Philip Kitley, penulis buku sejarah televisi Indonesia Television, Nation, and Culture In Indonesia, menyimpulkan bahwa jumlah pesawat televisi kala siaran pertama televisi di Indonesia tahun 1962 sangat sukar diketahui. Ia menyatakan bahwa data statistik televisi hasil pabrikan lokal dan pabrikan impor antara tahun 1962 hingga 1967, ia katakan sangat kurang (Philip Kitley, 2000:370). 

Lewat keterangan Sumartono kemudian, Kitley memastikan ada 10.000 pesawat dibeli pemerintah Indonesia dan dibagikan gratis bagi pegawai publik (PNS) kala siaran pertama itu. Pertama, agar tumbuh minat dalam menonton televisi. Kedua, harga televisi hampir tidak terbeli oleh warga Indonesia. Terang saja, sebab harga satuannya setara dua puluh gaji bulanan PNS Senior.

Produsen pesawat televisi apa yang ketiban ‘proyek televisi gratis’ untuk Asian Games 1962 itu?

Kompas  edisi 2 Juli 1965 dalam artikel berjudul “TVRI dan Penggemarnya” menyebut bahwa hingga 17 April 1965, pesawat televisi yang beredar di seluruh Indonesia berjumlah 35.219 buah (Sayangnya, Kitley tak membaca data ini). Dari sejumlah itu, yang paling banyak dimiliki masyarakat Indonesia adalah merek Ralin. Ralin muncul sebagai yang terbanyak karena, "...pertama disebabkan jang mula-mula keluar adalah merek ini, jaitu sedjumlah 10.000 buah sekaligus. Sebab kedua, mudah dan cepat diperbaiki kalau rusak, karena onderdil dan ahli-ahlinya lengkap ada di Indonesia". Jadi, dapat dipastikan bahwa Ralin adalah “televisi resmi” Asian Games 1962 Jakarta. Ralin sendiri ditulis oleh Kompas kala itu, sebagai bukan “barang impor”.

Siapa sebenarnya yang memproduksi pesawat televisi merek Ralin ini?

Ralin dibuat oleh PT Philips Ralin Electronics (PT PRE). Perusahaan ini awalnya adalah produsen lampu listrik pertama yang beroperasi di Indonesia. Ia berasal dari pabrik lampu elektrik yang dibangun pertama kali di Indonesia pada tahun 1940 oleh perusahaan elektronik tertua di dunia; Philips GFE of the Netherland. Philips sendiri masuk pasar Indonesia, ketika Indonesia masih dikenali sebagai Hindia Belanda. Dalam profil perusahaannya sekarang, PT Phillips mendaku telah masuk pasar Indonesia sejak 1895.

Hanya kemudian pada tahun 1968, perusahaan yang membuat pesawat televisi Ralin menjadi sebuah perusahaan kerjasama (joint venture) antara Philips GFE of The Netherland dan Pemerintah Indonesia. Philips menguasai 60 % dari keseluruhan saham dan pemerintah Indonesia mendapat 40%-nya. Kerjasama ini hanya terjadi setahun setelah munculnya Undang Undang Penanaman Modal Asing yang ditanda-tangani Presiden Soekarno 10 Januari 1967, kira-kira 40 hari sebelum seluruh urusan pemerintahan ia serahkan pada Soeharto di 20 Februari 1967.

Jadi, barangkali Kitley telah salah menganggap bahwa pesawat televisi yang mula-mula digunakan di Indonesia semata-mata adalah “barang impor”. Setidaknya, ada pesawat televisi yang sejak awalnya dibuat di Indonesia dan kemudian menjadi “barang produk Indonesia” karena pabrikannya dimodali uang negara. (REMOTIVI/Holy Rafika D.)