Ilustrasi: Gregory Gruber/CC-BY-NC
Ilustrasi: Gregory Gruber/CC-BY-NC
09/09/2016
Generasi Jurnalis yang Hilang
Perubahan lanskap industri media memiliki pengaruh yang signifikan terhadap para pekerjanya.
09/09/2016
Generasi Jurnalis yang Hilang
Perubahan lanskap industri media memiliki pengaruh yang signifikan terhadap para pekerjanya.

Kehadiran teknologi komunikasi yang berkembang pesat telah mengubah secara drastis industri suratkabar. Perkembangan tersebut tidak hanya mengubah model bisnis, merosotnya industri suratkabar, melainkan juga mempengaruhi kondisi para jurnalis di berbagai media. Masa-masa transisi dari cetak ke digital juga akan menentukan seperti apa wajah jurnalisme dan media di masa depan.

Buku Journalism’s Lost Generation: The Un-Doing of U.S. Newspaper Newsrooms (2016) yang ditulis oleh Scott Reinardy, profesor jurnalisme di University of Kansas, menunjukkan pengaruh dramatis tersebut terhadap para jurnalis di Amerika Serikat. 

Buku yang merupakan riset selama 10 tahun tersebut berisi analisis atas wawancara dengan ratusan jurnalis di berbagai suratkabar dan kurang lebih 500 survei yang dilakukan. Dari sana Reinardy mengupas tentang kolapsnya industri media, beban kerja dan kepuasaan jurnalis, kualitas jurnalisme, termasuk juga tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan. 

Reinardy menyimpulkan bahwa dalam transisi teknologi internet, memunculkan generasi jurnalis yang hilang. Reinardy menyebut generasi jurnalis yang hilang ini setidaknya terdiri dari tiga bagian. Pertama, para jurnalis yang memutuskan mundur dari pekerjaannya baik karena alasan personal maupun dipecat oleh perusahaan media yang terus merugi. Kedua, para jurnalis tua yang biasanya sudah bekerja di media tersebut lebih dari 20 tahun. Ada perubahan kultur yang drastis dan sulit diikuti oleh para jurnalis tua ini. Ketiga, jurnalis-jurnalis muda yang baru bergabung. Seperti disebut Reinardy, anak-anak muda ini ramah dengan penguasaan teknologi multimedia dan media sosial. Namun ketika dihadapkan pada kualitas jurnalisme ala suratkabar lawas, mereka gagap. Misalnya saja ketika dihadapkan untuk melakukan liputan-liputan panjang dan mendalam.

Beberapa jurnalis yang diwawancara Reinardy mengeluh karena perusahaan medianya banyak memecat reporter untuk alasan penghematan, sementara di saat yang bersamaan beban kerja mereka justru bertambah. Yang menjadi catatan juga mereka tidak hanya dituntut harus bisa menulis tetapi juga harus bisa menggunakan produk multiplatform seperti media sosial.

Survey yang dilakukan Reinardy di tahun 2014 juga menunjukkan bahwa eksodus jurnalis-jurnalis yang mundur atau pindah profesi ikut mempengaruhi komposisi jurnalis perempuan di ruang redaksi. 1.686 jurnalis perempuan di 124 suratkabar yang disurvey menyebut bahwa mereka akan beralih pekerjaan dalam rentang lima tahun ke depan. Sebagian di antaranya berusia 25-30 tahun. Tiga perempat di antaranya tidak menjadikan pekerjaan jurnalis sebagai karir jangka panjang. Data ini yang disebut Reinardy bisa mengancam keberagaman pandangan di suratkabar-suratkabar khususnya dalam isu-isu gender. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"
Langkah Mundur KPI dalam Revisi P3SPS