemahkan. Ali Darwish dalam Translating the News Reframing Constructed Realities (2006) menyebut bahwa berita-berita terjemahan punya potensi menyesatkan pembaca jika keliru dialihabahasakan.

Dalam hal ini, khususnya karena setiap berita pada mulanya punya framing yang berbeda-beda. Keliru menerjemahkan juga bisa membuat framing awal berubah sama sekali dari makna awalnya. Melihat hal tersebut, Ali menyebut bahwa jurnalis, penerjemah berita, juga editor di media mestinya bisa memahami risiko penerjemahan atau saduran yang asal-asalan. Kecuali memang sebuah media ingin menyesatkan pembacanya sendiri. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"