Sumber: https://womennewsnetwork.net/2011/02/04/is-religion-a-force-for-good/
Sumber: https://womennewsnetwork.net/2011/02/04/is-religion-a-force-for-good/
30/05/2016
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Reuters Institute mengeluarkan survey yang menjelaskan pandangan jurnalis di Inggris terkait agama. Sebagian besar jurnalis kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin agama.
30/05/2016
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Reuters Institute mengeluarkan survey yang menjelaskan pandangan jurnalis di Inggris terkait agama. Sebagian besar jurnalis kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin agama.

Di Inggris, jumlah jurnalis yang mengaku tidak beragama jauh lebih besar dibanding mereka yang mengaku memeluk agama atau keyakinan tertentu. Neil Thurman, Alessio Cornia, And Jessica Kunert dari  Reuters Institute yang melakukan survey atas 700 jurnalis di Inggris menyebutkan bahwa 61,1% jurnalis mengaku tidak beragama, sementara sisanya memeluk agama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Yahudi, dan sebagainya.

Ketika ditanya seberapa besar tingkat religius mereka, hanya 4% jurnalis yang menjawab sangat religius, sementara 39% menjawab tidak religius, dan 37% menjawab sama sekali tidak religius. Tingginya angka jurnalis yang menjawab tidak beragama ini juga berimplikasi pada rendahnya tingkat kepercayaan mereka ketika menjadikan pemimpin agama sebagai narasumber berita. Salah satu alasannya karena sebagian jurnalis percaya para pemimpin agama bisa jadi terlibat penyalahgunaan kekuasaan.

Menariknya, ketika dihadapkan pada data tersebut, sebagian pemimpin agama di Inggris tidak melihatnya sebagai satu hal yang negatif. Juru bicara Dewan Hindu yang diwawancara dalam riset ini menyebut bahwa “pluralisme religius, termasuk kesetaraan untuk atheis, adalah kunci untuk perdamaian di masa depan. Melakukan hal yang benar seperti meliput secara akurat dan merefleksikan fakta-fakta tanpa kekuasaan dan prasangka menjadi faktor yang penting.”

Dalam isu religiusitas jurnalis, temuan riset ini bertolak belakang dengan survey yang dilakukan di Indonesia oleh Yayasan Pantau pada 2012. Dalam survey atas 600 jurnalis di 16 provinsi  tersebut, 43,4% jurnalis mengaku sebagai sosok muslim religius, sementara 32,6% jurnalis mengaku sekuler. Dalam hal fungsi media, 84,3 % jurnalis bahkan menyebut bahwa media memiliki fungsi untuk mendorong nilai-nilai agama.

Sementara itu, ada beberapa temuan lain yang bisa dipelajari dari riset Reuters Institute. Di antaranya adalah jumlah jurnalis di suratkabar yang menurun drastis, berbanding terbalik dengan jurnalis di media daring (online) yang meningkat tajam. Pada 2012, jumlah jurnalis yang bekerja di suratkabar mencapai 56 % dan menurun di tahun 2016 menjadi 44 %. Sedangkan bagi jurnalis yang bekerja di media daring jumlah kenaikannya mencapai dua kali lipat, dari 26 % pada 2012 menjadi 52 % pada 2016.

Dari temuan Reuters Institute, saat ini jumlah jurnalis yang bekerja paruh waktu maupun penuh waktu di media daring Inggris diperkirakan sebesar 30.000 orang. Ironisnya, jumlah bayaran yang mereka dapatkan secara rata-rata lebih sedikit dibanding jurnalis yang bekerja di suratkabar. Sebagian besar jurnalis tersebut rata-rata memproduksi 10 berita selama satu minggu, dan jumlahnya bisa dua kali lipat untuk mereka yang bekerja di media daring.

Sebesar 53% dari keseluruhan jurnalis memiliki spesialisasi tema di berbagai bidang. Bidang yang dominan adalah bisnis, budaya, olahraga, dan hiburan. Sementara spesialisasi dalam bidang politik, ilmu pengetahuan, dan agama lebih sedikit.

Riset Reuters Institute ini juga menyebutkan bahwa sebagian besar jurnalis merasa jurnalisme di Inggris telah kehilangan kredibilitasnya. Sebesar 50% jurnalis berpendapat bahwa kredibilitas jurnalisme anjlok, sementara hanya 7% yang bilang bahwa kredibilitas dunia yang mereka geluti itu naik. Ada banyak faktor penyebab turunnya kepercayaan jurnalis ini, dari mulai kepentingan ekonomi politik yang mempengaruhi ruang redaksi sampai tingkat akurasi sebuah berita. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?