Ilustrasi: pixelcreatures/CC0 1.0
Ilustrasi: pixelcreatures/CC0 1.0
02/09/2016
Analisis Kolom Komentar Berita
Lebih dari sembilan juta komentar pembaca berita New York Times dianalisis. Upaya menjaga hubungan baik dengan pembaca secara bisnis dan memberi ruang partisipasi demokratis warga.
02/09/2016
Analisis Kolom Komentar Berita
Lebih dari sembilan juta komentar pembaca berita New York Times dianalisis. Upaya menjaga hubungan baik dengan pembaca secara bisnis dan memberi ruang partisipasi demokratis warga.

Kolom komentar yang biasanya terletak di bawah sebuah berita, barangkali bukan menjadi satu hal yang penting bagi media-media di Indonesia. Alih-alih menjadi ruang diskusi, kolom ini justru kerap menjadi ruang bagi bot, spam, atau iklan produk-produk tertentu. Karena itu kehadirannya dilewatkan begitu saja oleh para pembaca. Namun siapa mengira jika dari kolom komentar tersebut, sebuah media bisa sampai mengubah kebijakan redaksi termasuk sikap wartawan-wartawannya?

Untuk ini kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh The New York Times. Bekerjasama dengan Engaging News Project, portal berita tersebut menganalisis 9.616.111 komentar yang terbit antara 30 Oktober 2007—tanggal ketika pertama kali The New York Times mengijinkan pembaca untuk memberi komentar di bawah artikelnya—hingga 13 Agustus 2013. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kolom komentar dikelola secara serius sebagai bentuk partisipasi pembaca terhadap artikel-artikel yang diterbitkan The New York Times.

Salah satu temuan yang menarik adalah naik-turunnya jumlah komentar dalam satu minggu. Para pembaca The New York Times paling banyak memberikan komentar di hari Rabu, yakni 17% dari keseluruhan komentar. Jumlah ini diikuti oleh hari Selasa (16,5%), Kamis (16,5%), dan Senin (14,7%). Akhir pekan justru mendapat jumlah komentar yang sedikit, yakni 9,8% untuk hari Sabtu dan Minggu.

Sebelum ditampilkan di bawah tiap artikel, setiap komentar harus mendapatkan persetujuan dari moderator yang terdiri dari para jurnalis The New York Times. Hal ini dilakukan untuk menghindari komentar-komentar yang bernada melecehkan, rasis, dan kasar. Selain itu, moderasi juga dilakukan untuk memilah apakah komentar diberikan oleh akun asli atau tidak.

Moderasi komentar yang ketat membuat komentar-komentar yang ditampilkan menarik untuk dibaca, karena kerap memberikan perspektif yang berbeda dari isi artikel. Untuk beberapa komentar yang dianggap terbaik, The New York Times akan menampilkannya dalam rubrik “NYT Picks”. Dari temuan penelitian di atas, hal ini membuat orang yang komentarnya terpilih akan cenderung aktif memberikan komentar-komentar lain.

Riset Engaging News Project juga menunjukkan bahwa kolom komentar tidak diabaikan begitu saja oleh para jurnalis. Lebih dari itu, para jurnalis terlibat dan berinteraksi dengan para komentator khususnya terkait artikel yang mereka tulis. Selain itu, dari temuan yang ada interaksi antara jurnalis dan pembaca akan meminimalisir komentar-komentar bernada kasar yang kerap muncul karena kesalahpahaman membaca berita.

Dalam salah satu kesimpulan riset tersebut, kolom komentar diibaratkan sebagai hutan belantara. Lalu-lintas komentar dari orang-orang yang tidak dikenal muncul begitu saja. Namun, mengelolanya dengan serius adalah salah satu cara untuk menjaga hubungan baik dengan pembaca (secara bisnis) dan membuka partisipasi demokratis warga. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan