25/06/2016
Perilaku Netizen di Media Sosial
University College London mempublikasikan riset tentang karakter pengguna media sosial di 8 negara. Banyak hal menarik yang bisa dipelajari.
25/06/2016
Perilaku Netizen di Media Sosial
University College London mempublikasikan riset tentang karakter pengguna media sosial di 8 negara. Banyak hal menarik yang bisa dipelajari.

Pernahkah Anda menghapus atau dihapus pertemanan (unfriend) dengan orang lain di media sosial karena perbedaan pandangan politik? Kalau iya, tidak perlu khawatir, fenomena unfriend di media sosial karena beda sikap politik bukan khas netizen Indonesia. Hal ini juga terjadi di banyak negara.

Daniel Miller dkk., dalam buku How the World Changed Social Media (2016) meneliti karakteristik 1199 netizen di 8 negara, yaitu Brazil, Chile, China, India, Italia, Trinidad, Turki, dan Inggris. Salah satu temuannya, tindakan unfriend karena perbedaan sikap politik menunjukkan seberapa besar publik terlibat dalam isu-isu politik dalam perbincangan sehari-hari di media sosial. Di Turki, misalnya, angka unfriend yang begitu tinggi menunjukkan bahwa politik tidak hanya penting tetapi juga sensitif.

Di Turki, terdapat 62% responden yang mengaku pernah menghapus pertemanan dengan orang lain di media sosialnya. Sebaliknya, hanya 38% yang tidak pernah melakukan hal tersebut. Di China, khususnya di daerah pedesaan, hanya 40% saja yang mengaku pernah melakukannya. Angka yang tinggi ini berbanding terbalik dengan kondisi di Brazil dan Italia dengan masing-masing hanya 10% dan 17% responden saja yang pernah menghapus pertemanan. Pada dua negara ini, sebagian besar publik jarang membahas persoalan-persoalan politik di media sosial.

Temuan menarik lainnya, rata-rata netizen di 9 negara yang diteliti memiliki jumlah teman akun Facebook kurang dari 1000 orang. Di Chile, seorang pemilik akun Facebook rata-rata memiliki 529 teman, Brazil 573 teman, Trinidad 674 teman, India 361 teman, Inggris 350 teman, Italia 537 teman, Turki 340 teman, sementara di China—yang disurvei adalah pengguna Tencent QQ karena Facebook dilarang—penduduk yang tinggal di pedesaan rata-rata berteman dengan 181 akun dan yang tinggal di perkotaan berteman dengan 325 akun.

Di Inggris, angka rata-rata pertemanan terhitung kecil karena sebagian besar warganya enggan berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal secara langsung (offline). Salah satu penyebabnya adalah banyaknya berita negatif di media-media Inggris tentang berhubungan dengan orang asing khususnya di media sosial.

Sementara itu, meski rata-rata jumlah pertemanan para pemilik akun Facebook di Italia terhitung banyak dibanding negara-negara lain yang di teliti, 54% responden menyebut bahwa sebagian besar teman mereka di Facebook adalah teman-teman yang mereka kenal dan berasal dari daerah kelahiran—biasa disebut amici. Hal ini terjadi karena sebagian besar responden menganggap bahwa media sosial tidak selalu harus menjadi ruang untuk menambah pertemanan dengan orang asing. Ketika mereka berkenalan dengan orang baru pun sebagian besar di antaranya cenderung tidak berharap bisa berteman di media sosial.

Ketika dihubungkan dengan kebahagiaan menggunakan media sosial, hanya responden dari China saja yang mayoritas mengaku bahagia selama berinteraksi di media sosial. Di pedesaan China, jumlah pengguna media sosial yang mengaku bahagia sejumlah 52 sementara di perkotaan angkanya mencapai 68%. Sementara di 7 negara lainnya mayoritas responden menilai media sosial tidak berarti banyak bagi kebahagiaan mereka. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Ketika Jurnalis Tertipu
Lintang Ratri: Ada Eksploitasi Anak dalam Sinetron Televisi
Ketika Kekerasan “Direstui” dalam Sinetron Remaja
Soeharto, sang Pahlawan Buatan Media Massa
Usulan Remotivi atas Calon Komisioner KPI 2016-2019