Rubrik "Konsultasi" koran Kompas asuhan Leila Ch. Budiman, 13 Agustus 1989
Rubrik "Konsultasi" koran Kompas asuhan Leila Ch. Budiman, 13 Agustus 1989
07/08/2015
LGBT dalam Media Indonesia
Pembicaraan tentang keragaman orientasi dan identitas seksual memang musykil. Media masih terus memperdebatkannya sejak tahun 1970an.
07/08/2015
LGBT dalam Media Indonesia
Pembicaraan tentang keragaman orientasi dan identitas seksual memang musykil. Media masih terus memperdebatkannya sejak tahun 1970an.

Pada 26 Juni lalu, pemerintah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis. Putusan ini disambut silang pendapat pro dan kontra di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Berbagai macam media massa ikut serta membicarakannya, dengan nada yang bermacam pula. TV One, pada 6 Juli lalu, bahkan menyelenggarakan debat tentang hak LGBT Indonesia.

Wacana homoseksualitas dan LGBT pada umumnya sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tom Boelstorff (2005) mencatat, istilah gay dan lesbi sebagai kategori orientasi seksual mulai muncul pada tahun 1970an. Sebelumnya, praktik homoseksual sudah terserap dalam kebudayaan lokal dalam bentuk ritual-ritual, seperti bissu dalam masyarakat Bugis atau relasi warok-gemblak dalam tradisi reog Ponorogo.

Perbincangan-perbincangan awal tentang homoseksualitas di media pun cukup beragam. Kompas edisi Sabtu 27 Mei 1970 misalnya, memuat sebuah artikel di halaman utama berjudul “Homosex Tidak Dilarang Oleh Undang-Undang Kita”. Wartawan yang menulis artikel itu mengutip omongan Yap Thian Hien yang mengatakan bahwa homoseksualitas adalah bagian dari hak asasi.

Kompas juga memiliki rubrik konsultasi yang diasuh oleh psikolog Leila Ch Budiman, yang sering kali melayani konsultasi tentang homoseksualitas. Tema yang dibahas merentang dari persoalan-persoalan personal kelompok homoseksual sampai problem sosial yang mereka hadapi. Edisi “Menjadi Homo dan Biseks” (2 Februari 1986) misalnya, memicu perdebatan lanjutan. Dalam edisi tersebut Leila menjawab dua pertanyaan dua orang yang berbeda. Pertama, seorang bapak rumah tangga yang pelan-pelan berubah menjadi gay karena lingkungan pergaulan. Juga seorang pelajar SMA yang “semula normal, menjadi gay biseks, dan bertekad menjadi normal kembali”.

Bahkan TVRI, yang menjadi media pemerintah Orde Baru, pernah menampilkan film bertema homoseksualitas berjudul The Glitter Palace pada 27 Juni 1981. Film tersebut berkisah tentang ketakutan-ketakutan yang dialami oleh kelompok LGBT dalam kehidupan sehari-hari.

Wacana tentang homoseksualitas ini semakin marak ketika, pada tahun 1990an, disebut sebagai salah satu penyebab terjangkit penyakit AIDS. Kompas 27 November 1991 memuat wawancara dengan Dede Oetomo yang saat itu menjadi ketua Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN). Dede berseloroh, "Untung saya sendiri belum kena AIDS. Ini hasil tes darah yang saya lakukan di AS tahun 1988. Saya dulu ganti-ganti cowok, tapi sekarang saya monogami." Selain menanggapi soal AIDS, dalam wawancara tersebut Dede juga menceritakan tentang kehidupannya dengan pasangannya yang seperti pasangan hetero. “Ada rasa cemburu, cinta, bahkan tak jarang ngambek”.

Sehari berikutnya, wawancara ini mendapat respon dari seorang pembaca bernama Suryadi Azharie yang menulis surat pembaca, isinya mengapresiasi Dede yang berani terbuka mengungkapkan diri sebagai gay. Namun, pada sisi lain, Suryadi mengkhawatirkan bahwa tulisan tersebut akan menggiring kawula muda untuk beramai-ramai menjadi gay.

Perbincangan tentang LGBT di televisi mulai mengemuka ketika, pada 1995, RCTI mengirimkan surat edaran ke rumah-rumah produksi. Surat edaran itu berisi larangan untuk "menampilkan peran bencong, gaya, atau dandanan kebencong-bencongan". Kebijakan pelarangan tersebut dikeluarkan, "Agar perkembangan mental anak dan generasi muda tidak seperti kebencong- bencongan".

Sebelumnya, peran waria di televisi sendiri menemui mulai marak sejak tayangan komedi “Lenong Rumpi” di RCTI. Tayangan tersebut melejitkan nama Ade Libertifa, yang kemudian mengubah namanya menjadi Ade Juwita. Ade menjadi trendsetter bagi peran waria di tayangan televisi dengan rambut kriwil dan warna kulit yang hitam legam. Selain Ade Juwita, ada juga Tata Dado yang juga populer dengan peran waria di tayangan tersebut. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)

Bacaan Terkait
Populer
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Di Balik Tren Tayangan Impor
Amplop untuk Jurnalis
Membaca Media Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama