George Hodan/Public Domain
George Hodan/Public Domain
08/04/2016
Senjakala Berita Televisi
Riset terbaru yang dirilis Reuters Institute menunjukkan bahwa angka penonton berita di televisi menurun drastis. Industri televisi butuh beradaptasi dengan media digital dan generasi millenial.
08/04/2016
Senjakala Berita Televisi
Riset terbaru yang dirilis Reuters Institute menunjukkan bahwa angka penonton berita di televisi menurun drastis. Industri televisi butuh beradaptasi dengan media digital dan generasi millenial.

Jika dibandingkan dengan media cetak, keberadaan televisi bisa dibilang lebih tahan perkembangan zaman. Hal ini bisa dilihat dari tetap kokohnya industri pertelevisian di tengah gelombang tutupnya media cetak di berbagai negara. Namun tampaknya fakta ini tidak akan bertahan lama lagi. Meski masih menjadi media yang penting, televisi pelan-pelan tergerus media digital.

Beberapa indikasi yang bisa dilihat misalnya, sejak 2012, jumlah penonton televisi di Amerika Serikat dan Inggris secara umum rata-rata menurun 3-4 % setiap tahun. Rasmus Kleis Nielsen dan Richard Sambrook bahkan menyebut penurunan lebih drastis terjadi pada tayangan-tayangan berita di televisi.

Angka penurunannya sejajar dengan angka penurunan pembaca media cetak. Tayangan “ITV Evening News” di Inggris misalnya, ditonton sekitar 3,4 juta orang pada 2010. Namun pada 2015 angka itu anjlok drastis sampai menjadi 2 juta. Dalam periode yang sama, di Jerman, jumlah penonton tayangan berita “RTL Aktuel” turun dari angka 4 juta menjadi 3,3 juta. Sementara tayangan “TF1 20 Heures” di Prancis turun dari 6, 7 juta menjadi 6 juta.

Usia rata-rata penontonnya pun, seperti pembaca media cetak, lebih tua dibanding keseluruhan populasi. Di Amerika Serikat misalnya, usia rata-rata penonton Fox News adalah 67 tahun, MSNBC 63 tahun, dan CNN 61 tahun. Sebagai perbandingan, usia rata-rata pembaca koran New York Times adalah 60 tahun.

Riset terbaru yang dirilis oleh Reuters Institute for the Study of Journalism juga menyebut anjloknya jumlah penonton televisi ini berbanding terbalik dengan meningkatnya akses terhadap media digital khususnya yang diakses melalui telepon genggam oleh anak-anak muda. Di Inggris, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh anak-anak muda dalam menonton televisi juga mengalami penurunan.

Untuk usia 16-24, rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi mengalami penurunan 21 %.  Pada 2012 rata-rata mereka menghabiskan waktu 157 menit per hari, sementara pada 2015 menjadi 124 menit per hari. Pada waktu dan dalam rentang usia yang sama, angka penurunan rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi malah mencapai 29%. Salah satu penyebabnya adalah karena anak-anak muda ini menghabiskan banyak waktu untuk melihat video melalui komputer personal, tablet, atau telepon genggam, alih-alih televisi konvensional seperti yang dilakukan oleh orang tua mereka.

Dalam konteks tayangan berita, beberapa media seperti AJ+, BuzzFeed, dan NowThisNews menjadi populer karena bisa menjangkau anak-anak muda tersebut. Salah satu caranya dengan menyediakan video-video berita yang mudah diakses melalui media sosial seperti Facebook, Youtube, juga aplikasi khusus. Pada 2015 misalnya, AJ+ sudah mendapatkan 2,8 juta penyuka (likes) dan videonya disaksikan 2,2 juta penonton di Facebook. Angka penonton yang sama juga didapatkan oleh BuzzFeed yang menyebarkan video-video beritanya di berbagai platform media sosial.

Dari fakta-fakta tersebut, televisi memang masih akan menjadi sumber informasi berita yang penting terutama bagi orang tua atau yang kerap disebut generasi  X (mereka yang lahir tahun 1965-1976). Namun jika stasiun televisi tidak tidak beradaptasi dengan perkembangan media digital dan anak-anak muda, kehadiran tayangan-tayangan beritanya pelan-pelan akan menjadi tidak relevan lagi. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"