Ilustrasi: Public domain/Remotivi
Ilustrasi: Public domain/Remotivi
14/12/2016
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Berita-berita bohong menyebar secara masif melalui media sosial. Banyak orang yang mempercayainya ketimbang pada berita dari media arus utama.
14/12/2016
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Berita-berita bohong menyebar secara masif melalui media sosial. Banyak orang yang mempercayainya ketimbang pada berita dari media arus utama.

“Massa Aksi Kita Indonesia Mencapai 100 Juta”. Potongan gambar (screenshot) tayangan Metro TV dengan keterangan judul tersebut menjadi viral di media sosial pada 4 Desember 2016. Para pengguna media sosial banyak yang sinis. Metro TV dianggap melakukan kebohongan publik dengan menggandakan berkali lipat jumlah peserta yang ikut aksi di hari tersebut. Tak lama berselang seruan boikot Metro TV menjadi ramai.

Persoalannya, keterangan judul tersebut palsu. Ketika diverifikasi ke tayangan yang dimaksud, tidak ada keterangan Metro TV menulis 100 juta. Namun, efek dari informasi palsu yang sudah menjadi viral ini sudah sulit dicegah. Hal semacam ini semakin sering terjadi terutama menyangkut isu-isu sensitif seperti agama dan politik.

Terkait berita atau informasi palsu semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di Amerika Serikat, berita-berita palsu bahkan sudah menjadi industri yang menguntungkan para pembuatnya. Abby Ohlheiser, wartawan di Washington Post, mewawancarai seorang pembuat berita palsu di Facebook Paul Horner.

Dalam wawancara tersebut, Horner mengaku mendapatkan penghasilan $10.000 per bulan atau sekitar 135 juta rupiah. Sementara di Indonesia, hitungan Septiaji Eko Nugroho dari Masyarakat Anti-Hoax menyebut bahwa situs-situs penyebar kebohongan seperti Pos Metro dan Nusanews bisa memperoleh keuntungan 600 - 700 juta per tahun. Angka yang sangat besar dan didapatkan dengan cara mudah.

Selain kebohongan yang semakin mudah tersebar, efek dari berita-berita palsu yang paling berbahaya adalah ia bisa mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan kekerasan. Kejadian di Amerika Serikat beberapa waktu lalu menjadi contohnya. Dalam sebuah berita palsu yang beredar dan disebut Pizzagate, mantan calon presiden Hillary Clinton dikabarkan melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak di sebuah restoran pizza.

Berita palsu yang menjadi viral di internet tersebut dipercaya oleh beberapa orang. Salah satunya bahkan sampai nekat membawa senjata ke sebuah restoran pizza dan mengarahkannya ke karyawan. Sementara itu pemiliki restoran sebelumnya sempat mendapat ancaman pembunuhan. Efek nyata semacam itu bisa terus muncul bila berita-berita palsu terus dibiarkan menyebar tanpa ada langkah konkret yang dilakukan.

Dalam konteks di Indonesia, potensi semacam ini bisa terjadi semakin sering. Apalagi jumlah pengakses internet Indonesia sudah mencapai lebih dari 50% dari jumlah penduduk. Media punya peran penting dalam menghadapi bahaya berita-berita palsu ini, bukan justru menjadi ruang untuk mengamplifikasi kebohongan tersebut. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Soekarno di Balik Jeruji Media Orde Baru
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia
Kebhinekaan ala Televisi