29/12/2015
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Situasi ekonomi dan perkembangan media digital di Indonesia membuat koran-koran berguguran.
29/12/2015
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Situasi ekonomi dan perkembangan media digital di Indonesia membuat koran-koran berguguran.

Beberapa tahun terakhir, pernyataan bahwa media cetak akan menemui senjakalanya semakin marak disampaikan. Di banyak negara, media-media besar tumbang dan memutuskan berhenti terbit. Di Indonesia, fakta semacam itu kerap dikesampingkan dengan melihat akses pembaca media cetak yang masih tinggi. Masih jarang penelitian di Indonesia yang bisa menunjukkan bahwa media cetak memang menemui saat-saat terakhirnya.

Namun di tahun 2015, satu-satu media cetak berguguran. Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kenyataan ini tentu sungguh dramatis. Dalam catatan akhir tahunnya, Aliansi Jurnalis Independen merujuk data Nielsen yang menyebutkan bahwa dari 117 surat kabar yang dilihat, 16 unit media telah gulung tikar pada 2015. Sementara untuk majalah dari 170 kini menyisakan 132 majalah. Beberapa media cetak yang berhenti terbit di antaranya adalah:

Sinar Harapan

Secara resmi, Sinar Harapan akan mengakhiri penerbitannya baik cetak maupun daring pada 1 Januari 2016. Dari beberapa media cetak yang berhenti terbit tahun ini, Sinar Harapan adalah yang paling tua usianya. Koran ini merupakan salah satu dari 3 imperium media besar (selain grup Kompas dan Tempo) di dekade 1980an. Dalam catatan David Hill di buku Pers di Masa Orde Baru (2011), di dekade 1970an, koran ini menjadi media dengan jumlah eksemplar dan penerimaan ikan terbesar kedua setelah Kompas.

Setidaknya empat kali media ini diberedel. Pertama di tahun 1965, 2 hari setelah peristiwa 30 September, tahun 1973 ketika memberitakan informasi tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tahun 1978 ketika menerbitkan berita-berita seputar pemilu yang dianggap membuat situasi politik tidak stabil, dan beredel keempat di tahun 1986. Sinar Harapan menjadi media pertama yang diberedel di bawah aturan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang baru dan baru terbit lagi tahun 2001.

Harian Bola

Harian Bola terbit 7 Juni 2013. Sementara harian ini diterbitkan, pengelolanya juga masih menerbitkan Tabloid Bola yang pernah menjadi media olahraga terbesar di Indonesia. Dalam pengantar edisi terakhir terbit pada 31 Oktober 2015, redaksinya menulis bahwa “mengelola Harian Bola sungguh pengalaman indah dan mengasyikan, keindahan dan keasyikan itu juga pasti dirasakan oleh pembaca, pelanggan, dan rekan bisnis kami tercinta selama sekitar 2,5 tahun terakhir ini.”

Menariknya, tutupnya Harian Bola ini diikuti dengan pemecatan terhadap wartawan-wartawannya yang kemudian membuat situsweb bolaperjuangan.com. Situsweb ini berisi pengalaman-pengalaman wartawan Bola termasuk juga keputusan menerbitkan Harian Bola yang dianggap sebagai keputusan yang salah.

Jakarta Globe

Koran berbahasa Inggris yang pertama kali terbit pada 12 November 2008 ini akhirnya memutuskan untuk menghentikan edisi cetaknya yang terakhir terbit pada 15 Desember 2015. Dalam pengantar redaksi berjudul ”A Last Hurrah.. And a New Beginning”, tidak dijelaskan alasan mengapa Jakarta Globe memutuskan berhenti terbit. Hanya sedikit disinggung tentang perjuangan mereka menerbitkan edisi cetak selama 7 tahun belakangan. Setelah memutuskan berhenti terbit, Jakarta Globe akan fokus dalam edisi daring.

Koran Tempo Minggu

Tidak ada penjelasan yang resmi dari Koran Tempo kenapa sejak 11 Oktober 2015 edisi hari Minggu dihentikan penerbitannya. Hanya ada email kepada para pelanggannya yang menyebut bahwa edisi hari Minggu akan digabung dengan edisi hari Sabtu. Dalam artikel di Pindai.org, pemimpin redaksi Koran Tempo Daru Priyambodo menyebut bahwa oplah cetak mereka untuk hari kerja dan hari Minggu njomplang. Pada hari kerja, oplah berkisar stabil di angka 80-90 ribu eksemplar, sementara di hari Minggu hanya berkisar di angka 60 ribu eksemplar. Kondisi ini membuat sulitnya pihak Koran Tempo menopang ongkos produksi cetak yang terus meningkat. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Di Balik Wangi Pemberitaan Meikarta
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Kekerasan Seksual di Media
Televisi Dieksploitasi, KPI Bergeming
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan