Pada 2007, Susan Greenberg dalam artikel berjudul Slow Journalism mengajukan ide tentang apa yang disebut sebagai Jurnalisme Perlahan. Staf pengajar penulisan non-fiksi di Universitas Roehampton, Inggris, ini mendefinisikan Jurnalisme Perlahan sebagai tulisan esai, reportase, dan karya non-fiksi lainnya yang membutuhkan banyak waktu untuk dikerjakan, memberikan perhatian pada cerita-cerita yang dilewatkan kebanyakan media, dan memiliki standar kualitas tulisan yang tinggi. Greenberg menyebutnya serupa denganslow food movement yang menjadi perlawanan terhadap keberadaan fast food.

Belakangan, istilah Jurnalisme Perlahan semakin populer di tengah serba cepatnya mediaonline mengalirkan arus informasi. Sebagaimana dituturkan oleh Susan Goldberg, Pemimpin Redaksi Majalah National Geographic, kalau berita-berita media online yang serba cepat adalah tentang informasi, Jurnalisme Perlahan adalah ihwal pencarian makna sebuah peristiwa. Serba cepatnya informasi juga membuat kualitas jurnalisme mengalami penurunan. Merespon kondisi demikian, pada 2010 di Jerman muncul Slow Media Institute yang didirikan oleh sejumlah aktivis, akademisi, dan penerbit. Salah satu isi manifestonya adalah memperjuangkan kualitas jurnalisme. 

Sebagai contoh, praktik Jurnalisme Perlahan ini bisa kita lihat dari apa yang dilakukan oleh Paul Salopek. Wartawan pemenang penghargaan Pulitzer dan National Geographic Fellow ini sejak 2013 telah melakukan liputan panjang menyusuri jejak migrasi umat manusia ribuan tahun yang lalu. Ia akan berjalan kaki lebih dari 34.000 kilometer, mulai dari Ethiopia di Afrika sampai Tierra del Fuego di Amerika Selatan. Proyek liputan yang dinamaiOut of Eden ini diperkirakan akan menghabiskan waktu tujuh tahun, dari 2013 sampai 2020.

Kisah-kisah Paul Salopek tersebut bisa dinikmati di blognya. Lewat apa yang ia kerjakan, Salopek ingin menunjukkan bahwa Jurnalisme Perlahan tidak berarti cara penyajiannya juga lambat dan mengabaikan perkembangan teknologi. Sebagai contoh, selain menuliskan di National Geographic, ia menggunakan medium tercepat seperti media sosial blog dan Twitter untuk menyebarkan pengalamannya selama melakukan perjalanan.

Selain proyeknya Salopek, ada juga majalah yang bisa dijadikan contoh untuk menyebut genre Jurnalisme Perlahan ini. Delayed Gratification, majalah yang berbasis di London ini mengklaim sebagai majalah pertama yang menggunakan pendekatan Jurnalisme Perlahan. Majalah ini terbit untuk pertama kali pada 2010 dengan periode terbit setiap tiga bulan sekali.

Jika diperhatikan, isu-isu yang diangkat majalah ini tidak berbeda jauh dengan apa yang diangkat oleh media arus utama. Misalnya saja tentang kasus Wikileaks, revolusi Arab, ISIS, dan sebagainya. Bedanya, karena terbit tiga bulan sekali, jurnalis-jurnalis Delayed Gratification memiliki waktu cukup untuk menulis dan menyampaikan peristiwa secara lebih utuh dan mendalam. Waktu yang cukup juga memungkinkan jurnalis melakukan verifikasi ulang dan meminimalisir kesalahan yang terjadi.

Hikmat Darmawan dalam artikelnya di majalah Tempo, menyebutkan salah satu contoh Jurnalisme Perlahan adalah karya Joe Sacco, Catatan Kaki dari Gaza. Untuk menyelesaikan komik karyanya itu, wartawan kelahiran Malta tersebut menghabiskan waktu kurang lebih selama tujuh tahun. Ia mempelajari konflik puluhan tahun antara Israel dan Palestina dan menyelami sampai ke akar konflik di sana. Menurut Hikmat, melalui karyanya Sacco mencoba menautkan apa yang telah terjadi di masa lampau dengan apa yang terjadi di masa kini.    

Sebagai alternatif di tengah derasnya arus informasi yang menggerus kualitas jurnalisme, ihwal Jurnalisme Perlahan ini menarik untuk didiskusikan lebih jauh. Dengan kecenderungan media online yang mementingkan kecepatan dengan mengabaikan akurasi dan kedalaman, bisa jadi Jurnalisme Perlahan adalah masa depan jurnalisme. Adakah wartawan dan media di Indonesia yang mau mencobanya? (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)