01/10/2016
Menjual Berita Sensasional
Semakin banyak berita yang abai etika jurnalistik. Era digital membangkitkan kembali jurnalisme tabloid?
01/10/2016
Menjual Berita Sensasional
Semakin banyak berita yang abai etika jurnalistik. Era digital membangkitkan kembali jurnalisme tabloid?

“Aduh Maak.. Hujan Bikin Gunung Bu Bidan Kelihatan.”

“Setelah Dibunuh, Celana Janda Muda Dilepas, Lantas…”

“Bung Sandiaga, Please Jelaskan Permintaan ke Dewi Persik untuk Striptis...”

“Sedang Mesum dengan Staf Tak Sadar Direkam Istrinya”

Kalau Anda sering membaca media daring, judul-judul berita di atas bukan hal yang asing lagi. Judul-judul tersebut seperti sudah menjadi “standar” bagi media-media yang ingin menjual sensasionalisme. Ironisnya, mereka yang menggunakan judul-judul tersebut bukan hanya media ala “koran kuning”, tetapi juga media yang selama ini dikenal punya reputasi baik.

Dalam kajian media, praktik pemberitaan yang menjual sensasionalisme tersebut kerap disebut sebagai jurnalisme tabloid. Di Inggris, istilah ini kerap dimaknai sebagai berita-berita yang tidak beretika dan tidak bisa dipercaya. Sedangkan di Afrika Selatan, jurnalisme tabloid lebih bermakna positif karena memberi ruang bagi pengalaman sehari-hari warga di sana pasca era apartheid puluhan tahun.

Dalam risetnya yang berjudul “Re-invinting Tabloid Journalism in Indonesia” (2016), Diyah Hayu Rahmitasari menyebut bahwa media-media yang mempraktikkan jurnalisme tabloid pada dasarnya menyasar selera para pembaca yang diabaikan banyak media-media arus utama. Dengan gaya bahasa populer yang dekat dengan keseharian, tak mengherankan jika oplahnya juga besar.

Untuk melihat praktik tersebut, Diyah meneliti Pos Kota dan Lampu Hijau, dua koran dengan oplah terbesar di Indonesia yang menggunakan model jurnalisme tabloid. Pada 1970, ketika pertama kali terbit, Pos Kota dicetak sebanyak 3.500 eksemplar dan meningkat menjadi 30.000 hingga 60.000 dalam beberapa bulan saja. Pada kurun 2010-2012, total sirkulasinya sudah mencapai 500.000 sampai 600.000 per hari.

Sementara itu, Lampu Hijau yang pertama kali terbit tahun 2001 pernah mencapai angka sirkulasi 130.000 eksemplar per hari. Puncak sirkulasi tersebut terjadi di kurun 2004-2006, dan sejak 2011 jumlahnya stabil di angka 50.000 eksemplar. Harian tersebut tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, dan sekitarnya.

Kedua koran tersebut memiliki kesamaan yaitu memberi halaman yang lebih banyak bagi isu-isu lokal khususnya yang terkait kriminal, skandal, dan terutama kejadian-kejadian sensasional. Di Pos Kota, alokasi berita lokal mencapai 36% atau 11 dari 31 rubrik yang ada. Sementara di Lampu Hijau 46% beritanya fokus pada isu kriminal, dan 25% berita lokal.

Karena menyasar pembaca dengan penghasilan menengah ke bawah, redaksi Lampu Hijau cenderung untuk menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Karena itu tidak perlu heran jika membaca berita-berita dengan judul seperti “Ketika Alay Putus Cinta, 3X Bunuh Diri Nggak Mati-Mati” atau “Cowok Nyolong HP, Ketangkep Digebukin Ampe Jontor Bibirnya”.  

Seperti disebut dalam riset Diyah, penggunaan kata-kata sederhana tersebut disukai pembaca. Ini yang membuatnya tetap bisa bertahan meski banyak kalangan terutama para peneliti dan akademisi yang mempertanyakan kualitas jurnalismenya. Ironisnya, jenis pemberitaan dengan model tersebut kini banyak ditiru oleh media-media daring. Tujuannya tentu mendapatkan banyak klik meski harus mengorbankan etika jurnalistik. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)  

Bacaan Terkait
Populer
Di Balik Wangi Pemberitaan Meikarta
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Kekerasan Seksual di Media
Televisi Dieksploitasi, KPI Bergeming