Ilustrasi: StockMonkeys.com/ CC-BY
Ilustrasi: StockMonkeys.com/ CC-BY
11/08/2016
Amplop untuk Jurnalis
Banyak faktor yang menyebabkan budaya amplop di kalangan jurnalis masih tinggi, dari profesionalisme sampai rendahnya kesejahteraan.
11/08/2016
Amplop untuk Jurnalis
Banyak faktor yang menyebabkan budaya amplop di kalangan jurnalis masih tinggi, dari profesionalisme sampai rendahnya kesejahteraan.

Salah satu problem jurnalisme di Indonesia adalah fenomena amplop untuk jurnalis yang sudah berjalan puluhan tahun. Angela Romano dalam“Bribes, Gifts, and Grafts in Indonesian Journalism (2000)  mengatakan bahwa tradisi amplop sulit dihilangkan karena upaya untuk menghilangkan budaya amplop sering gagal karena kebijakan baik yang dikeluarkan oleh perusahaan media, Dewan Pers, bahkan pemerintah sering ambigu.

Hal ini tercermin dari tingkat kesejahteraan jurnalis yang rendah, mengakarnya budaya amplop di kalangan jurnalis senior dengan melibatkan jumlah besar sehingga membuat jurnalis-jurnalis yang lebih muda mengikutinya. Ditambah lagi, narasumber pun cenderung menganggap pemberian amplop sebagai sesuatu yang lazim sehingga kerap melakukannya. Apa yang disebutkan Romano tersebut juga dikonfirmasi oleh Rafiudina. Dalam publikasi penelitian berjudul Wartawan dalam Kepungan Suap: Kuasa Amplop Narasumber dalam Habitat Wartawan (2013), ia menyebut bahwa sikap jurnalis dalam isu ini terpecah. Ada yang menolak karena Kode Etik Jurnalistik (KEJ) melarang, namun tidak sedikit yang menerima karena menganggap pemberian adalah rejeki tambahan.

Rafiudina sendiri meneliti tentang perilaku jurnalis di Semarang. Ia mewawancarai berbagai pihak yang berkaitan dengan fenomena ini yaitu jurnalis di lapangan, orang yang biasa menjadi narasumber di media, organisasi profesi jurnalis, dan pengelola perusahaan media. Terpecahnya pendapat para jurnalis juga muncul karena bervariasinya pemahaman mengenai amplop.

Survei yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen tahun 2005 menunjukkan bahwa 65% jurnalis menganggap pemberian berbentuk barang seperti alat perekam suara, telepon genggam, dan sebagainya, sebagai amplop. Lebih jauh lagi, sedikit yang memahami pemberian amplop adalah sebentuk suap yang sangat mungkin mempengaruhi isi berita yang ditulis. Kamus Besar Bahasa Indonesia juga mengartikan amplop sebagai “uang sogok” selain sebagai “sampul surat”. 

Pemahaman yang terpecah tersebut sebenarnya juga menunjukkan bahwa sebagian jurnalis masih menoleransi pemberian amplop, meskipun definisi amplop juga masih banyak dimaknai sebagai uang belaka. Sebagai contoh, tahun 1989, jurnalis Kompas EH Kartanegara pernah melakukan riset soal fenomena amplop dalam jurnalisme. Hasil riset yang kemudian ditulis dalam artikel berjudul “Amplop, Obat untuk Wartawan” itu menunjukkan bahwa dari 82 jurnalis yang diwawancara, sebanyak 76 atau 92% responden mengaku menerima amplop.

Tidak hanya jurnalis di media-media arus utama saja yang menerima amplop. Salah satu faktor yang menyuburkan amplop juga maraknya para jurnalis “bodrex” yang hanya mengaku bekerja sebagai jurnalis. Mengacu pada Christopher Torchia dalam Indonesia Idioms and Expressions (2007), istilah bodrex ini sendiri datang dari obat sakit kepala. Pada dekade 1970-1980, iklan bodrex ini populer di TVRI dan punya jargon, “datang, menyerang, menang.” Jadi para jurnalis “bodrex” ini datang berombongan ke suatu acara dan meminta amplop kepada panitia atau sumber berita. Dari sini kemudian disebut bahwa para jurnalis bodrex ini sering bikin pusing sumber berita. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Di Balik Tren Tayangan Impor
LGBT dalam Media Indonesia
Membaca Media Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama