Ilustrasi: "Lies", tq2cute (flickr.com/tq2cute)
Ilustrasi: "Lies", tq2cute (flickr.com/tq2cute)
22/06/2016
Ketika Jurnalis Tertipu
Semakin banyak media-media besar yang menulis berita-berita hoax. Akibat minimnya verifikasi sumber.
22/06/2016
Ketika Jurnalis Tertipu
Semakin banyak media-media besar yang menulis berita-berita hoax. Akibat minimnya verifikasi sumber.

 

 

Judul dan isi berita “Marlboro Jual Rokok Ganja” yang ditulis Tempo.co itu kini sudah diganti. Awalnya, berita itu berisi keterangan bahwa perusahaan rokok Marlboro telah menjual rokok ganja dan sudah tersedia di berbagai gerai khusus berlisensi. Ternyata berita itu hoax, sumber awal berita itu adalah situs parodi Abril UnoSetelah menyadari kesalahannya, Tempo.co meralat dan memberikan keterangan di berita yang baru.    

Di waktu yang lain, Kompas.com menulis berita tentang seorang perempuan yang rela ditiduri laki-laki agar ia bisa keliling dunia. Tapi ternyata itu juga berita bohong. Itu adalah cerita yang difabrikasi oleh sebuah perusahaan aplikasi telepon genggam. Tidak ada keterangan penjelas di berita Kompas.com yang menyebut bahwa berita tersebut palsu.  

Fenomena tersebut bukan gejala khas jurnalisme daring di Indonesia saja, tetapi melanda di media-media di berbagai negara. Dalam risetnya yang berjudul Lies, Damn Lies, and Viral Content Craig Silverman menyebutkan bahwa banyak media besar bisa tertipu berita-berita palsu. Ia memberikan contoh ketika terjadi kasus penculikan puluhan mahasiswa di Meksiko diculik pada 2014 lalu.

Beberapa waktu setelah puluhan mahasiswa diculik, banyak media yang memberitakan telah ditemukannya kuburan massal yang terdapat jenazah para mahasiswa tersebut. Media-media seperti CNN, Guardian, BBC, Time, dan Washington Post ikut memberitakannya. Belakangan, ketika sudah dilakukan tes DNA ternyata jenazah-jenazah tersebut tidak sesuai dengan kelompok mahasiswa yang dimaksud.  

Ironisnya, banyak media yang keliru memberitakan tersebut tidak menulis berita lanjutan. Washington Post misalnya, di awal kejadian menulis tiga berita terkait penemuan kuburan tersebut, namun hanya menuliskan satu berita untuk meralatnya. Time dan CNN bahkan tidak memberikan ralat sama sekali. Dari temuan tersebut dan juga pada isu-isu lain, Craig Silverman menjelaskan setidaknya ada 2 catatan tentang bagaimana media merespon berita-berita hoax atau palsu.

Pertama, dengan melakukan update atau follow up. Update berarti media meralat kesalahan langsung di berita pertama, sementara follow up berarti membuat berita baru dan tetap membiarkan berita lama yang keliru. Kedua, media cenderung untuk memperbaiki berita yang segera diketahui kesalahannya dalam waktu 24 jam setelah dipublikasikan. Sementara media yang rata-rata baru sadar bahwa ada kesalahan dalam pemberitaannya, cenderung tidak meralat atau memperbaiki berita tersebut. 

Craig Silverman juga menyebut bahwa fenomena ini bukan hal yang mengejutkan. Ia dikendalikan oleh model bisnis media digital, teknik optimasi mesin pencari, serta berbagai faktor yang membuat media harus menampilkan berita yang punya kecenderungan viral tinggi di media sosial. Kondisi psikologis jurnalis dalam situasi semacam ini dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai media satire atau kelompok-kelompok yang memfabrikasi sebuah isu.

Menariknya, beberapa media sadar dengan kecenderungan yang negatif terhadap dunia jurnalisme ini dan mulai memikirkan strategi untuk memperbaikinya. Salah satunya dengan memberikan ruang khusus bagi para pemeriksa fakta. Di Swedia misalnya, media Metro memiliki rubrik khusus bernama Viralgranskaren yang dikelola oleh tiga wartawannya. Tugas mereka adalah membongkar dan memeriksa fakta berbagai berita yang menjadi viral di media-media di Swedia. Washington Post juga memiliki kolom khusus bernama “What was fake on the internet this week” untuk melihat berita-berita palsu yang kadung populer di media sosial. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo) 

Bacaan Terkait
Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Televisi dalam Keseharian Orang Inggris