Ilustrasi: Graphic on Fake News by VOA News (Public Domain)
Ilustrasi: Graphic on Fake News by VOA News (Public Domain)
02/02/2017
Jurnalisme Memproduksi Hoax
Delegitimasi terhadap jurnalisme bisa terjadi ketika media lebih mengedepankan kecepatan ketimbang akurasi.
02/02/2017
Jurnalisme Memproduksi Hoax
Delegitimasi terhadap jurnalisme bisa terjadi ketika media lebih mengedepankan kecepatan ketimbang akurasi.

Di mana Patrialis Akbar ditangkap? Jawapos.com menyebut ia dikabarkan ditangkap di kos-kosan mewah, Tempo.co menyebutnya di kos mewah, Tribunnews.com bahkan sudah menuliskan keterangan soal harga kos-kosan tersebut per bulan.

Berita-berita ini muncul beberapa saat setelah ada kabar penangkapan hakim MK tersebut (26/1). Saat itu di awal-awal penangkapan yang beredar kencang di media sosial, belum ada keterangan resmi dari KPK.  Begitu di malam hari KPK mengadakan konferensi peres terkait detail penangkapan, ternyata lokasi penangkapan Patrialias Akbar adalah di mal Grand Indonesia. Tempo kemudian memberikan ralat dalam beritanya.

Kesalahan semacam ini laten dalam media daring. Lantas, apakah media tidak bisa salah? Tentu saja bisa. Dan sebagaimana diatur dalam pedoman pemberitaan media siber Dewan Pers, ada mekanisme revisi dalam sebuah berita yang salah atau keliru menampilkan fakta. Yang tidak bisa dipungkiri, setiap kesalahan semacam ini muncul, perdebatan klise antara kecepatan dan akurasi dalam jurnalisme kembali mengemuka.

Ringkasnya, kalau sebuah berita cepat tayang, kerap kali akurasi dikorbankan. Ada fakta yang keliru dan sebagainya. Sebaliknya, kalau sebuah berita akurat, butuh waktu yang lebih lama untuk dikabarkan ke publik. Gejala ini tentu bukan hal baru, bahkan ia sudah muncul seiring awal kemunculan media daring. Namun dalam era media sosial ketika setiap berita begitu mudah tersebar secara cepat, hal ini menjadi semakin berbahaya.

Apa konsekuensi dari hal ini? Kellie Riordan dalam Accuracy, Independence, and Impartiality (2014) mengutip direktur Australian Broadcasting Corporation (ABC) Mark Scott menyebut bahwa terlalu lama dalam menyiarkan sebuah peristiwa yang terjadi bisa merusak reputasi sebuah media. Namun, memiliki kebiasaan melakukan revisi dengan asumsi bahwa setiap kesalahan bisa diperbaiki, hanya akan merusak kepercayaan dan kredibilitas media tersebut.

Ketika kepercayaan dan kredibilitas itu rusak, apalagi jika dilakukan berulang kali, pelan-pelan pembaca akan meninggalkannya. Dan ketika media-media arus utama melakukan kesalahan terus-menerus, maka pembaca butuh alternatif untuk mendapatkan informasi. Dan ini yang berbahaya di era media sosial saat ini. Kesalahan media arus utama akan menjadi sumber hoax baru.

Dalam risetnya tersebut, Kellie Riordan juga menyebut bahwa pendekatan yang dilakukan oleh media-media arus utama dengan media-media baru yang mengandalkan media sosial sebagai strategi menggaet pembaca jauh berbeda. Jika media-media arus utama seperti New York Times, BBC, Guardian masih memikirkan akurasi, meskipun pernah salah dan melakukan revisi, media baru seperti Gawker (yang sekarang sudah tutup) justru mengajak pembaca untuk memutuskan mana informasi yang belum lengkap untuk melengkapinya.

Bekas jurnalis Gawker, Nick Danton menyebut bahwa informasi yang mereka posting sifatnya masih setengah matang. Ini menjadi pesan untuk pembaca mereka: “baru ini yang yang kami tahu dan tidak tahu, apa yang anda tahu?” Dengan kata lain, pembaca diajak untuk melengkapi sumber-sumber dalam berita.

Namun, buru-buru mempublikasikan sebuah informasi dengan berharap pada pembaca untuk mengkoreksinya tetap meninggalkan ancaman besar terhadap kredibilitas dan kepercayaan media yang bersangkutan. Tetap dibutuhkan kebijakan untuk tidak mempublikasikan informasi yang belum bisa diverifikasi. Apalagi jika menyangkut informasi yang sensitif. Tantangan yang berat di era serba cepat seperti saat ini.  

Catatan menarik lain dari riset Kellie Riordan adalah bahwa media mestinya sudah melampaui diskusi antara kecepatan dan akurasi. Era digital telah menyediakan kesempatan besar bagi jurnalisme untuk lebih terbuka, transparan, dan partisipatif. Yang lebih penting, kepercayaan pembaca tetap harus dijaga. Sebab jika tidak, berita-berita semacam kebingungan terhadap di mana lokasi Patrialias Akbar ditangkap akan semakin sering muncul dalam isu-isu yang lain. Jika dibiarkan, ini bisa membuat pembaca kehilangan kepercayaan dan beralih ke media-media alternatif. Berbahayanya, ketika media-media alternatif itu ternyata penyebar hoax.  (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Savic Ali: Media-Media Garis Keras Punya Semangat Mengimpor Konflik
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian I)
Gagasan yang Maya: Produksi Wacana dalam Media Daring
Membawa "Asolole" ke Layar Kaca
Dikepung Sinetron dan Iklan Politik