Ilustrasi: Remotivi
Ilustrasi: Remotivi
17/02/2017
Intimidasi dan Pelecehan terhadap Jurnalis
Di era media sosial, ancaman terhadap jurnalis tidak hanya berupa kekerasan fisik.
17/02/2017
Intimidasi dan Pelecehan terhadap Jurnalis
Di era media sosial, ancaman terhadap jurnalis tidak hanya berupa kekerasan fisik.

Desi Fitriani sempat sempoyongan ketika diusir massa yang terlibat dalam aksi 11 Februari 2017 di Masjid Istiqlal. Meski dikawal tim keamanan, ia sempat dipukul di bagian punggung dan kepala. Sementara kameramennya, diludahi dan celananya ditendang sampai berbekas. Orang-orang berteriak “Usir Metro TV tukang tipu.”

Beberapa foto dan rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan peristiwa tersebut. Wajah orang yang memukul kepalanya dari belakang juga terlihat. Tidak terima dengan kejadian tersebut, Desi melaporkan kekerasan yang ia alami kepada polisi.

Sementara itu di media sosial, beredar berbagai gambar yang justru memojokkan wartawan Metro TV tersebut. Salah satunya bahkan insinuatif karena membandingkan wajah Desi dengan wajah wartawan lain sambil diberi keterangan “wajah sebelum dipukul dan sesudah dipukul.”

Gambar tersebut viral di media sosial dengan narasi bahwa Metro TV sedang playing victim. Dengan kata lain, aksi kekerasan itu dianggap tidak ada. Selain terhadap Metro TV, kekerasan juga dialami oleh wartawan Global TV yang diintimidasi pendukung Rizieq Shihab karena tidak menyebut kata “Habib” terlebih dulu (10/2).  

Kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia semakin sering terjadi beberapa bulan belakangan. Namun, belajar dari yang dialami oleh Desi, kekerasan terhadap jurnalis tidak hanya berupa ancaman fisik tetapi juga ditambah dengan hoax yang beredar di media sosial. Ia bahkan bisa disebut sebagai pelecahan yang menutup isu kekerasan fisik itu sendiri.

Data yang dirilis oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) akhir tahun lalu menunjukkan bahwa aksi kekerasan terhadap jurnalis meningkat drastis. Di tahun 2013 dan 2014 jumlah kekerasan terhadap jurnalis sebanyak 40 kali di berbagai daerah di Indonesia. Tahun 2015, angka itu naik menjadi 42. Sementara di 2016, lonjakan tinggi terjadi dengan total 78 kali kekerasan. Salah satunya yang dialami wartawan Tirto.id ketika meliput aksi demonstrasi 2 Desember 2016.

Jika menghitung kekerasan atau pelecehan terhadap jurnalis yang terjadi di dunia maya seperti yang dialami oleh Desi Fitriani kemarin, bisa jadi jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Sebelumnya, masih terkait dengan aksi besar-besaran di Jakarta tahun lalu, wartawan Metro TV Janes C Simangunsong juga mengalami pelecehan yang sama yang kemudian memutuskan dia menutup akun twitternya. Pada Juni 2016, eks jurnalis Rappler.com Febriana Firdaus juga sempat diintimidasi ketika meliput Simposium Nasional Anti-PKI. Fotonya disebarkan akun twitter Front Pembela Islam.

Dalam konteks internasional, kekerasan simbolik melalui media sosial juga menjadi perhatian. International Press Institute, jejaring global jurnalis dan pengelola media, pada 2016 lalu meluncurkan database data kekerasan di dunia maya terhadap jurnalis. Sebagai proyek awal, IPI memantau kasus-kasus yang terjadi di Turki dan Austria.

Di Turki, sepanjang Januari sampai November 2016 setidaknya ada 93 kekerasan terhadap jurnalis yang dilakukan di dunia maya. Kekerasan tersebut bervariasi dari mulai ancaman kekerasan fisik, pemerkosaan, atau pelecehan seksual lainnya yang ditujukan melalui akun media sosial maupun email jurnalis yang bersangkutan. Sementara itu ada 8 ancaman pembunuhan. Serangan-serangan online tersebut juga meliputi penyebaran informasi-informasi palsu mengenai jurnalis atau media yang disasar.

Dengan belajar dari kasus-kasus tersebut, dan mengingat akses terhadap internet semakin membesar, tidak menutup kemungkinan bahwa serangan-serangan online terhadap jurnalis juga meningkat. Apalagi hal tersebut lebih mudah dilakukan ketimbang kekerasan fisik, dan bisa menimbulkan efek trauma bagi jurnalis yang disasar. Butuh antisipasi sebelum kejadian semacam itu semakin sering. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Dokumen Panama dan Masa Depan Jurnalisme Investigasi
Anak Kambing Presiden, Politik Tontonan, dan Aksi Kendeng
Senjakala Berita Televisi
Rembang dan Keberpihakan Media
Media Publik di Era Media Digital