Ilustrasi: oxforddictionaries.com
Ilustrasi: oxforddictionaries.com
05/01/2017
Selamat Datang di Era Post-Truth
Fakta semakin menjadi hal yang tidak penting. Diamplifikasi media sosial, dipercaya banyak orang.
05/01/2017
Selamat Datang di Era Post-Truth
Fakta semakin menjadi hal yang tidak penting. Diamplifikasi media sosial, dipercaya banyak orang.

Kamus Oxford menjadikan post-truth sebagai “Word of the Year” tahun 2016. Berdasarkan keterangan editornya, jumlah penggunaan istilah tersebut di tahun 2016 meningkat 2000 persen bila dibandingkan 2015. Sebagian besar penggunaan istilah post-truth merujuk pada dua momen politik paling berpengaruh di tahun 2016: keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Kamus Oxford sendiri mendefinisikan istilah tersebut sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Kondisi ini memang memuncak dalam dua momen politik tersebut yang digerakkan oleh sentimen emosi. Dalam situasi tersebut, informasi-informasi hoax punya pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang fakta yang sebenarnya.

Istilah post-truth menurut penjelasan Kamus Oxford digunakan pertama kali tahun 1992. Istilah itu diungkapkan oleh Steve Tesich di majalah The Nation ketika merefleksikan kasus Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi di periode tersebut. Tesich menggarisbawahi bahwa “kita sebagai manusia yang bebas, punya kebebasan menentukan bahwa kita ingin hidup di dunia post-truth.

Istilah tersebut sendiri sebenarnya sudah dipakai sebelum 1992, namun dalam pengertian yang sedikit berbeda dan tidak berimplikasi pada makna kebenaran yang menjadi tidak relevan. Sementara itu Ralph Keyes dalam bukunya The Post-truth Era (2004) dan comedian Stephen Colber mempopulerkan istilah yang berhubungan dengan post-truth yaitu truthiness yang kurang lebih sebagai sesuatu yang seolah-olah benar, meski tidak benar sama sekali.

Selain ditandai dengan merebaknya berita hoax di media sosial, era post-truth juga ditandai dengan kebimbangan media dan jurnalisme khususnya dalam menghadapi pernyataan-pernyataan bohong dari para politisi. Kasus selama pemilu presiden Amerika 2016 menjadi bukti bahwa semakin sering media menyiarkan berita-berita bohong soal Donald Trump, hal itu justru bisa membuat nama Trump semakin populer dan kebohongan-kebohongannya tersebar luas.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Donald Trump adalah sosok politisi yang suka melempar berita bohong dan klaim-klaim sepihak yang tidak didukung bukti. Ini akan berbahaya ketika diamplifikasi baik di media sosial dan bikin banyak orang percaya. Untuk menghadapi situasi semacam ini, New York Times merancang metode yang tepat untuk melakukan pemeriksaan fakta atas setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh Trump.

Salah satu yang pernah dicoba di edisi korannya adalah memberikan langsung keterangan bahwa pernyataan-pernyataan tertentu yang disampaikan Trump adalah hoax. Hal ini agar pembaca tahu kondisi yang sebenarnya sehingga tidak tertipu. Di Indonesia, kondisi yang relatif serupa juga sedang terjadi. Butuh langkah serius agar kita tidak terbawa arus post-truth. (REMOTIVI/Wisu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?